Seharusnya

Cerpen Oleh: Firda Azkia
Anggota Muda LPM Gema Justisia

Terik siang ini, aku masih menapaki jalan menuju rumah sepulang sekolah.
“Sudahku bilang Samar, kita tak usah pilih mereka lagi!”
“Jangan begitulah Pak Jaki, golput itu namanya”

Aku berhenti memperhatikan percakapan orang-orang tua di balai desa, lagi-lagi mereka membahas hal yang sama. Sudah dua hari semenjak kampanye untuk pemilihan para anggota legislatif dan ini berdampak pada desaku, banyak para calon yang berkoar-koar meneriakkan visi dan misinya, bahkan ada pula yang memberikan sembako pada rumah-rumah sekitar. Biar dikata merakyat, begitu pendapat Pak Jaki tetanggaku.

“Percuma kita memilih, setelah terpilih kita takkan dianggap macam tahun sebelumnya”
Lagi-lagi pak Jaki bersuara.
“Negara kita ini negara demokrasi pak, bagaimana pula kita tidak memilih?” Salah satu warga menanggapi perkataan Pak Jaki.
“Kalau menurut saya, kita tetap memilih saja, masalah janji kampanye itu terserah mereka setidaknya kita mentaati bentuk negara kita” Bapakku bersuara.

Desa kami berada jauh dari kota, jauh dari jalan raya, jauh dari mana-mana, jangankan Mall, menginjak aspal saja aku tak pernah, hanya beberapa kawan yang pernah ke kota dan menceritakan bagaimana bentuk jalan di sana pada kami dan bagaimana bangunan-bangunan di sana. Kami sekelas benar-benar takjub mendengarnya. Begitulah desaku jauh dari jangkauan pemerintah, ingin menonton tv saja kami harus pergi ke balai desa, dan jika masalah pemilihan para pemimpin akan digelar, penuh sudah kampungku dengan janji-janji manis para calonnya. Setelah dipilih, langsung lupa dengan desa kami, hal itulah yang membuat Pak Jaki kesal jika sudah masalah pilih memilih para caleg.

Tak kuat dengan terik matahari, aku pun kembali melanjutkan langkah menuju rumah. Di jalan, otakku berpikir kenapa para pemimpin suka mengumbar janji yang sekiranya tidak bisa mereka tepati? Membuat rakyat marah dan hilang kepercayaan macam Pak Jaki.

“Mak, bagaimana menurut mamak tentang Pemilu para caleg?” Tanyaku sambil menyendok nasi yang masih terkepul asap, baru dimasak mamak.

“Tersambar apa kau tadi, sampai bertanya tantang Pemilu Tora?” Mamak duduk disebelahku ikut menyendok nasi

“Jadi bagaimana menurut Mamak?”Aku mendesak
“Mamak kau ini setuju-setuju saja Tora asal negeri kita ini semakin membaik, tak penuh dengan janji-janji palsu saja, kita lihat positifnya dengan ada Pemilu berarti ada kampanye, jika ada kampanye desa kita tertimpa rezeki lebih, mereka sering memberi rumah-rumah sembako ataupun baju partai walau ada foto mereka, setidaknya kita bisa merasakan memakai baju baru” Mamak menjelaskan panjang lebar, belum mulai makan sebab kami masih menunggu bapak pulang.

“Tapi kenapa Pak Jaki tidak suka sekali Mak?”
“Itu pemikiran dia yang sempit, memang kenyataannya setelah mereka terpilih kita dilupakan tapi setidaknya kita tidak golput, negara kita ini negara demokrasi, macam mana pula kita jika golput makin kacau negara ini, kau pasti sudah belajar tentang pentingnya pilih memilih di sekolah” Lagi-lagi mamak menjelaskan.

“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Aku dan Mamak menjawab serentak, Bapak langsung duduk di kursi ikut menyendok nasi.
“Bagaimana hasil rapatnya Pak? Mamak bertanya
“Semuanya setuju untuk tetap ikut Pemilu kecuali Si Jaki, memang keras kepala sekali manusia satu itu sudah dijelaskan tapi tetap saja tidak mau dengar”
“Kita lihat bagaimana hasilnya saja Pak”
Mamak menyudahi percakapan.

Satu tahun kemudian.
Ternyata memang benar kata Bapak dan Mamak, tidak ada gunanya golput dan mencemooh janji-janji yang diumbar itu, karena masih ada para pemimpin yang terpilih yang menjalankan janjinya dengan baik. Seperti sekarang, kini aku tak perlu lagi mendengar cerita Borga tentang jalanan beraspal di kota, sebab kini desaku telah beraspal, listrik juga sudah mengalir di seluruh desa, sudah ada puskesmas terdekat dan imunisasi bagi balita, dan begitu pula pemikiran Pak Jaki mengenai Pemilu, kini ia mendukung penuh dengan keputusan pemerintah.

Ramadhan Berdarah

Terorisme di tanah ibu pertiwi tak kunjung sepi
Momentum Ramadhan dimanfaatkan
Mereka  sebut ini aksi bela agama
Lantas ajaran agama mana yang kau agung-agungkan?
Bukankah dahulu orang berhenti membunuh atas nama agama
Lalu sekarang manusia berbunuhan mengatas namakan agama

Bukankah Tuhan kita masih sama
Agama tidak pernah sekeji itu kawan
Lihatlah…ulahmu hanya membuat Ramadhan berdarah-darah
Mayat bergelimpangan
Korban berjatuhan
Anak-anak menangis sesenggukan

Bercak darah membasahi tanah ibu pertiwi
Harusnya Ramadhan kali ini kau masih dapat merasakan keberkahan
Tapi mati syahid salah kaprah yang kau lakukan hanya menimbulkan kecaman

Tenanglah…
Selama negara ini masih bernama NKRI
Aksimu tidak akan pernah mendapat tempat di negara ini

Karya : Arda Rahayu

Hilang

Oleh : Fifi Widia Sari.

Kreatif Gema Justisia.

Aku tersesat, genggamanku terlepas dalam lautan manusia seperti kumpulan semut. Pikiranku bingung, panik, entah mana yang depan dan belakang, mereka berlalu lalang dengan bentuk senyuman yang berbeda, detak jantung mereka cepat antara sesak atau mendapat sebuah kebahagiaan besar. Suara penasaran dan tawa mengelilingi kepalaku, menyelimuti rasa takut dalam diriku bahkan jiwa tidak berani untuk melangkah memindahkan tubuh ini. Jantungku merasa cemas dan tidak mau berdetak konstan. Aku tidak mendengarnya, harusnya ia menyadari ketidakberadaan dan mulai mencariku.

Aku berusaha berdiam mempertahankan tempat dimana aku tegak, hingga letusan indah yang hebat muncul, suaranya seperti senapan dalam perperangan. Beberapa dari mereka berteriak dan ada juga yang berlarian menyeretku dalam arusnya. Rasa sesal atas ketidakberdayaanku menguap, andai aku lebih besar, lebih cerdik atau lebih berani. Terlintas mungkin ada baiknya menyerah, menjatuhkan diri dan membuat kepanikan dimana akan ku lihat bagaimana sifat manusia sesungguhnya. Akankah mereka akan membawaku atau hanya mengabaikan hingga aku mati terinjak. Tapi aku hanya berjalan pelan, dengan langkah kaki pelan yang begitu kecil. Sedari tadi jari-jariku yang gemetar tak dapat ku hentikan.

Jadi, sampai kapan aku akan berada dalam posisi seperti ini? Ku arahkan pandangan ke tanah, ingin rasanya berjongkok dan menundukkan kepala. Aku ingin menangis, meskipun air mata tak akan keluar walau aku ingin memaksanya. Hanya saja, berada di sana mungkin lebih mengerikan, membayangkan diriku yang pada akhirnya tergeletak lumpuh. Ku hapuskan imajinasi bodoh dan mulai bergerak, mencoba menemukan sosok yang membawaku hilang dari pandangannya. Mungkin ia tak sadar, dan akupun tidak ingin memperluas rasa curiga serta kekecewaan terhadapnya. Berjalan di antara raksasa-raksasa yang melangkah abstrak, membuat rerumputan yang kokoh berubah menjadi kumpulan lumpur basah dan lengket. Ku tegakkan kepala, terlihat berbagai topeng-topeng wajah yang tidak aku kenali, entah topeng itu tulus atau mereka hanya menipu hati sendiri.

Seperti orang yang tersesat, aku linglung berlalu lalang kebingungan. Menelusuri semua wajah sangat merepotkan, berdesakkan layaknya kondisi stasiun di hari raya terasa panas dan sesak meski aku tau di balik jaket ini pastinya dingin. Kemudian ku genggam tangan dalam saku, menutupinya sampai tidak ada kulit lengan yang mengenai angin. Menoleh ke kanan dan kiri, berapa pun cahaya yang hidup aku tetap tidak mengenal arah di malam hari. Aku ingin popcorn, akan sangat menyanangkan memakannya di suhu yang seperti ini. Memperdaya diriku sendiri tidak terlalu buruk, setidaknya aku berusaha bertahan dalam benturan-benturan keramaian. Benda keras menyakut di kakiku membuat tubuhku jatuh mengotori lutut dan lengan baju. Seketika itu air mataku mengalir tanpa harus kupikirkan.Tapi hanya itu. Aku membangkitkan tubuh kecil ini lagi, dan mengembalikan posisiku. Aku terus berjalan, mencoba mencari jalan paling tidak keluar dari kumpulan manusia.

Setiap waktu yang ku gunakan tidak ada habisnya. Seolah-olah semua yang kulakukan hanya sia-sia. Suara-suara bising membuat kepalaku sakit. Aku ingin pergi menjauh dari tempat ini, membayangkan diri berada dalam lapangan rumput yang sejuk hanya tipuan yang percuma. Sekilas aku melihat bayangannya, menajamkan mata hingga ku temukan telapak tangannya melambai-lambai di langit. Aku melangkah mendekatinya. Kuturunkan pandangan, dan aku memandang. Wajah cemasnya berubah menjadi senyum yang melega dan kemudian tertawa seketika. Ingin sekali diriku berlari dan memukulinya dengan sekuat tenaga, tapi hal yang ku lakukan justru menangis dengan keras. Itu sangat memalukan ketika semua orang terheran menatapku. Sejak itu, aku benci keramaian dan suara bising.

Kata Burung.

Oleh : Nikko Anderson.

Anggota Kajian Strategis Gema Justisia.

Dia papan mading sekolah.
Bukan tulisan-tulisan baru ku tunggu.
Bukan pula gambar mega dunia.
Apalagi ultimatum pemberontakan kemeja.
Tengah mendesak tiap-tiap lebah yang memadu.
Sambil mempertengkar sanubari.
Belum lagi ku pandangi.
Barangkali ia berjaga waktu.
Karena gaguku kambuh mengintai.

Kiranya senja tengah lelah berjemur.
Mekar bunga yang entah apa namanya.
Kembali berbisik dianjung bata.
Hijau taman dan patung ikan pun lelah meski bersuka.
Papan mading…
Tak biasanya sendiri meninggalkan sepi.
Lebih lagi waktu yang terbebas.
Berhura ku sangka dalam gelisah.

Menanti angin pun merenunglah lenganku.
Sesekali ia bercerita keluh.
Sedang lemari tengah asik bergulat pribahasa.
Agar kelak rambut di kepala berhenti menjahili kulitnya.

Semeter dua meter.
Atau barangkali setengah lebihnya.
Ku pandangi propaganda kanak-kanak.
Berebut mandat dan tugas modal.
Sampai kapan aku di sini.
Yang jelas bangku di sudut dan gelangan kaki-kaki.
Begitu asik bercengkrama.

Biarlah kali ini aku bermohon.
Menunggumu begitu menyiksa..cinta…
Ketus arloji buyut sesekali menjepit pekaku.
Hingga sadarku berkata.
Kau bukanlah kehadiran.
Sekadar mimpi yang bercinta.

Memori Batas Bau

Oleh: Mahda Zakiya Ahmad

Pimpinan Redaksi Gema Justisia

Sebuah sedan hitam melintas tepat di depanku, melewati genangan air dengan kecepatan sekitar 75 km/jam. Sial, percikan air itu mengotori bajuku. 15 menit lagi aku harus sudah sampai di sebuah kafe di salah satu pemukiman padat penduduk ini. Aku telah membuat janji dengan Glen untuk makan siang dengannya hari ini, tapi rasanya tidak mungkin dengan keadaan seperti ini. Gaun merahku sekarang terlihat kumal, persis seperti gadis kanibal di film serial pembunuhan berantai. Ini kali pertama aku bertemu dengan Glen, aku mengenalnya di jejaring media sosial, di foto dia terlihat tampan dan berusia sekitar 35 tahun. Awalnya aku ragu untuk memilihnya di awal musim ini, sebab kurasa aku tak terlalu membutuhkannya. Ah, tapi apa boleh buat, wangi tubuhnya selalu mengundangku untuk segera menemuinya.

Kulihat ia tengah sibuk memperhatikan jam tangannya dan sesekali menoleh ke belakang. Aku sudah sampai di depan kafe itu 10 menit yang lalu, tapi aku ragu untuk menemuinya. Gaunku masih terlihat basah dan kotor, rambutku juga jadi berantakan setelah terkena percikan air tadi. Akhirnya, aku memutuskan untuk menemuinya, berjalan perlahan ke meja nomor dua sambil melambai ke arahnya. Glen tersenyum kepadaku, sepertinya dia tak menyadari penampilanku yang berantakan hari ini. “Oh, jadi kamu yang namanya Nata?”, ucap Glen sembari menjabat tanganku. Sialnya, aku terlihat sangat gugup sekali di depan pria berambut pirang ini, “Hehe, aku boleh duduk?”, tanyaku pada Glen. “Oh yaa, tentu, silahkan Nata, kamu mau pesan apa?”, jawab Glen sembari menarwarkanku makan. “Tidak, aku sudah makan barusan, barangkali kopi panas saja”, jawabku.

Glen memanggil pelayan kafe tersebut dan meminta untuk segera dibuatkan pesanannya. Sebenarnya aku tidak terlalu tertantang dengan Glen, sebab dia terlihat seperti lelaki yang agak bodoh dan gampang dikibuli, stylenya juga agak aneh dan lucu. Hanya saja aku begitu tertarik dengan wangi tubuhnya. Aku pernah mencium bau yang seperti ini, aromanya sedikit menggiurkan. Sebetulnya aku memiliki beberapa memori dengan bau ini, aku terseret ke beberapa tahun silam dengan perlambatan waktu sepersekian detik. Daaaar! Aku terhempas pada lantai licin dan lembab, penuh dengan genangan, entah mengapa perasaanku mendadak emosi, kesal dan bahagia.

Sepertinya ruangan itu adalah sebuah labor biologi, aku tertarik ke masa SMA-ku tepatnya di kelas 2.10. Aku dan Nina adalah sepasang berlian cemerlang bagi guru-guru kami, mengikuti berbagai olimpiade nasional dan internasional. Bedah membedah sudah menjadi keahlian kami. Seluk beluk organ tubuh bermacam-macam binatang adalah hal yang paling kami sukai. Entah kenapa aku begitu menyukai mencari tahu isi dibalik kulit-kulit dan cangkang itu, terlebih dikala musim hujan dan mendung seperti sekarang.

Ah, lamunan ini sudah membuatku semakin jauh dengan Glen. “Nata”, sapa glen memastikan kalau aku masih mendengarkannya. Aku kembali pada percepatan sepersekian detik dan semua memori itu hilang, “Eh iya, maaf Glen”, jawabku. Pandanganku langsung beralih pada cangkir kopi di depanku. Ternyata sedari tadi kopi ini sudah ada di hadapanku. “Nata, hal apa yang paling kamu sukai di dunia ini?”, tanya Glen mulai mencairkan suasana. “Aku tidak begitu tertarik dengan apapun kecuali dengan bebauan”, “Maksudmu?”,

“Aku ini mirip seperti penderita alzheimer, aku kesulitan mengingat kenangan-kenangan masa lalu”, “Berarti kau sama sekali tidak ingat dengan masa kecilmu?”, “Tergantung”, “Maksudmu?”, “Jika pada saat itu ada bau khas melekat dengan kejadian itu, maka aku akan ingat setiap detailnya” “Aneh, aku masih belum mengerti dan aku belum pernah mendengar yang seperti itu”, “Kau tau, aku sudah menghabiskan ribuan botol parfum untuk bisa menyimpan kenangan-kenanganku di masa lalu”, “Apa hanya bau parfum saja? “,

“Tidak, bau busuk, bau anyir, bau keringat, bau bangkai, dan bau-bau aneh lainnya, ketika aku mencium sesuatu dan bau itu persis seperti bau yang melekat pada kejadian masa laluku, maka syaraf-syaraf memori otakku akan bekerja dan langsung memicu perasaan sedih, gembira, kecewa, benci, dendam, takut, tergantung pada peristiwa apa yang aku alami pada saat itu”, “Lalu, apa kau ingat setiap detailnya?”,

“Awalnya ingatan itu hanya seperti bayangan hitam saja, kadang seperti melintas, seperti halusinasi, aku tau kalau ada beberapa orang dalam peristiwa itu, namun aku tidak bisa merangkai garis-garis wajahnya, ketika aku mencium untuk yang ketiga kali dan keempat kalinya, aku akan ingat setiap incinya, baju apa yang aku kenakan saat itu, siapa saja yang kutemui hari itu, tulisan-tulisan apa saja yang aku lihat di tempat itu, bahkan aku ingat warnanya dan bentuknya”,”Apa itu tidak bisa disembuhkan?”,

“Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, hanya saja untuk membuat syaraf-syaraf ingatan itu berfungsi kembali aku harus mencium bau yang persis dengan bau yang ada pada kejadian itu”, “Jadi, kau selalu punya cadangan botol parfum yang kau gunakan sejak kecil di rumahmu?”, “Tepat sekali, aku masih menyimpan Carolina Herrera keluaran 1998 yang pernah aku pakai saat aku pergi ke acara ulang tahun temanku semasa SD dulu, hari yang sangat menyebalkan, sayangnya aku kehilangan beberapa memori karena wangi parfum tersebut sudah berbeda”, “Apa kau hanya terpicu dengan bebauan seperti bau dari parfum-parfum yang kau miliki?”,

“Tidak, ketika aku berjumpa, bersenggolan, bertatap muka, berjabat tangan, berpelukan dengan seseorang yang memakai parfum yang identik dengan yang pernah aku gunakan dulu, maka syaraf-syaraf ingatanku akan berfungsi kembali, ketika itu aku akan terhenti dan mengendus-endus beberapa kali seperti anjing pelacak untuk memastikan bahwa aku telah memberi label tersendiri untuk bau itu di memoriku”, “Jadi, itu sebabnya kau tadi terdiam, sampai-sampai kau tidak sadar kalau kopi panasmu sudah diantar?”, “Hehe, sepertinya begitu, sudahlah lebih baik kita minum saja”.

Aku pun mulai mengalihkan pembicaraan, “Kelihatannya kau pria yang cerdas, apa kau dulu pernah ikut olimpiade internasional?”, “Tentu belum bisa dikatakan cerdas, karena aku masih merasa belum puas dengan pencapaian ku saat ini, tapi tunggu dulu, dari mana kau tau aku pernah mengikuti olimpiade?”, “Haha, jangan terlalu serius, aku hanya melihat di jejaring sosialmu”, “Loh, aku kira kamu juga bisa melihat ingatan orang lain”,

“Sebetulnya batas antara kita dan orang lain itu hanyalah diri kita sendiri, meskipun kamu tidak pernah menyampaikan sepatah katapun, jika kamu menekan ingatanmu ke alam bawah sadar dan secara batiniah mentransformasikan data-data tentang kejadian yang kau alami pada orang yg ada di hadapanmu, maka hal itu bukanlah sesuatu yang sulit, “Jadi, maksudmu, aku baru saja mentransformasikan data-dataku padamu? “,

“Hahaha, Glen, kan aku sudah bilang, jangan terlalu serius, aku hanya mencari tahu dari akun media sosialmu, yang aku katakan tadi hanya teori saja, “Apa kau pernah belajar filsafat?”, “Sejujurnya aku suka filsafat, aku punya beberapa koleksi buku tentang itu, aku juga selalu mencari tau tentang penyakitku ini yang tidak bisa dijelaskan secara ilmu kedokteran, namun entah kenapa setiap selesai membaca buku-buku itu kepalaku menjadi sangat pusing. “Apa kau punya binatang peliharaan?” “Tentu saja, anjing, aku sangat membutuhkan anjing, dia sangat membantuku ketika aku lupa dimana aku menaruh barang-barangku”,

“Kau orang yang begitu antusias Glen, jiwamu penuh ambisi”, “Benar, aku selalu ingin tahu dan aku tidak akan berhenti sebelum aku mengetahui hal itu, “Sebab itu kau menemuiku?”, “Yaa, aku akan mencari tau tentang penyakitmu ini”, “Aku pernah punya seorang teman sepertimu yang selalu punya mimpi besar, dia rajin, pintar, dan juga ambisius sepertimu”, “Maksudmu Nina?”, “Yaa, dia teman terdekatku semasa SMA, sayangnya dia sudah tidak di sini lagi”, “Maksudmu dia pindah keluar kota?”, “Tidak, dia sudah tidak di dunia ini lagi”,

“Oh, maaf Nata”, “Tidak apa-apa Glen, aku pernah bertengkar hebat dengannya, suatu hari kami ikut dalam olimpiade sains nasional, kami berdua jadi utusan, kami masuk pada babak final, sehari berikutnya namaku keluar sebagai pemenang, Nina yang mengetahui hal itu sangat marah dan kesal kepadaku, sejak itu dia tak pernah menyapaku lagi, beberapa minggu kemudian dia mendatangiku dan kami bertengkar hebat”, “Maaf Nata, apa kau menyesal dengan kejadian itu?”, “Tidak, aku tidak pernah menyesali sesuatu yang terjadi karena hal yang tidak ku inginkan”, “Tunggu, kenapa kau bisa ingat dengan kejadian itu, apa bau yang melekat pada kejadian itu juga ada pada saat ini?”, “Yaa, aku rasa begitu”

Aku semakin tidak karuan dengan bau tersebut. Baunya semakin menyengat dan semakin menekan memoriku untuk memutar ulang kejadian di labor biologi pada hari itu. Aku benci, aku benci sekali dengan bau ini, bau ini membuatku terbawa emosi. Nampaknya Glen masih kebingungan dengan penjelasan-penjelasan yang kuberi tadi. Ia memutar-mutar sendoknya dan menatap tajam ke arahku. “Mengapa kau melihatku seperti itu?”.

“Tidak apa-apa, aku terpikir untuk melakukan penelitian dengan kasusmu ini”. “Maaf Glen, aku rasa kita bertemu bukan untuk membahas soal itu”, “Betul Nata, tapi aku sangat penasaran dengan apa yang kau alami ini dan aku berharap aku bisa membantumu”, “Tak perlu Glen, sejauh ini, aku merasa baik-baik saja, aku tidak kehilangan ingatanku, aku juga bisa menceritakan kenangan-kenanganku seperti orang lain”, “Hhmm”. Glen bangkit dari kursinya dan tiba-tiba dia merintih, “Ah, sial!

“Kenapa Glen?”, “Aku tak sadar kalau dari tadi luka di perutku ini terbuka kembali, lihat, bajuku telah dipenuhi dengan darah”. Sontak aku kaget, ternyata bau ini yang kucari-cari dari tadi . “Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja?”, “Ya, sebaiknya begitu, aku takut lukanya semakin parah”, “Ngomong-ngomong darimana kau mendapatkan luka itu?”, “Sebaiknya kita ke rumah sakit dulu, nanti akan ku ceritakan”. “Baiklah”. Glen pun mengambil mobilnya dan kami melesat ke rumah sakit. “I got you Glen!”

Beginilah Kalau Sudah Larut Malam

Oleh: Mahda Zakiya Ahmad

Pimpinan Redaksi Gema Justisia

Kapan matamu mulai bisa terpejam? Apa ada sesuatu yang masih kau pikirkan, masih ada yang perlu untuk kau lupakan atau masihkah ada yang patut untuk kau tinggalkan? Kenapa kau tak bisa terlelap? Kau sudah menunggu dari pukul sebelas dan sekarang sudah pukul dua. Kadang dapatkah beberapa pil membantumu?

Kau ingat tentang hari-hari yang kau jalani bukan? Tentang masalalumu, mimpi-mimpimu, masa kecilmu? Kenapa semuanya hadir di malam selarut ini? Saat kau sedang tak beraktivitas, tak ada yang mampu menekan memorimu untuk kembali ke ribuan detik lalu. Masa-masa dimana kau sangat bahagia, masa-masa dimana kau selalu dekat dengan orang yang kau kasihi.

Rasanya di malam selarut itu jua, beberapa tahun silam, kau masih tetap memikirkan itu. Kau masih berputar kesana kemari dan gulingmu kau dekap erat-erat. Pertanyaannya, apa kau bisa melupakannya? Sudah berapa ratus malam yang kau habiskan untuk itu. Percayalah, larut malam bukanlah waktu yang pas untuk melupakan.

