Soal Debat Capres Cawapres NM FHUA: Antara konkrit dan Realistis VS Moralitas

Pasangan capres cawapres nomor urut 1 dan 2 melakukan sesi foto bersama dengan penelis dan wakil dekan III pada akhir debat

GEMAJUSTISIA.COM, PADANG- Mengusung tema “Pemuda Sebagai Aset Penerus Bangsa”, Panitia Pemilihan Umum (PPU) Negara Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas (NM FHUA) menyelenggarakan debat calon presiden dan calon wakil presiden antara Pasangan calon (paslon) nomor urut 01 dan paslon nomor urut 02 di Gazebo FHUA, pada Senin (25/3/2019).

Debat ini dihadiri oleh Lerry Patra selaku Wakil Dekan 3 dan Rembrandt selaku Wakil Dekan 2 FHUA serta oleh Dewan Panelis yaitu Romi, Beni Kurnia Ilahi dan Ari Dinata, serta aktivis dan mahasiswa FHUA.

Dalam debat tersebut, setiap paslon diberikan kesempatan untuk memaparkan visi dan misi serta argumennya dalam hal menyelenggarakan pergerakan BEM NM FHUA jika terpilih nanti.

Sifat debat yang terbuka membuat seluruh masyarakat FHUA dapat mendengarkan bagaimana misi dan solusi dari kedua paslon untuk NM FHUA kedepannya.

Paslon nomor urut 01, D Aziz Abdullatif bersama Diki Wahyudi menyebutkan, bahwa program-program yang mereka miliki adalah program yang konkrit dan realistis dengan lingkup menjadikan BEM NM FHUA yang profesional, gotong-royong dan berintegritas yang mewujudkan bekal mahasiswa sebagai penerus bangsa.

Pasangan calom nomor urut 1 pada saat debat berlangsung

Sedangkan paslon nomor urut 02, CH Idzan Falaqi H bersama Jodi Purnama Putra menuturkan bahwa mereka akan menjadikan BEM NM FHUA yang progresif dinamis dan berbasis intelektual yang berbudaya luhur.

Pasangan calon nomor urut 2 pada sesi debat

Paslon 01 menekankan akan pentingnya sifat program konkrit yang dapat memberikan kejelasan secara nyata bagaimana jalannya BEM NM FHUA. Di sisi lain, paslon 02 lebih menekankan pada sifat BEM yang terbuka, kekeluargaan dan bermoral.

Sejalan dengan tujuan debat capres dan cawapres ini, para panelis dan anggota perwakilan Kelompok Aspirasi Mahasiswa (KAM) juga diberi kesempatan untuk bertanya pada kedua paslon. Mulai dari penilaian kepemimpinan, terkait beasiswa dan usaha pendekatan kepada alumni, serta mengenai solusi masalah dana perlombaan yang diikuti mahasiswa.

Suasana debat mulai panas saat kedua paslon mulai saling mengkritik argumen dan program yang mereka ajukan. Salah satunya terkait bagaimana para paslon mengenal BEM di tahun sebelumnya.
Paslon 01 menyatakan bahwa oposisi tidak mengenal secara baik kinerja BEM, bagaimana BEM yang sekarang telah lebih baik dari yang sebelumnya. Sedangkan paslon 02 mengatakan bahwa paslon 01 hanya melaksanakan program BEM yang telah ada, tidak memberikan program yang baru.

Sementara itu, terkait dana perlombaan yang diikuti mahasiswa, para paslon memiliki landasan yang sama untuk perlu mengawal dan membantu para mahasiswa mengembangkan kemampuan yang mengikuti lomba, khususnya dana lomba itu sendiri.

Disinggung mengenai dana, Rembrant mengatakan, “Benar, kita tidak bisa bergerak tanpa dana. Tidak dapat dielakkan bahwa tanpa uang semuanya dapat berjalan lancar”. Rembrant juga berterima kasih kepada para kandidat yang menyebutkan masalah ini dan mengingatkannya untuk terus memperjuangkan kebutuhan mahasiswa.

Terkait debat ini, Rembrant juga memuji para paslon yang cerdas dalam menggunakan kata dalam berdebat, yang artinya ada peningkatan bagi mahasiswa dalam berbicara.

“Saya khawatir, nanti debat ini bisa lebih hebat dari debat presiden negara kita”, canda Rembrant.

Sesi debat diakhiri dengan closing statement dan foto bersama para paslon, panelis, dan PPU.

Reporter: Fifi Widia Sari

Editor: Rona Fitriati Hasanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *