Rabu , 13 Desember 2017

Home » Editorial » 70 Tahun RI: Ayo Kerja!

70 Tahun RI: Ayo Kerja!

Agustus 17, 2015 3:04 pm Category: Editorial Leave a comment A+ / A-

Oleh

Mahda Zakiya Ahmad

Ayo kerja! Setidaknya tema ini adalah frasa yang tepat untuk membangkitkan semangat dan gairah  kemerdekaan kita yang mulai meredup di era reformasi ini. Setelah tiga setengah abad berkutat dengan bambu runcing dan senapan angin, akhirnya para pejuang dan rakyat negeri ini mulai dari Banda Aceh hingga ujung Papua saat itu dapat merasakan gegap gempita dan surga kemerdekaan tepat pada 17 Agustus 1945.

Kini, genap sudah Indonesia menginjak usia yang ke-70 tahun. Aroma perjuangan serta semangat 45 masih begitu pekat tercium oleh kita semua. Kenangan berupa figura, film dokumenter dan dokumentasi lainnya masih menjadi saksi betapa dahulu negeri ini pernah mati-matian berjuang demi mencapai satu kata, merdeka. Beton-beton, tugu-tugu, bambu serta tanah yang kita pijak saat ini turut menjadi saksi bisu haru biru tatkala sangsaka merah putih berkibar gagah di tanah Indonesia.

Di usia yang ke-70 tahun ini, Indonesia telah mengalami begitu banyak perubahan. Bangsa kita telah melewati berbagai goncangan dan fluktuasi di berbagai sisi. Bangsa kita juga pernah melewati masa-masa krisis pada awal kemerdekaan dan kembali terulang pada tahun 1998. Berbagai macam program di berbagai bidang oleh sederet presiden yang sampai saat ini silih berganti begitu mempengaruhi tumbuh berkembangnya Indonesia.

Mulai dari Ir. Soekarno yang berpengaruh besar menghapuskan gerakan Partai Komunis Indonesia melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang diberikan kepada Let. Jend. Soeharto. Pada masa Let. Jend. Soerharto perekonomian dan infrastruktur Indonesia berada pada puncak kejayaannya, ia berhasil membangun negara yang stabil dan sejahtera. Namun dibaliknya merupakan rezim terkorup sepanjang masa dengan jumlah $AS 15 miliar sampai $AS 35 miliar. Sepeninggal Let. Jen Soeharto, Bj. Habibie mewarisi kondisi pemerintahan kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto, maraknya kerusuhan dan disintergrasi terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.  Pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU otonomi daerah. Namun sayang, pada eranya pula Timor-timor terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelah Bj. Habibie mengundurkan diri, tampuk kepemimpinan disambut oleh H. Abdurrahman Wahid  atau Gus Dur. Pendiri Nahdatul Ulama (NU) ini fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren pada saat itu sehingga dapat menandingi sekolah sekular. Setelah Gus dur dicabut mandatnya oleh MPR-RI, maka secera resmi melalui Sidang Istimewa MPR, status Megawati Soekarno Putri yang semula menjabat sebagai wakil presiden naik tahta  menjadi presiden Republik Indonesia. Megawati dikenal sebagai sosok yang sangat demokratis, salah satunya dengan kebijakan pemilu langsung yang ia terapkan pada pemilu presiden dan wakil presiden periode 2004-2009. Pada saat itu Megawati dengan semangat konsolidasi demokrasinya harus rela menyerahkan tampuk kepeminpinannya kepada Soesilo Bammbang Yudhoyono. Pada masanya, SBY mecapai beberapa keberhasilan di bidang ekonomi, salah satunya pelunasan hutang kepada IMF. Namun, pada eranya pula, Indonesia mengalami krisis mental. Korupsi mulai berkembang pesat dan mulai terungkap satu persatu, lebih dari 500 pejabat diadili atas kasus ini. Dibalik keberhasilannya, SBY masih banyak menuai kritikan dari masyarakat karena berbagai hal seperti; kepastian hukum belum sepenuhnya terwujud, masih maraknya korupsi, birokrasi yang dianggap belum mencerminkan good governance, kerusakan lingkungan hidup, infrastruktur yang masih kurang memadai, serta biaya politik yang masih tinggi terutama dalam pilkada.

Sampai akhirnya kita berada pada era kepeminmpinan Joko Widodo yang telah berlangsung satu tahun. Joko Widodo melakukan berbagai macam gebrakan demi terwujudnya Indonesia merdeka yang sesuangguhnya dan sejahtera. Berbagi program seperti Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar ia luncurkan demi wajah baru Indonesia. Perbaikan di berbagai aspek seperti perbaikan infrastruktur dan sistem ekonomi juga Ia lakukan demi menyejahterakan rakyat kecil. Reshuffle kabinetpun ia lakukan, pergaintian menteri-menteri demi penyegaran, efektifitas dan efisiensi kerja kabinet sangatlah penting demi tercapainya tujuan negeri ini.

Meskipun demikian, tidak kita pungkiri, 70 tahun Indonesia merdeka masih begitu banyak persoalan yang harus kita hadapi seperti harga sembako kian tinggi, sumber daya alam semakin dikuasai asing, nilai rupiah kian melemah dan korupsi yang semakin merajalela.

70 tahun Indonesia merdeka,  begitu banyak yang telah diberikan pejuang dan pemimpin bangsa kita. Meskipun dengan coretan-coretan yang tentu tak luput dari pengamatan, mereka telah berjuang keras demi mewujudkan Indonesia merdeka yang sesungguhnya. Namun, tak sedikit dari kita yang kurang memaknai hari besar dan bersejarah ini. Tak sedikit dari kita yang hanya bertumpu pada goresan-goresan pemerintahan. Kita, seluruh rakyat Indonesia termasuk pemerintah dan pejabat negara di dalamnya, sudah sepatutnya sadar akan kesalahan kita. Sudah selayaknya kita mengintrospeksi diri dan melakukan perubahan di berbagai aspek kehidupan, revolusi mental. Sebab sesungguhnya persoalan pelik yang tengah kita hadapi bukanlah ekonomi, melainkan mental dan karakter. Kita membutuhkan ganerasi-generasi yang berkompeten, berkerja keras, penuh komitmen dan berkarakter untuk melanjutkan tongkat estafet kemerdekan yang telah dipertahankan para pejuang dan pemimpin bangsa kita dengan segala gonjang ganjing yang dihadapinya demi tercapainya tujuan negeri ini, demi terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat bangsa ini, demi tercapainya kejayaan bangsa ini dan demi terwujudnya keadilan di bumi pertiwi.

Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan untuk kita, tapi tanya apa yang telah kita berikan untuk negara.

Untuk itu, marilah kita memaknai HUT kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70 ini dengan semangat nasionalisme, jiwa patriotisme, revolusi mental, semangat pendidikan berkarakter, dan budi luhur para pejuang bangsa serta rasa cinta tanah air yang selalu membara demi mencapai Indonesia merdeka yang seutuhnya. Jayalah Indonesia-ku!

70 Tahun RI: Ayo Kerja! Reviewed by on . Oleh Mahda Zakiya Ahmad Ayo kerja! Setidaknya tema ini adalah frasa yang tepat untuk membangkitkan semangat dan gairah  kemerdekaan kita yang mulai meredup di e Oleh Mahda Zakiya Ahmad Ayo kerja! Setidaknya tema ini adalah frasa yang tepat untuk membangkitkan semangat dan gairah  kemerdekaan kita yang mulai meredup di e Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top