Lantas bagaimana? Setiap malam aku teringat dengan kisah-kisah dulu, canda-tawaku bersamanya, raut wajahnya, gerak bibirnya. Di larut malam tak ada yang bicara kepadaku, tak ada yang menggangguku sehingga otakku tak dapat berhenti melukisnya.

Aku sudah membuang semua yang pantas untuk ku buang. Aku sudah menghapus semua yang pantas ku hapus. Tapi kenapa di larut malam aku ciut dengan bantal dan tumpukan tisu. Aku sudah menekan ingatanku dalam-dalam. Sudah kuusahakan agar tidak menyebut dan mendengar namanya. Sudah ku upayakan agar tak bertemu dengannya, tapi di larut malam, disaat ku mulai menghitung domba, air mataku menetes satu persatu. Bertambah menitnya, bertambah deras pula tangisannya. Kadang kusumpal hidungku dengan tisu, dan kubungkam mulutku agar aku tidak ketahuan aku sedang menangis.

Pukul 02.00, aku masih berkutat dengan laptop di atas pahaku. Menonton film yang sekiranya bisa membantu ku bosan dan segera terlelap. Sebab itu aku punya banyak koleksi film. Di larut malam, aku tertidur. Aku tak mengerti dengan alurnya, tetapi mengapa di saat aku benar-benar merindukannya, dia tidak pernah hadir di mimpiku dan di saat aku lengah, aku memimpikannya.

Pernah terbangun dengan perasaan sangat bahagia? Saat kau bangun kau hanya duduk saja dan menatap sudut-sudut kamar membayangkan apa yang tengah kau mimpikan semalam. Hanya mimpi biasa, bergandeng tangan dengannya, tapi tak akan pernah kaurasakan di dunia nyata. Pernah terbangun dengan air mata? Kau terbangun, tetapi mimpi kau sebelumnya bersamanya dan kau kembali tidur, tetapi kau dapati sudah tidak dengan dirinya. Ketika kau terbangun dan kau sadar, di malam selarut itu kau tengah bersamanya, mungkin kau akan meminta mimpi itu diulang dan kau reka-reka apa yang akan kau lakukan bersamanya.

Selimutmu sudah kau tarik ulur, sudah kau kibaskan, sudah kau tutupi mukamu dengan itu, kadangkau tekan kepalamu kuat-kuat dengan tanganmu. Kau pakai penutup mata, kau lakukan berbagai cara. Akan tetapi dibalik kelopak matamu masih ada wajahnya, semyumnya, guratan-guratan dahinya. Kadang sudah kau coba beberapa pil, namun itu tidak bekerja.

Kau tahu mengapa di larut malam kau selalu begitu?. Kau terlalu keras melupakannya. Kau terlalu keras berusaha. Semakin kau melupakannya, semakin bayangnya menekannmu ke sisi terdalam. Karena itu jangan sesekali melupakannya. Apalagi, di malam selarut ini.

Riz..

Hari-hari basah, hujan, peluh, cipratan ludah enam pemuda pengangguran, benar-benar perpaduan sempurna untuk menciptakan kepenatan duniawi tiap pukul delapan lewat tiga puluh malam di kontrakan sederhana dengan tiga jendela kaca besar di bagian depan. Tubuhku menghempas bebas tanpa peduli keruntuhan yang mungkin saja terjadi pada tempat tidur tua, kedua tangan membuka lebar seakan menanti seseorang untuk dipeluk dan bebaskan diri dari segala penat ini. Kegiatan menatap loteng dengan cat kusam ini ku lakukan tak lebih dari tiga puluh menit hingga terkumpul sedikit tenaga untuk melepas ikatan simpul tali sepatu kets belang hitam putih yang selalu setia menemani tiga bulan terakhir.

Butuh waktu satu jam lebih bagiku untuk merasa jijik dengan diri sendiri, jikalau kembali ingat perjalanan pulang melelahkan tadi. Hujan mendera semaunya tak pedulikan insan yang sudah dalam kondisi lemah sepertiku untuk harus menikmati hadirnya tiap hari, kendaraan lalu lalang menghalau genangan air berwarna dan setidaknya ada satu ember yang mengenai tubuhku tiap harinya. Itu belum dihitung jutaan tetesan peluh yang sudah meluncur dengan dahsyatnya semenjak pagi, apalagi enam pemuda jobless yang entah mengapa hobi mendekatkan wajahnya padaku saat bernyanyi diiringi petikan gitar tiap melewati mulut gang sempit. Kalau dikalkulasikan, bisa jadi cipratan ludah mereka paling tidak mengenai wajahku satu gelas air mineral perharinya.

Detail? Ya aku memang orang yang detail. Untuk mengisi waktu luang bahkan aku menghitung jumlah komedo setiap harinya yang akhir-akhir ini semakin bertambah karna kesibukanku yang melupakan begitu saja masalah perawatan wajah. Aku juga menghitung berapa orang yang tersenyum padaku setiap harinya, hanya sebagai penilaian dari hari ke hari, apakah aku menjadi orang yang lebih baik jika dilihat dari respon balik orang terhadapku. Aku pemerhati? Jelas! Itulah yang membuatku menjadi orang yang detail, dan detail itu adalah salah satu modal bagiku untuk pekerjaan yang sangat menggairahkan dan sekaligus melelahkan ini.

Aku menggeluti dunia ini sudah lebih dari sepuluh tahun, dimulai sejak masih kuliah. Berlari ke sana kemari, itu adalah hobiku. Aku selalu bersaing dengan siapapun yang terkadang sebenarnya hanya khayalanku saja, bahkan aku bersaing dengan angin karna bisa saja dia merebut apa yang tengah ku kejar. Yang terlebih konyol, aku bisa mengatakan bahwa aku bersaing dengan diriku sendiri untuk mendapatkan yang ku mau, terserah kau lah bagaimana mengartikan statement terakhirku.

Saat memulai karier, tentu saja yang terbayang olehku adalah loncatan demi loncatan perlahan yang kulakukan untuk dapat sampai ke titik puncak tertinggi. Sayang, aku kurang konsisten, setelah hampir sampai ke atas, aku ingin kembali ke bawah, bermain-main kembali dengan yang namanya kepenatan tiada tara tiap harinya, kotor, keringat, hina bina orang, aku ingin kembali. Dan ku  putuskan sejak tiga bulan yang lalu untuk berhenti sementara dari pekerjaanku di depan monitor kantor, entahlah, jika ku kembali esok, mereka akan menerimaku atau tidak terserah.

Tas kecil berisi pena, notes kecil, recorder dan yang terpenting juga kamera selalu menemani hari-hari melelahkanku. Sepasang kets hitam putih yang mulai lusuh juga menjadi sahabat paling setia yang mengantarku berlari berpacu melawan angin atau bayangku sendiri, loncat sana kemari menghindari lobang-lobang hitam kehidupan. Apapun itu namanya, ku perhatikan, karna dengan memperhatikan, aku memahami dan segala sesuatunya dapat ku ketahui begitu saja lalu melahirkan prolematika yang begitu menarik untukku proses menjadi sesuatu hal kecil bernama karya. Hal kecil itu bisa membumihanguskan peluh dan kotoran yang melekat di tubuhku ketika memandangnya, hal kecil itulah yang membuatku masih bisa memuja diriku sendiri dengan apa yang telah ku hasilkan.

Selalu begini, membayangkan proses terciptanya begitu banyak kotoran di tubuhku membuatku kembali membalik segala apa yang terjadi seharian penuh tadi. Itu cukup membuatku tertawa-tawa sendiri mengingat kejadian-kejadian aneh yang begitu kreatif berganti setiap harinya. Segala bayangan berakhir senyuman itu mengakhiri kegiatan mengumpulkan lebih banyak tenagaku dan mendorong tubuhku kasar ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Ku putar kran setinggi perutku ke kanan dan titik-titik kecil air dalam jumlah banyak melompat berhamburan turun empat jengkal dari atas kepalaku, berdesakan dengan titik-titik air kecil selanjutnya yang juga ingin segera sampai di lantai marmer berpola papan catur. Mataku sedikit terpejam saat mencoba menatap adegan rebutan si titik-titik air yang bergitu ramai itu, hampir sama seperti siang tadi. Benar, hanya saja jumlahnya lebih banyak dan lebih rapat daripada ini. Saat tiga buah motor sport yang tengah berpacu melintasiku dengan angkuhnya, menatap lurus ke depan sambil membungkukkan badan, meliuk-liuk di keramaian jalanan, hingga tak sadar bahwa aku adalah manusia. Mungkin anggapan mereka aku hanya tiang listrik yang kebetulan bergeser sedikit mendekati jalan raya.

