Debat Capres Cawapres FHUA: Program Beasiswa Untuk Bantu Mahasiswa

Pasangan calon presiden dan wakil presiden negara mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas

GEMAJUSTISIA.COM, PADANG- Panitia Pemilihan Umun (PPU) FHUA 2019 telah selesai mengadakan debat capres dan cawapres dengan tema “Pemuda Sebagai Aset Penerus Bangsa”, pada Senin(25/3/2019). Pada debat kali ini, terdapat 3 panelis yang berkompeten dalam bidangnya, yakni Romi, Beni Kurnia Ilahi dan Ari Wiriadinata. Debat tersebut terdiri atas 5 sesi dan berlangsung kurang lebih selama 2 jam.


Pada debat kali ini, tampak hal yang cukup menarik terkait program yang disampaikan kedua pasangan calon, salah satunya adalah terkait beasiswa. Kedua kandidat sama-sama mencantumkan beasiswa sebagai program yang akan diangkat pada masa kepemimpinannya. Terkait dengan beasiswa ini, Ari sebagai panelis menanyakan tentang keunggulan beasiswa masing-masing paslon.

Paslon 01 Aziz-Diki menamai program beasiswa ini dengan “Beasiswa Gotong Royong”. Beasiswa gotong royong ini merupakan salah satu dari lima program unggulan paslon 01.


“Latar belakang dari beasiswa ini adalah hubungan alumni yang perlu di tingkatkan, yang merupakan salah satu aspek dari sumber beasiswa ini”, ungkap D Aziz selaku Capres paslon 01. Kemudian mengenai sumber beasiswa itu sendiri adalah sumbangan alumni, kemudia mahasiswa aktif yang mampu serta surplus dana dari program BEM akan di sumbangkan sebanyak 5% “. Lanjutnya.


D aziz sebagai calon presma FHUA juga mengungkapkan, “kita analogikan saja jika ada empat angkatan yang aktif dan setiap angkatan ada 200 orang yang lebih mampu dikali 4 menjadi 800 orang, dan ditambah angkatan yang masih ada dan lebih mampu sekitar 200 orang maka jumlahnya sudah 1000. Kita akan buka ladang amal kira-kira 20.000 saja dan dikali 1000 sudah 20.000.000, itu konkrit dan realistis serta mampu membantu teman-teman kita yang kurang mampu”.


Keunggulan program ini disampaikan oleh Diki sebagai Cawapres FHUA yaitu meningkatkan hubungan dengan alumni dan meningkatkan kepedulian antara sesama mahasiswa FHUA.


Selanjutnya, paslon 02 juga menamai program beasiswa ini dengan nama beasiswa BEM, “kami ingin mengadakan start up, bahwa start up ini akan mengakomodir segala kebutuhan-kebutuhan mahasiswa yang mana ada dalam start up tersebut yang kemudian akan disalurkan kepada beasiswa BEM”, ungkap CH. Idzan, Capres nomor urut 02.

Sumber dari beasiswa BEM ini bersumber dari keuntungan Menteri Perekonomian dan Bisnis sebagai pergerakan perubahan yang akan dicanangkan paslon 02.


Jodi, cawapres 02 juga menambahkan terkait beasiswa BEM tersebut, “beasiswa ini masuk dalam poin no. 7 misi kita yakni menumbuh kembangkan jiwa kreatifitas dan kewirausahaan, untuk kedepannya kami akan bekerja sama dengan AIl developer yang ada di Kota Padang akan diadakan semacam bukalapak hukum, jadi disana akan ada apapun yang dibutuhkan semacam proses perkuliahan, proses di organisasi, nanti akan kita akan mewadahi itu. Surplus dana itu akan dialokasikan ke beasiswa BEM. Kemudian terkait dengan alumni, kami akan bekerja sama.”


Program beasiswa yang direncankan oleh kedua paslon memang menjadi program bagus yang dapat membantu mahasiswa. Harapan mahasiswa tentu bukan kata semata, tapi memang ada pelaksanaan yang matang dari para pemimpin nanti untuk mengusahakan apa yang telah mereka janjikan.


Reporter: Bunga Syahrita
Editor: Aulya Maharani

Pemilu FHUA, Paslon Aziz-Diki: Butuh Kemantapan Hati Menerima Amanah

Pasangan Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 1 pemilahan presiden BEM FHUA 2019

GEMAJUSTISIA.COM, Padang- Setelah mewawancarai Pasangan Calon (Paslon) Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02, dalam kesempatan kali ini Gema Justisia juga berhasil mewawancarai Paslon nomor urut 01 Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden D Aziz Abdul Latif dan Diki Wahyudi.

Saat diwawancarai mengenai motivasinya mencalonkan diri, paslon nomor urut 01 ini menyebutkan motivasinya untuk mencalonkan diri dalam pemilu FHUA adalah Lillah karena Allah SWT.

“Dari awal tidak ada ambisi pribadi untuk mendapatkan jabatan ini dan benar-benar Lillah karena Allah SWT”, ujar Diki.

Saat dipilih oleh partai KAM-PK, D Aziz Abdul Latif dan Diki Wahyudi, tidak langsung mengiyakan pencalonan tersebut, mereka membutuhkan waktu untuk memantapkan hati dalam menerima amanah ini.

“Setelah berembuk bersama-sama dengan kesepakatan bersama, dan hasilnya yang keluar pertama nama Aziz, kemudian tidak langsung di-iya-kan, jadi Aziz pun juga perlu waktu untuk mengiyakan amanah-amanah tersebut, itupun diberi waktu untuk sholat dulu, berdo’a dulu, meminta keyakinan hati, dan ridho dari orang tua dulu, dan akhirnya baru Aziz mengiyakan begitupun dengan saya sendiri”, jelas Diki.

Sementara itu, saat ditanya mengenai gebrakan yang akan dilakukan jika terpilih untuk melakukan perubahan di Negara Mahasiswa Fakultas Hukum

Diki mengatakan,
“Tentunya di dalam visi dan misi kami memiliki gebrakan-gebrakan baru, sebagaimana yang kita ketahui saat ini untuk BEM telah banyak gebrakan-gebrakan baru yang ada, selain meneruskan tren positif tersebut, kami memiliki dua aspek program, yang pertama dinamakan program tetap. Terkait dengan apa-apa saja yang telah BEM lakukan yang tidak ada pada tahun sebelumnya akan kami teruskan, yang kedua adalah program unggulan yakni program yang belum ada pada BEM saat ini atau yang sudah ada namun belum terlaksana”.

Sebelum menutup wawancara diki berpesan, siapapun yang terpilih nantinya kita harus satukan suara untuk kemajuan FHUA.
Reporter: Merlina
Editor: Aulya Maharani

Mengenal Lebih Dekat Capres dan Cawapres Nomor Urut 2

Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden BEM FHUA Nomor Urut 2 Pada Pemilu 2019

GEMA JUSTISIA.COM,PADANG- Fakultas Hukum Universitas Andalas (FHUA) akan kembali melaksanakan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FHUA periode 2019/2020 pada 27 Maret 2019 mendatang.


Sama dengan pemilu sebelumnya, tahun ini pun pemilihan presiden BEM FHUA kembali akan diikuti oleh dua pasangan dari dua Kelompok Aspirasi Mahasiswa (KAM), yaitu KAM Peduli Kampus (KAM PK) dengan nomor urut 1 mengusung capres cawapres D Aziz Abdul Latif dan Diki Wahyudi. Sementara itu, KAM Solidaritas Mahasiswa (KAM SOMASI) dengan nomor urut 2 mengusung pasangan Capres dan Cawapres CH Idzan Falaqi Harmer dan Jodi Purnama Putra.

Beberapa waktu lalu Tim Gema Justisia berkesempatan untuk mewawancarai pasangan calon (Paslon) nomor urut 2 CH Idzan Falaqi Harmer (Aci) dan Jodi Purnama Putra.


Dalam wawancara tersebut, paslon nomor urut 2 ini menyampaikan bahwa motivasinya mencalonkan diri sebagai presiden dan wakil presiden BEM FHUA ini adalah sebagai ladang amal.


“Banyak hal yang sudah didapat selama 3 tahun kuliah disini, tentunya dengan apa yang sudah didapat tersebut ingin diamalkan dalam lingkungan kampus, termasuk ingin mewujudkan amanat tri darma perguruan tinggi. Tak luput dari itu semua, ini adalah waktunya untuk mencari ladang amal di kampus. Berladang amal dalam upaya menebar kebaikan,” ungkap Aci yang pernah menjuarai lomba debat tingkat nasional pada 2017 lalu.


Ketika ditanya mengenai persiapan menuju pemilu, paslon nomor urut 2 ini menjawab bahwa setiap proses yang telah dilalui adalah persiapan.


Selain itu, Jodi selaku calon wakil presiden menyatakan bahwasanya mahasiswa sekarang ini sangat minim aktivitas dalam dunia pergerakan, “Ketika ada kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah atau bahkan pihak kampus sendiri, kita cenderung tidak mau bergerak, padahal kita punya gedung PKM sebagai rumah kedua, rumah untuk berdiskusi dan juga berkegiatan. Sebagai mahasiswa harusnya peka terhadap isu-isu yang berbau sosial, ekonomi, politik dan hukum,” ujarnya.


Pada akhir wawancara paslon ini berharap mahasiswa negara FHUA antusias dan ikut serta mendukung pemilu, agar terselenggaraanya kesuksesan pemilu yang diidamkan.


Reporter: Atika Lersia dan Syarif Agustinal
Editor: Aulya Maharani

Sepenggal Kisah Pahlawan Emansipasi

Ibu kita Kartini, putri sejati
putri Indonesia, harum namanya

ibu kita Kartini, pendekar bangsa
pendekar kaumnya untuk merdeka”

…..

Sepenggal lirik lagu di atas selalu mengingatkan kita akan sosok pahlawan emansipasi wanita negara ini, Raden Ajeng Kartini. Siapa yang tidak kenal dengan Kartini, wanita keturunan ningrat kelahiran JeparaJawa Tengah21 April 1879 yang lebih dikenal dengan nama R.A Kartini. Beliau adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Wanita tangguh ini adalah anak ke-5 dari 11 saudara kandung dan tiri. Ia merupakan keturunan ningrat, ayahnya yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang bupati Jepara. Kartini adalah putri dari istri pertama ayahnya, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwono VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Sejak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Pada masa kecilnya Kartini dipanggil ayah/ibunya dengan nama “TRINIL” yaitu seekor burung yang lincah dan cekatan di daerah kediaman mereka pada masa itu, jadi nama panggilan itu sesuai dengan sikap dan perilakunya yang lincah, rajin, cekatan dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pada masa mudanya Kartini termasuk anak yang pandai, suka belajar dan bergaul dengan teman sebayanya, bahkan pada masa itu Kartini mendapat kesempatan dan diperbolehkan sekolah di Europese Lagere School (ELS) sampai usia 12 tahun. Setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah (dipingit). Keluarganya yang memegang teguh adat lama, tidak menyetujui keinginan Kartini yang menghendaki perubahan. Kartini hanya bisa mencurahkan cita-cita perjuangannya dalam bentuk surat. Ia rajin menulis surat kepada teman-temannya di Belanda. Isi surat tersebut mengandung cita-cita yang luhur, terutama untuk mengangkat derajat wanita Indonesia. Wanita yang pandai berbahasa belanda ini juga melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berasal dari Belanda tersebut ,satu diantaranya adalah Rosa Abendanon, yang banyak mendukungnya dan memberinya berbagai saran dan masukan, pengetahuan dan ide-ide. Kartini juga banyak membaca berbagai macam buku-buku, koran, majalah dan bacaan lainnya yang kesemuanya berbahasa belanda dan buku-buku itulah yang mempengaruhi hati dan pikirannya untuk memberontak kepada kekejaman Belanda terhadap masyarakat jawa dan kekejaman adat dan tradisi jawa kepada anak perempuan.

Buku yang paling mempengaruhi dan menggugah hati Kartini masa itu adalah Minnebrieven Dan Max Havelaar karya Multatuli yang berisi tentang:  Orang Jawa Dianiaya, Aku akan Menghentikannya, Tugas Manusia ialah Menjadi Manusia.

Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paketan majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil juga sering menulis beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Melalui surat-surat yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil, dan tak jarang juga dalam suratnya Kartini menyebut judul sebuah karangan atau hanya mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca. Kartini sempat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda karena tulisan-tulisan hebatnya, namun ayahnya saat itu memutuskan Kartini harus menikah. Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dipaksa menikah dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sebelumnya sudah memiliki istri. Namun ternyata suaminya itu sangat mengerti cita-cita Kartini dan memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Hanya empat tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya empat hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun, tepatnya tanggal 17 September 1904.

Wafatnya Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangan R.A. Kartini semasa hidupnya karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” yang diterbitkan pada tahun 1911 atau yang lebih dikenal Indonesia dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Hidup itu akan indah dan berbahagia apabila dalam kegelapan kita melihat cahaya terang”

Sepenggal kalimat yang diambil dari buku tersebut mampu memberikan arti dan spirit tersendiri dalam perjuangan bagi generasi penerus bangsa khususnya kaum perempuan untuk meraih mimpi-mimpi dan cita-cita.

*jar

Si Jenius Habibie dengan Kisah Cinta Sepanjang Masa

Berbicara tentang sosok Prof.Dr.-Ing.H.Bacharuddin Jusuf Habibie (Lahir di Parepare, 25 Juni 1936), tentunya tidak akan lepas dari indahnya kisah cinta dan kehidupan yang penuh dengan prestasi. Kisah cintanya yang begitu romantis pernah diangkat ke dalam sebuah novel dan film yang begitu fenomenal. Presiden ketiga Republik Indonesia ini adalah salah satu tokoh panutan dan kebanggaan banyak orang.

Di masa kecil, Habibie sangat gemar menunggang kuda dan membaca. Ketika masih menduduki bangku Sekolah Dasar (SD), ia sudah dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Namun sayang, pada tanggal 3 September 1950 ia harus kehilangan ayahnya yang meninggal dunia karena serangan jantung. Kemauannya untuk belajar, membuat Habibie bisa mencapai mimpinya untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Memasuki masa SMA, beliau mulai menonjolkan prestasinya dalam pelajaran-pelajaran eksakta, khususnya di bidang fisika.

Habibie pun beranjak dewasa. Setelah ia tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1954, Habibie melanjutkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik mesin. Tidak sampai tujuh bulan lamanya ia berkuliah, kemudian ia berhenti dan melanjutkan studinya di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule–Jerman pada tahun 1955 dengan biaya dari ibunya R.A. Tuti Marini Puspowardoyo. Di sana ia memilih jurusan teknik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat terbang dengan alasan ingin merealisasikan amanat dari Bung Karno tentang pentingnya dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia.

Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 nya di Aachen-Jerman berkat beasiswa yang ia dapatkan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pada musim libur kuliah, Habibie tidak bermalas-malasan melainkan memanfaatkan liburannya untuk mengikuti ujian dan mencari uang. Beliau mendapat gelar Diploma Ing dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5 dan mendapat gelar insinyur. Kemudian beliau mendaftarkan diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman.

Pada saat itu, Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.

Mantan Presiden Republik Indonesia ini melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Habibie lalu menciptakan sebuah rumus yang dinamai “Faktor Habibie” karena bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia di juluki sebagai “Mr. Crack”. Pada tahun 1967 beliau menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.

Setelah puas berkelana, si tampan putra kebanggaan Indonesia ini akhirnya kembali ke Indonesia. Selama di NKRI, Habibie pernah menduduki berbagai jabatan diantaranya, 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, sampai pada puncaknya ia disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia ke 3. Ditengah perjalanannya menduduki kursi kepresidenan, ia dipaksa turun dari jabatannya akibat referendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Akhirnya beliau pun kembali menjadi warga negara biasa dan kembali ke jerman.

Sosok suami yang setia, idealis dan tidak gila kekuasaan melekat pada diri seorang Habibie. Mantan presiden Republik Indonesia ini menikahi seorang wanita bernama Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962. Selama lebih kurang 48 tahun membina rumah tangga dengan Ainun, tidak pernah terdengar kabar tentang keretakan rumah tangga mereka. Cinta, pengorbanan dan kasih sayang mampu membuat pasangan ini menjadi inspirasi berjuta pasang insan di bumi pertiwi ini. Memasuki tahun 2010, kondisi kesehatan Ainun mulai menurun dikarenakan penyakit kanker ovarium yang dideritanya. Pada tanggal 22 Mei 2010, Hasri Ainun Habibie, meninggal di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman. Ia meninggal pada hari Sabtu pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB. Pada hari itu, Habibie telah kehilangan cinta sejatinya, meskipun jiwa dan raga Ainun telah hilang untuk selama-lamanya, namun cinta Habibie pada Ainun tetap hidup untuk selama-lamanya.

Sedikit kutipan puisi cinta Habibie,“Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini”

 

By: Indah Yolanda Fitri

Ukiran Prestasi Ari Wirya Dinata

Cerdas, multitalenta, dan bersemangat, itulah karakter yang melekat pada sosok pemuda hebat, Ari Wirya Dinata. Lelaki yang akrab disapa Ari ini adalah lulusan terbaik Fakultas Hukum Universitas Andalas angkatan 2010 dengan predikat cumlaude  (3,93). Mungkin kesannya terlalu memuji, namun itulah kenyataannya. Berkat seabrek prestasi yang diraih, pemuda lulusan SMA 1 Muaro Bungo ini berhasil membawa nama Fakultas Hukum Unand di kancah nasional dengan berbagai kompetisi yang diikutinya. Salah satu dari segudang prestasi yang ia raih adalah peringkat satu naskah terbaik peradilan semu dalam pengujian undang-undang untuk jurnal Mahkamah Konstitusi se-Sumatera dan Kalimantan. Dilanjutkan dengan juara pertama lomba debat peradilan semu yang juga diadakan oleh Mahkamah Konstitusi tersebut.

Selain dengan prestasi yang ia miliki, pemuda yang awalnya bercita-cita sebagai Akuntan dan Menteri Luar Negeri ( Menlu) ini juga banyak bergabung dalam berbagai kegiatan organisasi tingkat fakultas maupun universitas. Mantan presiden International Law Student Asosiation (ILSA) ini, pernah bergabung sebagai staf Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) BEM-KM Unand. Tidak sekedar itu saja, sampai saat ini Ari masih disibukkan dengan aktifitasnya sebagai Peneliti Muda Pusat Study Konstitusi (PUSaKO). Bukan hanya pintar dalam bidang menulis dan debat, prestasi akademik yang dimiliki Ari mampu mengantarkannya menjadi satu-satunya mahasiswa Fakultas Hukum Angkatan 2010 yang mendapatkan Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Universitas Leiden, Belanda. Saat ini Ari tengah menunggu Konfirmasi dari pihak Leiden itu sendiri, yang mana pendaftarannya dibuka pada bulan April 2016 untuk mahasiswa Asia dan luar Eropa. Perkuliahannya akan dimulai bulan September 2016.

Pria yang ciri khasnya suka berbicara cepat ini mengaku bahwa semasa SMA ia tidak pernah mengikuti lomba debat atau menulis apapun. Ari lebih sering mengikuti lomba LCC tingkat SMA, hal inilah yang mempengaruhi kecepatan cara bicaranya sampai saat ini.Terlepas dari itu semua, Ari menyadari bahwa keberhasilan yang ia raih saat ini tidak lepas dari dukungan dan motivasi para dosen Fakultas Hukum Unand. Baginya semua dosen memberikan banyak inspirasi, diantaranya adalah Bapak Ilhamdi Taufik, Saldi Isra, Khairul Fahmi, Charles Simabura yang berada pada barisan terdepan. Selain itu Bapak Feri Amsari juga masuk dalam daftar orang yang mendukung karirnya sampai saat ini, dikarenakan banyaknya kegiatan yang dilakukan Ari bersama Feri yang selalu memotivasinya di beberapa kegiatan yang ia jalani tersebut.

Disamping dukungan dan motivasi yang diberikan kepadanya, ternyata Ari Wirya Dinata ini juga mengidolakan Hassan Wirajuda selaku Menlu zaman kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurutnya pria tamatan Harvard University itu adalah sosok yang gemilang dalam karirnya dan pintar sebagai ahli hukum. Ari juga sempat berbincang-bincang dengan Hassan Wirajuda ini di salah satu kompetisi yang pernah diadakan oleh Kemenlu itu sendiri. Bagi Ari, momen yang paling berharga dan tidak terlupakan adalah ketika ia mengikuti lomba debat peradilan semu yang saat itu diliput langsung oleh Metro TV.

Ari juga berbagi tips terkait dengan kesuksesannya tersebut. “Ngomong masalah tips sih, yang penting fokus, ikhlas, dan selalu belajar dari kegagalan aja, setiap orang memiliki kemampuan dan kecerdasannya masing-masing, tergantung gimana kamu menikmati setiap proses yang kamu jalani serta gunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya”, tutur Ari dengan senyum manisnya. Tentunya ada kegagalan dibalik setiap prestasi yang telah dicapai oleh seorang Ari Wirya Dinata. Namun, kegagalan tidak membuatnya putus asa dan berhenti untuk mencoba. Kegigihan dan semangat untuk bangkit adalah modal penting dalam menghadapi jutaan kerikil yang menghiasi hidup ini, karena suatu saat nanti, jutaan kerikil itu akan menjadi bagian penting dari cerita kesuksesan orang-orang yang berhasil melewatinya.

By: bl

Selamat Jalan Pak In

Sebuah pesan broadcast mengabarkan berita duka dengan cepat segera menyebar di media sosial, Asril Jaini, supir Bus Kampus Universitas Andalas bernomor  01 akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di RSUP M. Djamil sekitar pukul 21:00 WIB. Pak In begitu akrab beliau disapa, meninggal setelah sebelumnya mendapat perawatan intensif beberapa jam setelah bus yang dikendarainya mengalami kecelakaan.

Puluhan ungkapan belasungkawa segera membanjiri beranda blackberry messanger, Line, dan sosial media lainnya. Segenap Rangers Unand kehilangan sosok Pak In yang memang favorit  di kalangan mahasiswa.

Tak sedikit juga mahasiswa yang mengganti display picture mereka dengan foto Pak In yang tersenyum mengenakan kaos pollo berwarna krem. RI, seorang pengguna bbm yang menggunakan foto Pak In sebagai DPnya, menulis sebuah doa manis untuk Pak In di personal messagenya. “Urang elok, inshaAllah Sarugo (orang baik, inshaAllah surga)”.

Maya, seorang penumpang setia Pak In, mengaku merasa kehilangan atas kepergian Pak In. “Baru minggu lalu saya menumpang bus 01. Pak In tak mengomel seperti biasa, malah mengingatkan saya untuk tidak bergelantungan di sebelah beliau dan menyarankan agar saya berdiri di tempat aman.” Kenang Maya. Sepanjang ingatan Maya  tentang Pak In, Pria yang rambutnya sudah memutih ini memang sering jutekin mahasiswa yang menumpang busnya. Tapi kejutekan itu terasa seperti kejutekan Kakek kepada cucunya menunjukkan perhatiannya.

Pak In juga dikenal sebagai sosok disiplin yang selalu ngomel kepada mahasiswa yang kepagian menumpang busnya.

“Kenapa udah pulang aja kuliah? Kan masih pagi. Kamu jurusan apa? Siapa dosennya? Ga dateng dia? Saya bisa adukan ke rektor loh! Saya ini pegawai negeri bukan cuma supir..”

Begitulah kira-kira ‘sarapan” yang didapat mahasiswa jika memilih menumpang Bus 01 di pagi hari menuju Pasar baru. Pak In yang tak hanya seorang supir, sosok Ayah jutek yang (sebenarnya) penyayang, disipliner yang sikapnya harusnya menampar beberapa pengabdi kurang displin, pemilik tangan yang mulai renta tapi masih lincah memutar kemudi bus yang juga turut renta dengannya, seorang yang patut mendapat penghargaan tinggi atas asap hitam tebal yang dikentutkan knalpot busnya demi mengantar para rangers yang mungkin masih stengah mengantuk menuju kampus. Terima kasih Pak In, Surga menantimu.

**Jenn

Selamat Ulang Tahun Mr. M Yamin

Talawi, Sawahlunto, merupakan kota tua yang menjadi saksi bisu lahirnya sosok besar pendiri bangsa Indonesia, di tengah percikan darah perjuangan dan semangat nasionalisme. Mr Muhammad Yamin, terlahir dari pasangan Baginda Khatib (asal Sawahlunto) dan Siti Sadah (asal Padang Panjang) tanggal 24 Agustus 1903. Mengikuti berbagai gerakan dan organisasi kepemudaan seperti Partindo, Gerindo, Jong Sumateranen Bond, dan Putera serta juga tergabung dalam anggota Volkstraad, M.Yamin semakin menampakkan taringnya di hadapan pemuka-pemuka Belanda.

Pemuda bangsa yang pernah mengenyam pendidikan di Hollands Chinlandshe school (HIS) Palembang dan Algemene middelbare school (AMS) ini merupakan tokoh penting dalam sejarah sumpah pemuda. Kongres Pemuda I 30 April-2 Mei 1926 mengawali terbentuknya perkumpulan pemuda-pemuda yang kemudian membentuk kongres di Jakarta dipimpin oleh M. Tabani. Sesuai kongres dibentuklah perkumpulan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Jakarta yang diberi nama Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) yang bertujuan untuk mempererat integritas bangsa terutama di kalangan pemuda. M. Yamin merupakan salah seorang tokoh yang berpengaruh di dalamnya, disamping Suketi, Sugondo, Suwiryo, S. Reksodiputro, Amir Syarifuddin, dll.

Dilanjutkan dengan kongres pemuda II tanggal 26-28 oktober 1928 yang dihadiri oleh sembilan organisasi pemuda dan sejumlah tokoh politik. “Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia,” sumpah setia yang telah membawa Indonesia pada puncak integrasi ideologi nasional. Diakhiri dengan kumandang lagu Indonesia raya, ciptaan W.R. Supratman seiring dengan naiknya bendera merah putih. Sumpah pemuda pada hari itu memberikan kesan yang begitu mendalam bagi segenap bangsa hingga saat ini. M. Yamin beserta tokoh-tokoh nasional lainnya telah berjuang menanamkan nilai-nilai kesatuan, persatuan, kemandirian, serta kebebasan dari jiwa-jiwa pemuda Indonesia.

Disamping menjadi pelopor lahirnya sumpah pemuda, M. Yamin juga turut serta menyumbangkan ide dan pemikiran briliannya dalam sejarah pembentukan dasar negara melalui sebuah organisasi bentukan Belanda, BPUPKI.  Sarjana hukum lulusan 1932 ini menyampaikan usulan dalam bentuk lisan dan tulisan yang turut berperan kuat dalam kelahiran pancasila tanggal 1 juni 1945.

Sejak terpilihnya presiden pertama RI, Soekarno, M.Yamin telah menduduki peran penting dalam pemerintahan. Yakni sebagai Menteri pendidikan, pengajaran dan kebudayaan. Di masa jabatannya, Yamin banyak mendorong pendirian universitas-universitas negeri dan swasta di Indonesia, termasuk salah satunya Universitas Andalas, Padang. Pada saat menjabat sebagai Menteri kehakiman tanpa gaji dan remisi, Yamin mengeluarkan 950 orang tahanan yang dicap komunis dan sosialis, yang banyak mendapat kritikan anggota DPR. Namun Yamin berani bertanggungjawab atas tindakan kontrovesialnya itu.

Tidak cukup sampai disitu, gelar pahlawan nasional sangat pantas disematkan pada sastrawan muda berbakat ini. Berbagai karya dan syair-syair terkemuka lahir dari tinta pena seorang M.Yamin. Sebut saja sajak tanah air (1922), Indonesia tumpah darahku (1928), Ken Arok dan Ken Dedes (1948), Revolusi Amerika (1951), dll. Master in de rechten M. Yamin merupakan tokoh sejuta bidang dan sosok kreatif, inovatif serta berbakat. Jiwa penuh ambisius dan semangat nasionalisme tak pernah hinggap dari jiwanya. Pujangga dan penyair dengan berbagai karya fenomenal serta yang terpenting tokoh besar yang lahir dari Bumi Minangkabau.

“Tak perlu jauh mencari sosok inspiratif dalam hidup ini, sebab kampungmu punya jutaan pemuda berbakat untuk kau teladani dank au banggakan.”

**Za

Auguste Comte: Filsuf Patah Hati

Feri Amsari

Peneliti PUSaKO (Dosen)  FHUA, Pelajar William and Mary Law School, VIrginia

Ahli hukum” yang akan diulas pada edisi khusus kali ini agak berbeda. Saya tertarik menulisnya karena tak banyak mahasiswa hukum mengetahui latar belakang salah satu pemikir besar ini. Mungkin karena kita terbiasa mengutip saja tanpa tau lebih dalam kenapa sebuah pemikiran dan pemikir itu “lahir”.

Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte, dikenal dengan Auguste Comte (baca: ogyst komt), lahir di Montpellier, Prancis, pada 19 Januari 1798. Keunikannya dalam pemikiran hukum disebabkan Comte bukanlah “orang” hukum. Bagi yang “tergila-gila” dengan matematika (sebagian mahasiswa hukum menakuti ilmu ini-termasuk saya), buku Comte merupakan acuan penting dalam memahami dasar ilmu matematika itu sendiri. Ia menulis buku penting yang berjudul, Cours de Philosophie Positive yang kemudian dimaknai sebagai the Philosophy of Mathematics (Dasar Pemikiran Matematika).

Namun banyak pula yang menyebut Comte sebagai pemikir/filsuf yang menekuni bidang sosiologi atau sederhananya disebut sosiolog dengan pendekatan ilmu pasti. Comte memang dibesarkan dalam pemikiran ilmu-ilmu pasti, seperti: Matematika dan Fisika. Sejak kecil kecerdasannya di atas rata-rata. Orang-orang bahkan membuat anekdot untuk menggambarkan kecerdasan Comte dengan mengatakan bahwa Ia mampu mengingat setiap kata dalam lembar buku yang telah dibacanya dan dapat mengeja kembali semuanya secara terbalik.

Karena amat cerdas, Ia kemudian di-didik khusus ilmu Matematika di bawah ampuan Daniel Encontre, guru khusus bagi anak-anak yang memiliki kepintaran di atas rata-rata. Menyelesaikan pendidikan itu pada umur 15 tahun dan kemudian menamatkan kuliahnya di Ecole Polytechnic setahun kemudian (kandidat satu-satunya di Prancis ketika itu). Pada 1814, Ia melanjutkan kuliah di Prancis. Disinilah pemikiran pemberontakannya atas kondisi sosiologis tumbuh. Ia mulai menjadi “pemberontak” terhadap kekuasaan tiran. Karena kenakalan cara berpikir itu, seorang gurunya menyerang cara pandang Comte. Pemikir muda itu melawan. Keluar dari kampus. Ia kemudian dikirim pulang untuk diawasi orang tua dan dalam pengawasan kepolisian.

Setelah “dicekal”, Comte kembali ke Prancis dan belajar sebentar tentang Biologi pada 1816. Disanalah Ia mengenal Hendry de Saint-Simon yang memperkenalkannya terhadap skema reorganisasi sosial. Namun karena ide Comte yang meletup-letup, segera pertentangan pun terhadap ajaran Saint-Simon menjadi besar. Di bawah bimbingan Simon, Comte menulis pamflet-pamflet yang berkaitan dengan penggabungan ilmu pasti dan ilmu sosial, salah satunya berjudul: Prospectus of the Scientific Worlds for the Reorganization of Society (Prospek penerapan ilmu pasti dalam mengorganisasi ulang masyarakat). Pamflet lain berjudul “Sistem Kebijakan Positivisme” dan “Politik Positivisme”.

Pemikiran Comte terhadap permasalahan sosial juga berkembang kepada pemikiran hukum. Comte berpendapat bahwa dalam gagasan positivisme yang hendak menertibkan masyarakat maka harus dibentuk sistem hukum yang memberikan kepastian. Tertib tanpa ada tendeng aling-aling nilai-nilai lainnya. Hukum memberikan kepastian dalam masyarakat. Seorang pencuri harus jelas dihukum berapa tahun karena perbuatannya.

Dugaan saya, pemikiran itu muncul karena pada masa itu Raja memutus perkara hukum (tentu juga sosial) berdasarkan nilai subjektifnya terhadap suatu masalah. Acapkali Raja membeda-bedakan hukuman bagi kaum bangsawan dan rakyat bawahan. Bangsawan yang mencuri akan dihukum lebih rendah dibandingkan rakyat yang terlantar melakukan pencurian karena lapar atau tidak ada kerja. Timbul ketidak-pastian. Comte kemudian merasa perlu diterapkan kepastian yang diosong ilmu pasti ke dalam ilmu hukum. Mudahnya, dalam ilmu pasti kita paham bahwa 1 + 1 = 2. Hasil penjumlahan itu sebuah kepastian; tidak ada satu sebab apapun yang menyebabkan penjumlahan itu dapat diubah.

Hal itulah yang kemudian menciptakan hukum positif dalam proses penegakan hukum. Itu sebabnya dalam ilmu hukum pidana positif, misalnya dalam kasus pencurian, jika ingin dirumuskan dapat menjadi seperti ini, 1 (barang siapa melakukan pencurian) + 1 (barang milik orang lain) = 2 (dihukum penjara 3 tahun). Tindakan dengan kondisi tertentu harus menghasilkan bentuk hukum yang hasilnya pasti. Disinilah letak pemahaman hukum positif itu. Pemikiran Comte ini memengaruhi luar biasa wajah pemikiran hukum. Hans Kelsen, pemikir positivisme hukum, mempercayai ide Comte tersebut. Bagi Kelsen hukum tak bisa dipengaruhi nilai-nilai apapun, baik moral maupun kepercayaan yang ada di masyarakat sosial. Hukum yang ada dalam aturan pasti (produk perundang-undangan) harus diterapkan apapun kondisinya.

Akan tetapi, asal tau saja pemikiran Comte itu ditulis dalam kegelisahannya yang mendalam. Begini ceritanya. Pada umur 23 tahun, Comte jatuh cinta kepada seorang gadis Prancis yang bernama Caroline Massin. Ia menikahi gadis itu. Disebabkan pelbagai sebab, kegelisahan Comte yang menjadi-jadi yang kadang disertai tindakan yang tidak terkontrol ditambah dengan ketidak-setiaan Massin, kehidupan filsuf besar ini jatuh ke dalam jurang kehancuran. Sebagai bentuk rasa tidak cinta kepada suaminya, Massin kemudian meninggalkan Comte berkali-kali hingga kabur meninggalkan rumah selamanya. Cinta Comte ditarik-ulur dan dipermaikan karena Comte menjunjung prinsip kesetiaan. Parahnya Massin bertindak sebaliknya. Comte menggambarkan hidupnya sebagai “one great error of his life”.

Hidup Comte hancur di tengah upayanya menyusun naskah-naskah buku pemikiran filsafatnya. Ia bertahan dengan belas-kasihan beberapa pemikir yang simpati dan berharap Comte dapat menyelesaikan sisa-sisa karya filosofinya. Ia mulai hidup di bawah kecanduan alkohol, kopi, dan rokok. Laiaknya orang patah hati, Ia enggan makan. Konsumsinya hanya roti dan susu. Seketika badannya menyusut. Meskipun begitu banyak pakar yang menyebut kehidupannya yang hancur itu sebagai bentuk kesetiaan terhadap dunia pemikiran filosofi, namun ada pula yang menyebutkan pada titik itu Comte sudah gila. Bahkan ada yang berpendapat Comte tak tertolong lagi. Hidupnya berantakan dan tak karuan. Mungkin gaya hidup yang tak karuan ini pula yang kemudian menginspirasi banyak mahasiswa yang ingin menjadi filsuf. Berpenampilan seperti orang gila dan tak karuan (padahal malas hehe saya bercanda).

John Morley menggambarkan bahwa tak banyak pemikir yang dapat bertahan dari kehancuran masalah hidup dengan banyak halangan sebagaimana Comte hadapi. Namun pada 1844 sebuah titik-balik menghampiri hidupnya, Comte bertemu Madame Clotilde de Vaux, seorang istri dari suami baik-baik. Cinta pun tumbuh di antara Comte dan de Vaux. Dengan sangat lihai, hubungan terlarang itu dapat disembunyikan oleh de Vaux dari publik.

Hubungan “terlarang” itu berjalan aneh. Comte berpendapat bahwa de Vaux adalah istri spiritualnya. Setahun menjalani hubungan tersebut, de Vaux meninggal. Kondisi itu digambarkan Comte sebagai kesedihan yang tidak dapat dihibur (inconsolable). Namun kematian dan ditinggal cinta itu membuat Comte hidup kembali. Bahasa kasarnya, tali syarafnya yang sempat putus karena ditinggal Istri menyambung kembali akibat ditinggal kekasih gelapnya. Comte seperti hidup untuk kedua kalinya.

Ia kembali memberikan kuliah dan menerbitkan tulisan-tulisan kenamaannya, seperti: Positive Polity (empat volume dari 1851-1854), the Cathechism (1852), the Appeal to Conservatives (1865), dan the Subjective Sythesis (1856). Namun lahirnya banyak karya itu bukan berarti Comte hidup bahagia. Ia hanya mengalirkan “energi patah hatinya” kepada produktivitas yang berbeda dibandingkan hanya mengurung diri, bersedih, dan berbicara sendiri. Banyak pula pakar yang memperdebatkan apakah karya-karya Comte lahir dari pemikiran yang normal.

Pada 5 Desember 1857, Comte “berpulang” disebabkan kanker. Lepas dari perdebatan terhadap hasil pemikirannya yang lahir dari kondisi “tidak normal”, setidaknya bagi mahasiswa hukum didapatkan pelajaran penting bahwa meskipun dalam keadaan patah hati dan kesendirian karena ditinggal cinta, energi berkarya dalam bentuk tulisan hukum itu tetap dijalani Comte. Sekarang sudah tak waktunya lagi berkata: “skripsi saya tertunda karena patah hati”. Wallahu a’lam.

Hans Kelsen dan Pemurnian Hukum

Feri Amsari

Peneliti PUSaKO (Dosen)  FHUA, Pelajar William and Mary Law School, VIrginia

 

Hans Kelsen dilahirkan di Paraguai, 11 October 1881. Pada usianya yang ketiga tahun, Ibu-Bapak Kelsen yang Yahudi-Jerman pindah untuk menetap di Wina, Austria. Di negara baru inilah Kelsen kemudian menyelesaikan studinya. 1906, Ia meraih gelar doktor dalam bidang ilmu hukum, meskipun menurut Nicoletta Bersier Ladavac ketertarikan Kelsen lebih kepada kajian humanistik dan kajian klasik, seperti: filsafat; sejarah; logika; matematika; dan ilmu pasti.

Sebagai pembelajar tangguh, hasratnya untuk mengajar di universitas tidak tertahankan. Namun sebagai seorang Yahudi, Ia tidak mau hasrat itu menjadi penyebab bahaya bagi keluarga Yahudinya. Bahkan, demi membiaskan asal-usulnya Kelsen rela berpindah agama dari penganut agnostik (paham yang menolak logika agama dan mistis-agak berbeda dengan atheis) menjadi seorang Kristen Katolik. 1918, setelah mengabdi sebagai penasehat militer dan administrasi kehakiman, Kelsen berhasil menjadi assosiate professor di Universitas Wina (Vienna University). Satu tahun setelah itu, Ia berhasil meraih gelar sebagai full professor dalam kajian hukum administrasi.

Meski merupakan pemikir netral dalam pandangan politik, Kelsen memiliki kedekatan “emosional” dengan pemimpin tertinggi partai mayoritas, Social Democrats. Itu pula mungkin yang memberi ruang kepada Kelsen untuk menyusun Konstitusi Austria 1920 (lahirnya ide Mahkamah Konstitusi. Kelsen dipengaruhi oleh pemikiran John Marshall, seorang Hakim Agung, alumni William and Mary Law School).

Sebagai perancang konstitusi yang dianggap tau tentang konstitusi itu sendiri, pada 1921, Kelsen diangkat sebagai salah seorang Hakim Konstitusi Austria. Dominasi pemikiran Kelsen sangat kentara dalam pelbagai kasus dalam Mahkamah Konstitusi tersebut. Namun setelah kemenangan Partai Sosialis Kristen, isu anti-Yahudi kembali merebak. Kelsen dipaksa meninggalkan jabatannya.

Penyingkiran Kelsen itu ternyata tidak membuat universitas lain takut untuk memanfaatkan kemampuan akademiknya. University of Cologne memintanya mengajar dalam kajian Hukum Internasional. Catatan Ladavac menjelaskan bahwa pengalaman di Cologne itu membuatnya sangat cemerlang kemudian dalam kajian hukum. Ia bahkan menemukan keterkaitan penting antara Hukum Tata Negara dan Hukum Internasional.

Kenyamanan akademik itu tak bertahan lama. Aroma petualangan akademiknya merebak ketika musin gugur 1933 Nazi Jerman berhasil menguasai hampir seluruh daratan Eropa. Ia mengungsi dan mengajar di lnstitut Vniversitaire des Hautes Etudes Internationales, Switzerland. Meski mengalami kesulitan bahasa, Kelsen beruntung bertemu para pakar kenamaan Hukum Internasional di sana. Ia bahkan menulis sebuah makalah penting tentang peralihan Hukum Internasional menjadi Hukum Tata Negara. Kemapanannya dalam menganalisa hukum itu membuatnya juga diminati memberikan perkuliahan di Universitas Paraguai. Sayang, paham anti-Yahudi yang merebak dalam pemikiran mahasiswa kala itu membuatnya tak bertahan lama sebagai seorang dosen di sana.

1940, ketika pergerakan anti-Yahudi mulai meradang, Kelsen memutuskan untuk berimigrasi ke Amerika Serikat. Sebagai pemikir Hukum Internasional yang memiliki relasi, Kelsen dengan mudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi peneliti di Harvard Law School (HLS). Kedekatannya dengan pemikir hukum besar Amerika yang juga Dekan HLS Roscoe Pond bahkan membuatnya diberi kesempatan menyampaikan kuliah tentang pemikiran Oliver Wendel Holmes yang dipublikasikan dengan judul, Law and Peace in Internasional Relations. Sesungguhnya kekaguman Pond itu sudah merebak jauh hari sebelum Kelsen bermigrasi ke Amerika. Pada 1934, Pond telah menulis dan memuja-muji Kelsen sebagai pakar hukum terkemuka pada era itu.

Pond pula yang kemudian menjadi jembatan penting bagi Kelsen menjadi salah satu professor tetap di University California, Berkeley pada 1945-1952. Di tahun yang sama, Kelsen mendapatkan kewarganegaraan Amerikanya. Pada era itulah Kelsen berhasil berkarya dengan tenang sebagai seorang pakar filsafat hukum dan hukum internasional.

 Pemikiran The Pure Theory Of Law

Saya menduga, pengalaman hidup yang keras Kelsen yang memengaruhi cara berpikirnya. Ia adalah seorang agnostik sejati yang mengandalkan logika rasionalitas. Apalagi kepahitan hidup disingkirkan membuat Kelsen seolah memahami hukum sebagai suatu alat yang tidak boleh dijamaah kepentingan perasaan. Karakter seperti itu secara psikologis hanya dimiliki pekerja yang lekang dengan derita. Itu sebabnya Kelsen secara tegas menghendaki hukum dimurnikan dari pelbagai elemen dan hal-hal lainnya di luar ketentuan hukum itu sendiri.

Dalam tulisan ini, meskipun Kelsen banyak pula menulis pemikiran hukum lain selain pemurnian hukum, penulis tertarik menjadikannya fokus menerangkan gagasan filsafat Kelsen. Misalnya, Kelsen juga sangat terkenal dengan teorinya mengenai hubungan hukum dan negara dalam bukunya berjudul, General Theory of Law and State, Tetapi, sekali lagi, menurut penulis untuk membicarakan Kelsen maka sentral perbincangan akan selalu bertumpu kepada paham pemurnian hukum.

 Menurut Stanley L. Poulson dalam pengantar buku Kelsen, Introduction to the Problems of Legal Theory, teori pemurnian hukum itu dianggap sangat penting karena secara tegas menentang paham “tradisional” teori hukum alam. Kelsen menyatakan agar hukum dapat berjalan dengan baik dan berkeadilan, maka nilai-nilai lain di luar ketentuan normatif hukum harus dikesampingkan (hakim hanya dituntut menjadi corong undang-undang). Misalnya dalam memutus sebuah perkara, hakim cukup melihat ketentuan undang-undang saja. Perasaan yang menyertai hakim dalam sebuah perkara hanya akan melemahkan penegakan supremasi hukum. Menurut Kelsen, segala sesuatunya mengenai permasalahan hukum harus ditentukan dalam undang-undang.

Apabila permasalahan baru muncul dan belum diatur undang-undang, maka tindakan pelaku mesti dianggap bukan kejahatan sampai dengan terbentuknya aturan baru yang mengaturnya. Itu sebabnya adagium terkemuka yang sering dikemukakan ahli pidana, nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenalli (sebuah perbuatan tidak dapat dipidana sebelum ada aturannya, adagium hukum yang pertama kali dikemukakan oleh Anslem von Feurbach), memiliki kedekatan secara “emosional pemikiran” dengan paham pemurnian hukum.

Logika pemunian hukum (juga sering disebut positivisme hukum) itu bisa jadi berasal dari pemikiran Kelsen yang sangat logis sebagai seorang agnostik. Bahkan percampuran dengan nilai-nilai ilmu pasti dan matematika pun tergambar dalam pemikiran positivisme hukum tersebut. Misalnya, menurut Kelsen sebuah statemen ‘P’ adalah pernyataan yang benar. Kebenaran ‘P’ hanya akan benar apabila diikuti oleh pernyataan ‘Q’. Sehingga kebenaran sesungguhnya terletak pada pernyataan ‘Q’.

Penulis harus mengakui paham yang disebut Kelsen sebagai, stucture of the trancendental argument, itu sulit dipahami dengan baik. Sebab bagi penulis hal itu sangat jelimet. Penulis melihat logika seperti itu sangat dipengaruhi oleh paham-paham ilmu pasti yang meletakan rangkaian logika dalam simbol-simbol, termasuk angka-angka.

 Acapkali kepada kawan-kawan mahasiswa hukum, penulis mengandaikan teori pemurnian hukum itu sebagaimana ajaran matematika. Misalnya seperti ini, sederhananya, 1 + 1 = 2. Tidaklah mungkin secara logika normal, akumulasi bilangan 1 dengan bilangan 1 akan menghasilkan angka selain 2. Tidak mungkin. Itulah matematika, bukan?

 Maka paham pemurnian ilmu hukum juga menganut hal yang sama. Contoh sederhananya adalah penerapannya dalam Pasal 362 KUHP tentang pencurian. 1 (barang siapa) + 1 (mengambil suatu benda yang sebagian atau keseluruhannya milik orang lain) = 2 (diancam karena pencurian dengan pidana penjara paling lama 5 tahun). Jika kemudian kita menambahkan hal-hal di luar nilai-nilai 1 + 1 itu, bagi Kelsen itu merupakan pemikiran yang keluar dari logika cerdas. Begitulah pemikiran pemurnian itu dengan sederhana digambarkan (penjelasan mengenai ini saya landasi dari penjelasan alm. Prof. Soetandyo Wignyosoebroto. Meskipun penulis menguraikannya lebih jauh).

Secara tegas dalam logika berpikirnya, Kelsen menolak percampuran hukum dan moralitas. Apabila hukum sudah menentukan aturannya maka kemudian hari tidak satupun hal lain dari hukum itu sendiri yang patut dipertimbangkan. Misalnya, apabila seorang pencuri melakukan kejahatan karena faktor ingin memberikan anaknya makan karena kelaparan. Pencuri tersebut harus tetap menjalani hukuman meskipun dari segi moral pelaku dapat dimaafkan karena ada faktor menyelamatkan nyawa anaknya. Namun Kelsen sendiri menegaskan bahwa paham pemurnian itu harus mampu memisahkan dari pengaruh moral dan juga politik. Pada titik ini, penulis merasa Kelsen sangat tidak realistis sebagai penganut paham agnostik. Bagaimana mungkin menjauhi pengaruh politik dalam sebuah undang-undang. Tapi begitulah Kelsen dalam melihat hukum yang harus dimurnikan dari elemen-elemen lain.

Paham pemurnian itu kemudian hidup sangat kuat. Apalagi kemudian pemikiran Kelsen memengaruhi banyak pemikir besar hukum di daratan Eropa dan Amerika. Sejauh pengamatan penulis, paham ini juga memengaruhi dengan tegas para pengajar hukum Tanah Air. Itu sebabnya kadangkala jika mahasiswa ingin berpikir di luar dari pasal-pasal undang-undang, maka para pengajar merasa terkejut dan mungkin juga marah. Apalagi mahasiswa acapkali belum bisa merangkai gagasannya dengan baik. Dalam konteks berhukum kekinian, harus diakui paham pemurnian hukum merupakan paham penting dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Meskipun banyak pemikir kritis yang mempertanyakan cara berhukum dengan menggunakan logika tersebut. Padahal menurut mereka berhukum yang baik haruslah menggunakan hati nurani. Undang-undang hanyalah alat.

 Akhir Hayat

Sebagai pemikir tangguh dimasanya, Kelsen menghasilkan lebih dari 400 karya. Sebagian dari karya itu diterjemahkan lebih ke 24 bahasa. Karena prestasinya yang mengagumkan itu, Kelsen menerima 11 gelar doktor kehormatan dari Universitas Harvard, Uterecht, Chicago, Mexico, Berkeley, Salamanca, Berlin, Wina, New York, Paris, dan Salzburg.

Di usia 92 tahun, hidup tenang pemikir kenamaan ini berakhir. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 19 April 1973. Hingga kini pemikiran Kelsen terus diperdebatkan baik oleh pengagumnya maupun kritikus pemurnian hukum.