Aku tersenyum pahit tetapi diam-diam menikmati, kali ke seratus terkena cipratan air kotor di jalan ini membuatku terbiasa. Ku biarkan saja berapapun banyaknya air kotor itu yang menempel karna percaya, titik-titik air langit di atas akan bantu mengusirnya jauh ke jalan, menuruni daratan yang lebih rendah dan berakhir entah dimana. Begitu pula kotoran yang saat ini dengan sangat nyata berbetah-betah menempel di tubuhku, titik-titik air di atas tentu tau sekarang apa tugasnya.

Pukul sepuluh lewat lima malam, mataku masih pemanasan untuk tidur, walaupun sudah sedikit melayang-layang, aku tetap belum tidur seutuhnya. Telingaku masih dapat menangkap suara-suara kecil di sekitar, apalagi suara besar yang terdengar dari pintu depan kontrakan sekarang. Aku segera bangun, meraih jaket dan segera menuju pintu depan, tempat keriuhan yang berhasil mengganggu pemanasan tidurku. Tidak ada siapapun di depan, aku melangkah dan berusaha memperlebar pandangan, jangan-jangan pelaku pengetukan pintu kontrakanku barusan masih berada di sekitar. Nyatanya, yang kudapati hanya sebuah kotak kecil tepat di atas keset selamat datang yang setengah bagiannya mulai robek.

Aku meraih kotak kecil tersebut dan berjalan beberapa langkah ke depan, tempat pembuangan sampah. Dari dua puluh empat jam sehari, inilah yang paling ku benci, mendapatkan berbagai terror-teror yang terus berusaha menghancurkan niatku akan riset yang tengah ku lakukan. Ini adalah kotak kelima yang ku dapatkan, berisi surat ancaman, atau bangkai binatang, atau darah segar, benar-benar berniat menciutkan nyaliku untuk terus melanjutkan pekerjaanku. Dari awal, sudah banyak orang-orang yang dengan sangat nyata menunjukkan ketidaksukaannya akan apa yang tengah ku lakukan. Namun ini jaman penuh kebebasan bukan, dan sesuatu yang tengah coba ku selidiki adalah sesuatu yang sepantasnya di-expose ke publik.

Masyarakat di pinggiran kota ini seolah menutup mata dengan sesuatu yang jelas salah di hadapan mereka. Dan aku turun ke sini, rela tinggal selama tiga bulan terakhir di kontrakan sederhana ini, hanya demi memperoleh data yang valid untukku publikasikan saat semuanya telah lengkap. Kegiatanku mengunjungi berbagai tempat di sini setiap hari, bertanya siapa saja yang ku rasa cocok untuk ditanyai, membuat masyarakat risih. Mereka benar-benar tau sebuah kesalahan besar ini, namun tak ingin mencoba berurusan dengan ular tidur ini. Mereka hanya membiarkan ular itu terus tidur di sana tanpa berusaha menyingkirkannya.

Dan seharusnya mereka tau, semenjak aku memutuskan terjun ke dunia ini, aku benar-benar tak pernah gentar dengan segala apa yang ku yakini kebenarannya. Sebut saja suap pejabat, siapapun pejabatnya, aku tak pernah mau menghindar atau mundur darinya, karna aku bekerja untuk mengungkap kebenaran, bukan malah mengabaikannya. Jadi terserah dengan semuanya, mau menaruh bangkai berdarah lagi di kotak ini terserah saja, mau menggedor pintu kontrakanku semalaman suntuk sampai pintunya bolong terserah saja. Toh, selama aku tidak melakukan kesalahan, tidak melanggar hukum manusia atau hukum Tuhan, aku tidak akan pernah takut.

Namun hal inilah yang tidak disukai orangtuaku sama sekali. Mereka sama saja dengan orang-orang di sekitar lokalisasi ini, sebaiknya tidak usah bermain api jika tak ingin terbakar. Justru aku ingin memadamkan apinya segera, menyelesaikan segala kekacauan ini. Mencari tau mengapa tempat maksiat ini bisa beroperasi terang-terangan. Apa tidak mungkin ada sesuatu dibaliknya, mungkin juga suap menyuap birokrasi, siapa tau. Bahkan ada alasan yang menyebutkan bahwa tidak ada peraturan perundang-undangan yang melarang bisnis lokalisasi. Aku benar-benar hanya bisa tertawa miris, apalagi riset ku menemukan bahwa tempat ini bukan tempat pelayanan nafsu semata, secara professional mereka bisa menyembunyikan kasus narkoba bahkan human trafficking. Itu yang tidak diketahui publik, bukan. Dan aku di sini adalah untuk hal tersebut, bathinku benar-benar resah dengan segala bentuk ‘persilahkan’ terhadap kejahatan ini.

Sekarang dataku hampir lengkap dan hanya bersifat finishing, semuanya telah terdokumentasi di laptop dan kameraku. Tiga hari lagi aku bisa angkat kaki dari tempat kotor ini, semuanya hanya tinggal dipublikasikan. Usai membuang kotak kecil tanpa rasa penasaran ingin melihat isinya terlebih dahulu, aku melangkah masuk kembali ke kontrakan. Satu langkah di depan pintu, kakiku berhenti melangkah karna mendengar suara kaki-kaki berlari kencang menuju arahku. Tanpa sempat menoleh ke belakang, kurasakan kekuatan yang begitu besar mengungkungku. Menghalangi pandanganku hingga semuanya gelap, membekap mulutku hingga tak bisa teriak.

Tubuhku dibopong, dibawa entah kemana. Terdengar kelakar banyak orang sepanjang perjalanan membawaku ke tujuan yang tak bisa ku tebak. Dan ketika salah satu dari mereka memutuskan untuk membuka kain hitam penutup mataku, yang ku tau aku berada di hadapan belasan laki-laki kekar yang biasa ku temui di sekitar lokalisasi, di dalam sebuah ruangan pengap penuh benda-benda bekas berserakan. Salah satu dari mereka memegang laptopku, mengacak-acak datanya dan mengeluh kesal setiap kali tidak menemukan apa yang dicarinya. Dan ketika pada akhirnya dia tertawa keras, aku tau bahwa dia berhasil menemukan file yang ku kerjakan tak kurang dari tiga bulan terakhir. Semuanya menghadiahkanku tatapan hina, padahal dengan amat jelas, akulah yang seharusnya menghadiahkan mereka tatapan tersebut.

Tulisan di dalam file itu mulai dibacakan keras-keras oleh pria berkumis tebal, dia akan tertawa jika menemukan kata-kata yang menurutnya lucu padahal tidak sama sekali, dan yang lain pun juga ikut tertawa. Dan ketika kata-kata yang terucap merupakan hal yang memburukkan atau menyudutkan mereka dan mengungkap kejahatan mereka yang tidak diketahui khalayak, maka beberapa pria dengan sangat siap menendangku, menampar, bahkan melemparkan benda-benda keras setiap kali kalimatku difikirnya benar-benar buruk. Aku tak bisa teriak tiap kali itu terjadi, tak bisa berontak saat laptopku dengan gampangnya dilempar ke dinding hingga pecah, begitu juga kameraku. Aku hanya mengerang, berdoa, berharap aku masih punya kesempatan untuk menyampaikan apa yang telah ku ketahui ini ke masyarakat luas.

Kursi kayu terakhir dilemparkan tepat mengenai kepalaku setelah aku menolak untuk meminta maaf dan malah meludahi pria yang menawarkan perdamaian padaku. Jelas aku tak bisa berdamai dengan kejahatan, tak bisa kompromi dengan kegelapan, benar-benar tak ada toleransi. Seketika ku rasakan cairan panas kental  mengalir dari kepalaku, kepalaku benar-benar pusing, pandanganku mulai pudar. Yang ku tau selanjutnya, tubuhku disirami air, bukan, baunya bensin. Semuanya kembali tertawa melihatku mandi bensin dan hanya terkulai lemas tak berdaya. Sekali lagi pria itu menawarkan perdamaian dan aku tetap menolak dengan gelengan pelan tanpa tenaga.

Ketukan sepatu ke lantai terdengar jelas mendekatiku, berirama, sangat lamban. Lihatlah, apa yang orang lain tau di luar, hanya sekedar lokalisasi biasa? Lalu apa yang tengah mereka lakukan terhadapku sekarang? Apa mungkin hanya aku seorang, atau sudah banyak orang-orang sebelumku? Apa ini masih dapat dimaafkan orang-orang sekitar sini? Apakah mereka masih dapat dibenarkan dengan alasan mencari nafkah?

Sebelum cerita ini benar-benar berakhir, ada baiknya ku perkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Riz, seorang jurnalis, dan lebih menyukai investigasi. Sangat tertantang untuk menilik langsung ke lapangan peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan tujuan bukan hanya memberi tau khalayak, namun juga menghentikan apa yang seharusnya tidak boleh dilanjutkan. Aku bekerja bukan untuk mencari uang semata, namun ku benar-benar ingin berperan di masyarakat dengan pekerjaanku.

Tapi, apa yang orang lain tau? Aku ini hanyalah seorang anak ingusan yang suka ikut campur hal yang bukan urusannya. Apa mereka tau masalah sindikat narkoba, apa mereka tau masalah perdagangan manusia di sini, di samping lokalisasi? Tidak, tidak sebelum ada orang yang berniat menggantikanku. Mungkin yang orang lain tau besok hanyalah sesosok mayat perempuan terbakar di sebuah gudang barang bekas. Atau bahkan, orang-orang juga tidak akan tau?

**Riz

Merdeka Dalam Suram

Oleh : Septianingsih

Hari ini, dalam rentetan kejadian peristiwa

Ibu pertiwi masih di rulung duka

Di rumahnya nan megah ini, masih bayak tikus- tikus pencabik

Yang akan menggerogoti jantungnya….

MERDEKA???

Siapa yang sebenarnya MERDEKA?

Ibu pertiwi masih merontokkan hujan dari kedua sudut matanya

Sekolah-sekolah rusak !

Manusia keriput penjaja lauk !

Muda-mudi jelata penghuni aspal !

Para jantung hati yang kelaparan, butuh susu !

Rumah-rumah yang masih tidak bercahaya !

MERDEKA???

Siapa yang sebenarnya MERDEKA?

Kau lihat saja, Ibu pertiwiku semakin meronta-ronta

Tangisnya semakin raung….

Raungannya membumi, melantun ke angkasa…

Suram…….

Mendung….

Semoga bukan para tikus pencabik yang kau maksud !

MERDEKA !

Janji Jeriko Part. 2

Nining pulang dengan wajah bingung sekaligus kesal walaupun ia berhasil membawa pulang obat asam urat dan belanjaannya. Ia bingung kenapa kartu-kartunya tidak bisa digunakan. Sesampainya di rumah, ditemuinya Jeriko yang sedang menyapu halaman. Melihat istrinya pulang, Jeriko melemparkan senyum yang diperkirakannya sebagai senyuman terindahnya, Nining malah membalas senyuman Jeriko dengan mulut monyong.

“loh loh Istriku kok pulang-pulang bawa moncong bebek begitu…” Canda Jeriko menyambut Nining.

“Huuu Mas! Masa kartuku ditolak perawat puskesmas sama Mas Ucup!” Nining mengadukan kejadian yang menimpa dirinya pagi itu.

“Loh? Iya? Ya sudah ndak apa-apa. Ra urus  itu. Aku udah kasih cash lima ratus ribu kan tadi? Cukup buat sehari kan, Sayang?” Jeriko menjawab cuek hal yang yang membuat Nining kesal.

“tapi kan mas, aku…”

“Nanti aku tambahi tiga ratus ribu yaaa, mmuuaah”

Kemudian hening.

***

Sebulan sudah bahtera rumah tangga Jeriko dan Nining berlayar. Nining bahagia sekali bersuamikan Jeriko yang sangat sempurna di matanya. Tak pernah ia merasa kekurangan dari segi apapun. Nining benar-benar merasa berkecukupan lahir batin. Hingga suatu hari…

“Ning, ini untuk kebutuhan hari ini ya…” Jeriko menyerahkan sebuah amplop putih ke tangan Nining.

Nining kemudian membuka amplop tersebut dan menemukan uang tiga ratus ribu rupiah. “Loh mas! Kok Cuma tiga ratus?!” Nining protes.

“Istriku… kita harus berhemat dulu. Jajanmu aku alihkan sebagian untuk tabungan beli rumah kita, beli mobil kita, beli tanah untuk investasi juga…” Jeriko menjelaskan perihal pengurangan jajan Nining tersebut dengan hati-hati. Nining cemberut.

                Berhari-hari ia bersikap dingin kepada Jeriko. Selalu muka masam yang didapat Jeriko. Apapun yang dikatakan Jeriko, Nining selalu menjawab ketus. Seperti hari ini…

Nining menaruh lauk makan siang dengan sekenanya saja di hadapan Jeriko. Lalu mengambil piring untuk makannya sendiri. Tak dilayaninya suaminya yang akan makan siang juga bersamanya. Jeriko berusaha membuka percakapan.

“masak apa, Istriku?”

“Ga usah banyak tanya, makan aja!” Nining menjawab ketus sambil terus mengunyah.

“Tahu, Tempe, sama sambel terasi? Kok ini aja, Ning?” Jeriko kecewa melihat menu makan siangnya.

“Nah itu, kurang jajan ya kurang lauk!”

                Akhirnya Jeriko menyerah, ia tak tahan akan perang dingin yang dikobarkan Nining. Terlebih lagi makannya jadi tak enak semenjak Nining hanya mau menyediakan tempe, tahu, dan terasi.

“Sayang, ini uang untuk kebutuhan hari ini. Hemat-hemat ya istriku…” Jeriko menyodorkan amplop putih kepada Nining. Tapi raut wajah Nining tak menyiratkan apa-apa. Dengan ogah-ogahan ia terima amplop itu. Semenjak jatahnya dikurangi, Nining tak lagi menunjukkan ketertarikan terhadap amplop putih yang diberi Jeriko setiap pagi. Nining membuka amplopnya, dan menemukan uang Rp. 480.000. ia melotot meminta penjelasan kepada Jeriko.

“Istriku, kita harus tetap menabung untuk beli rumah, mobil, dan investasi…” Jeriko menjelaskan dengan sangat hati-hati. Nining diam saja. Setidaknya jajannya sudah dinaikkan lagi. Mulai hari itu, lauk makan siang Jeriko juga berubah. Sekarang ada telur ceplok di meja makan. Kadang-kadang ikan goreng lado hijau.

Hari itu, Jeriko pulang dengan wajah sumringah. Entah darimana dia, tapi sepanjang jalan, matanya tak lepas-lepas memangdang batu akik di jari manis tangan kirinya. Nining yang melihat kepulangan suaminya dari halaman rumah agak bingung melihat suaminya berjalan tak memandang jalan seperti itu. Sampai berjarak dua meter di hadapan Nining pun ia tak juga mengalihkan pandangannya.

“Mas! Kok jalannya seperti itu?” hardik Nining.

“eh, Ning! Lihat.. aku dapat batu bagus!” Jeriko memamerkan batu yang menghias jarinya.

“berapa duit?”

“sejuta..” jawab Jeriko santai.

“BAGUS! Jajanku dikurang, kamu beli batu buluk begini satu juta?! Katanya mau nabung?! MAS!!!”

Jeriko hampir saja melompat mendengar Nining berteriak histeris seperti itu. Setelah menguasai keadaan, ia menjawab, “Hmm,, yaa nanti kupelajari lagi alasanku kenapa beli batu ini…” kemudian berlalu ke dalam rumah.

Setelah kemarahan Nining itu, Jeriko menjual kembali batunya. Ia tak ingin isterinya itu marah-marah terus.

                Namun, seperti tak ada habis-habisnya Jeriko berulah. Kali ini ia kembali mengurangi jajan Nining. Nining hanya menerima 400 ribu. Katanya kali ini dialihkan untuk asuransi jiwa mereka nanti. Bukannya menabung, Jeriko malah lagi-lagi membeli batu akik. Ia sudah mengumpulkan sekitar dua puluh batu. Dengan beragam warna dan corak, harganya pun selangit.

                Berkali-kali Nining ngamuk ketika batu baru dibawa pulang oleh Jeriko. Tapi kali Ini, Jeriko hanya menanggapi cuek kemarahan Nining. Tak jadi soal lagi olehnya. Ia tahu Nining marah hanya sebentar. Tiga hari cukup. Dan ia sudah kebal.

***

                Siang itu, Nining pamit kepada suaminya mau ke rumah orangtuanya. Nining ingin bertemu ibunya, ingin menceritakan beban hidupnya mempunyai suami seorang akikers. Setelah mendengar duduk permasalahannya, ibu Nining memeluk anak semata wayangnya tersebut.

“Anakku, itulah gunanya pernikahan… memberi kesempatan kepada dua insan untuk saling memahami,” berdiri bulu kuduk Nining mendengar ucapan Ibunya. Kalimat yang sama seperti yang diucapkannya kepada Wiwik sehari sebelum ia menikah.

“Jangan terlalu cepat menyebut keburukan suamimu, Nduk… kalian baru tiga bulan. Masih banyak waktu untuk saling memahami, nanti jika sudah lima tahun, baru bisa kamu kritisi. Sekarang pelajari dulu suamimu, cari kebaikannya…”

***

                Nining pulang ke rumah kecilnya dengan Jeriko. Sepanjang perjalanan ia memikirkan nasihat ibunya. Ia akan bersabar, pikirnya. Mas Jeriko itu dasarnya baik….

“Guk!!!” seekor anjing buldog menghardik Nining ketika ia menginjakkan kakinya di halaman rumah. Nining kaget bukan kepalang. Terlebih lagi ia tak begitu suka dengan yang namanya anjing.

“Mas! Maaaaassss!”

Jeriko mendengar isterinya berteriak dari halaman, segera mematikan kompor yang sedang ia gunakan untuk merebus air. Kemudian segera ia hampiri isterinya di halaman.

“Ada apa, Ning? Kok pulang bukannya assalamualaikum malah teriak-teriak?”

“INI ANJING SIAPA?”

“anjing kita…”

“kamu tahu aku nggak suka anjing?” Nining melotot.

“Tapi ini titipan Mommy, kata Mommy buat jaga rumah kita…” Jeriko mencoba menjelaskan.

Nining diam, ia kehabisan kata. Bagaimana mungkin ia menolak titipan mertuanya. Lama ia patut-patut anjing gendut itu. Sepertinya ia kenal…

“INI ANJING YANG NYURI DAGING BELANJAANKU DI PASAR KEMARIN!!! Kamu mau pakai anjing pencuri untuk jaga rumah kita?!” lagi-lagi Nining kumat.

Enam bulan mereka menikah, semakin nyeleneh Nining rasa kehidupan pernikahannya. Dan ia tak bisa berbuat banyak. Ia ingat nasihat ibunya, ia akan bersabar. Ini baru enam bulan. Nining menginginkan buah hati untuk pelipur kehidupan nyelenehnya. Enam bulan sudah, tapi belum ada tanda-tanda rezeki yang satu itu akan mendatanginya. Ia sudah memeriksakan diri ke puskesmas, ia subur. Apa yang salah, kenapa belum juga…

Nining mengurungkan niatnya untuk meminta Jeriko memeriksakan diri ke puskesmas. Ini baru enam bulan, tak patut aku mendesak-desak mas Jeriko. Setelah dua tahun baru akan kuminta, batin Nining.

Penulis, Jenni Desebrina Gultom

Wartawan Gema Justisia

Janji Jeriko Part. 1

Pak Amat akhirnya menikahkan puteri semata wayangnya yang sudah hampir terkategori perawan tua. Anehnya, prosesi pernikahan ini seperti terlalu tergesa-gesa. Tahu-tahu sudah berdiri tenda biru di halaman rumah Pak Amat. Warga desa pun mengaku kaget mendengar kabar pernikahan gadis 27 tahun bernama Nining tersebut. Siapa pengantin prianya, tak ada yang begitu jelas tahu. Kabar yang tersiar, pengantin pria dadakan itu bernama Jeriko.

Padahal biasanya, seolah sudah menjadi hukum tak tertulis warga kenal baik siapa orang yang akan menjadi bagian dari kampungnya sebelum pengukuhannya. Keluarga yang punya perhelatan akan membawa serta semua warga kampung untuk jadi panitia perhelatan akbar mereka mulai dari acara lamaran hingga resepsi pernikahan selesai. Jadi warga pun akan tahu bibit bobot bebet si pria beruntung. Hal ini segera saja menjadi pembicaraan hangat dimana-mana, seperti sayur penting favorit para ibu-ibu yang membuatnya lama berdiri mengelilingi gerobak sayur mas Ucup yang biasa mangkal di depan rumah pak RT. “Bu-Ibu, ba’da juma’at besok akadnya si Nining loh”, seorang ibu pertengahan 30 tahun memulai diskusi sayur favorit. “Nining anaknya pak Amat? Akad apa maksud sampean, buk Tin?”, umpan disambut. “iya dek Cici, akad nikah lah. Masa akad jual kambing”, wanita pemberi umpan yang bernama Tin tadi menimpali pertanyaan Cici, yang pengantin baru satu bulan. “kok kita ndak tau yaa bu-ibu? Harusnya kan kita sudah jauh-jauh hari bikin berantakan dapur di rumah pak Amat. Aneh ya..” perempuan ceking berkulit kuning yang sedari tadi sibuk memilah-milah wortel untuk salad favorit suaminya berdesis heran. Ibu-ibu yang lain bergumam mengamini pernyataan rekan diskusi kesayuran mereka.

Atau jadi pengganti kue kering yang menemani kopi bapak-bapak dan pemuda-pemuda setengah menganggur yang suka ngobrol ngalor-ngidul di warung kopi topi mbak Yu. “pak Sobirin, nanti malam ke rumah pak Amat lah kita ya, bantu-bantu menghias kita dulu. Kan besok si Nining menikah”. Ucok yang berprofesi sebagai security kampung mengajak Lelaki tambun berkumis jarang dan beruban di hadapannya yang tengah menikmati rokok tembakau hasil karya ciptanya sendiri. “jangan ngawur kau, Cok! Kabar burung bisu mana pula yang kau tangkap?” Pak Sobirin tak mempercayai apa yang baru didengarnya dari Ucok. Memang selama ini Ucok sering sekali  ngawur omongannya, tapi itu pula yang sering mengundang tawa di bawah jerami atap pos keamanan kampung. “benar pak Sobirin, tadi saya lewat depan rumah pak Amat ada tenda biru. lalu bu Endah istrinya Pak Amat nyamperin saya pak, dia titip pesan begitu”. Ucok sepertinya kali ini tidak sedang ngawur. Pak Sobirin mengernyitkan dahinya, entah karena bingung akan kabar yang baru diterimanya atau mungkin tertelan asap rokoknya sendiri. “kenapa tiba-tiba sekali ya, Cok? Pengantin Prianya sudah ada toh?” tanya pak Sobirin masih dengan dahi yang mengernyit. “ya jelas ada lah pak e. Moso si Nining mau jabat tangan penghulu sendiri”, sambil berkata begitu, mulut ucok monyong-monyong karena baru saja menyeruput kopi yang terlalu panas. “tapi saya heran saja, Cok. Kan aneh ini. Apa si Nining sudah curi start duluan yaa…”

Harusnya, pernikahan adalah kabar yang membahagiakan, tapi pernikahan Nining sepertinya menimbulkan dampak laten berupa praduga-praduga negatif dari warga kampung. Ya wajar saja mereka merasa aneh. Mereka tak pernah merasa dilibatkan dalam persiapan apapun terkait pernikahan itu. Tiba-tiba saja tersiar kabar. Harusnya mereka sudah akrab dengan Jeriko. Ini malah tahu namanya saja sudah bagus sekali. Siapa Jeriko? Orang mana? Kenapa selama ini tak pernah terdengar apapun tentangnya? Jeriko, kamu siapa?

***

Malam itu, malam sebelum pernikahan Nining, rumah Pak Amat terlihat lebih ramai dari biasanya. Rupanya warga kampung penasaran dengan kebenaran kabar pernikahan Nining si Perempuan nyaris Perawan Tua. Alih-alih hanya ingin mengetahui kebenaran, para warga malah tertahan di rumah Pak Amat. Ternyata kabar itu benar, tenda biru sudah gagah berdiri di halaman berlantai tanah tersebut. Mungkin karena memang warga kampung Inglis semuanya berdarah sosial dan ringan tangan, ketika mengetahui kebenaran kabar pernikahan Nining, para warga langsung turun tangan ikut menyiapkan event akbar keluarga Pak Amat.

 “Wah Pak Amat.. akhirnya lepas juga si Nining yaaa! Lega ya, Pak!” Pak Sarjani yang merupakan teman kecil Pak Amat sampai berkaca-kaca ketika mengungkapkan perasaannya tersebut. Bagaimanapun ia juga ikut menyaksikan pertumbuhan Nining sejak gadis berkulit sawo matang tersebut berpisah dari ari-arinya. Nining sudah ia anggap anaknya sendiri. Tentu ia bahagia mendengar kabar Nining akan dipersunting seseorang.

“tapi Pak Amat, kok tiba-tiba sekali yaa…” Pak Midun berkomentar disela-sela rokok di bibirnya sembari tangannya tetap cekatan memindah-mindahkan kursi tamu.

“Hehe Alhamdulillah ya Bapak-bapak… “ Pak Amat hanya nyengir memperlihatkan gigi-giginya.

“Siapa pria beruntung itu, Pak? Siapa?!” Oji yang daritadi diam saja akhirnya bersuara, itupun suaranya bergetar. Ternyata Oji adalah mantan kekasih Nining.

***

“Assalamualaikum!” seorang Pria berkemeja putih dengan lengan dilipat sampai siku dipadukan dengan celana hitam berdiri di halaman rumah Pak Amat. Seketika warga mengalihkan perhatiannya ke orang yang baru datang tersebut. Pria ini berkulit sawo matang, sama dengan Ninig. Kurus, sama dengan Nining. Urat-uratnya terlihat memberontak dibalik kulitnya menandakan ia seorang pekerja keras.

“Waalaikumsalam! Wah nak Jeriko… mari masuk!” pak Amat menyambut ramah pria yang kira-kira berusia dua puluhan akhir yang menjadi pusat perhatian warga tersebut.

“Makasih pak, tapi kayaknya aku ndak usah masuk. Ini Cuma mau nganter titipan Mommy buat Ibu, Pak,” pemuda yang ternyata bernama Jeriko tersebut menolak halus ajakan Pak Amat.

“Loh, kok gitu, Nak? Masuk dulu toh. Ayo ayoo,” Pak Amat mempertahankan keramahannya.

“Benar pak, ini kita di rumah juga lagi persiapan buat besok. Banyak pekerjaan di rumah, Pak. Saya sebenarnya ingin sekali disini lebih lama…” Jeriko lagi-lagi menolak halus.

“Oh iya, ya sudah hati-hati di jalan, Nak Jeriko! Salam untuk Mommymu ya…” akhirnya Pak Amat menyerah.

“Iya pak, nanti disampaikan. Saya pamit dulu pak, bapak-bapak semua saya pamit dulu. Terima kasih sekali bapak-bapak mau bantu-bantu di sini… ini saya bawakan teman kopi buat bapak-bapak…” Jeriko pamit namun tak hanya pada Pak Amat tapi juga kepada semua bapak disana. Ia bahkan menyalami mereka satu-persatu. Warga terpana dibuatnya.

Bapak-bapak itu memandangi takjub punggung Jeriko sampai menghilang bersama motor bebeknya. Setelah habis kekagumannya, Pak Sobirin menghampiri Pak Amat.
“Santun sekali, siapa itu, Pak Amat?”

“Ya itu, calon menantuku!” seru Pak Amat sambil mengintip bungkusan yang diberi Jeriko tadi.

*

 “Mbak Ning, calonnya mbak kerja apa toh?” Wiwik melanjutkan interogasinya yang tak kunjung habis daritadi.

“Sebelumnya, dia itu Lurah di desa Maja…”

“wah, Hebat ya, masih muda sudah Lurah!” Ayu berdecak kagum.

“Desa Maja dimana sih mbak?” Wiwik ini benar-benar detail ternyata, atau memang dia tak tahu keberadaan Desa Maja tersebut.

“Desa Maja yang di Kecamatan Sukajanji itu, Wik,” Nining menjelaskan.

“sekarang dia kerja apa toh, Mbak?” Wiwik benar-benar cocok jadi wartawan. Ia tak pernah kehabisan pertanyaan.

Yang ditanya malah menundukkan wajah sambil tersenyum konyol.

“Katanya Mas Jeriko, setelah menikah sama Aku, dia nggak mau jadi Lurah lagi. Dia mau fokus ngurusi cinta kami”

“Haah?!”

“ia berjanji hanya akan hidup untuk kebahagiaanku. Ia menjanjikan hidup yang berkecukupan lahir batin untukku…”

***

Akhirnya Jeriko dan Nining resmi menjadi sepasang suami-istri. sehari setelah menikah, Jeriko memberi Nining tiga buah kartu.

“apa ini, Mas? Nining bingung menimang-nimang kartu di tangannya.
Jeriko mengambil salah-satu kartu di tangan Nining. “Ini namanya Kartu Isteri Sehat, kalo kamu sakit, perlu ke puskemas, kamu bawa kartu ini. Semua obat yang kamu bawa pulang ndak usah bayar, ditanggung sama kartu ini,” Jeriko menjelaskan kegunaan kartu yang diberikannya pada sang istri tercinta. Mata Nining langsung berbinar mendengar keaktan kartu di tangannya.

“benar, Mas? Kalo yang Ini?” Nining menunjukkan kartu lainnya kepada Jeriko.

Jeriko dengan sabarnya menjelaskan dengan lemah lembut, “Ini Kartu Isteri Sejahtera, nanti kamu belanja sayur ke Mas Ucup, ndak usah bayar…”

“Tunjukin kartu ini aja, Mas?” suara Nining mulai terdengar meninggi, terbawa semangatnya.

“Pinter Istriku sayang. Mmuuaah,”

“Nah, yang ini gimana Mas?” Nining penasaran dengan kartu terakhir.

“ini buat anak-anak Kita nanti, namanya Kartu Anak Pintar. Untuk biaya sekolah mereka nanti,”

                Nining bahagia sekali, ia tak menyangka suaminya sudah mempersiapkan semua tentang kehidupan pernikahan mereka sedemikian rupa. Ia merasa seolah menjadi wanita paling beruntung mendapat suami seperti Jeriko. Ditambah lagi sikap Jeriko yang romantis, lemah lembut, dan santun tak hanya kepadanya, tapi juga kepada orangtuanya dan warga kampung.

Pagi itu, setelah mendapat kartu sakti dari Jeriko, Nining berniat ke Puskesmas mengambil obat asam urat. Nining memang punya riwayat penyakit asam urat dan persediaan obatnya sudah habis.

“wah pengantin baru! Kok pagi-pagi sudah ke puskesmas? Mau urus KB ya?” sapa Teh Ninih, Bidan di Puskesmas kampung Inglis.

“Hehe bukan, Teh. Mau ambil obat asam urat,” jawab Nining sopan.

“Wah wah baru sehari jadi pengantin kok udah asam urat aja, Ning?” goda Teh Ninih.

Yang digoda hanya senyum-senyum saja. Setelah mendapat obatnya, Nining mengurus administrasinya. Ia menunjukkan kartu Isteri Sehat yang diberi suaminya tadi. Perawat yang melayaninya heran.

“Ini apa, Mbak Nining?”

“Kartu Isteri Sehat, Mbak. Kata suami saya bawa ini aja kalo ke puskesmas.” Nining menjelaskan seperti yang dikatakan Jeriko.

Perawat yang melayani Nining hanya ternganga. Ia tak mengerti apa yang dimaksud Nining.

“mbak Nining bawa kartu bpjsnya kan? Pake bpjs aja, Mbak” si Perawat menolak karu sakti Nining dengan hati-hati.

*

Sepulangnya dari puskesmas, Nining mampir di gerobak sayur Mas Ucup. Ternyata Gerobak mas Ucup sudah dikerubungi ibu-ibu kampung Inglis.

“pagi ibu-ibu… belanja juga yaa…” sapa Nining kkemudian sibuk memilah-milah dagangan mas Ucup.

“Wah Neng borong yaa…” mas Ucup berdecak melihat Ninig yang hampir memborong semua dagangannya.

“hehe aku mau masak spesial buat suamiku, Mas…” cengir Ninig.

“ciee yang pengantin baru…”

“nih, Mas Ucup,” Nining menyodorkan Kartu Istri Sejahtera. Mas Ucup heran memandang kartu di tangannya.

“Maksudnya apa ya, Neng?”

“Aku bayar pakai kartu ini, Mas Ucup. Kata suamiku pake kartu ini aja bayarnya,” jelas Nining

Ibu-ibu yang juga belanja di Mas Ucup ikut memperhatikan kartu yang Nining berikan kepada Mas Ucup.

“Mbak Nining kalo mau ngutang bilang aja, walau ngutangnya mborong gitu juga gapapa kok. Saya bolehin asal ntar dibayar. Tapi jangan becandai saya pake beginian dong…”

***