Tim Debat FHUA Baru Kalah di MK dan PLF Tahun ini

Gema Justisia – “Kecewa? Iya kecewa, tapi gak terlalu kecewa juga sih.

Menurut kami, membawa kembali piala kemenangan ke kampus hijau seperti tahun-tahun sebelumnya itu bukanlah kemenangan yang sesungguhnya. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu mengalahkan diri kita sendiri.” Ujar Agil Oktaryal, ketua tim debat Fakultas Hukum Universitas Andalas (FHUA).

10339574_636979853057457_3161903395509868693_n menanggapi kekalahan beruntun yang dialami timnya dalam dua ajang debat tingkat nasional, Debat Konstitusi yang diadakan Mahkamah Konstitusi dan Padjajaran Law Fair (PLF) (7/5).

Agil (2011), bersama dua belas orang lainnya terpilih mewakili FHUA untuk dua ajang debat bergengsi tingkat nasional setelah diseleksi terlebih dahulu bersama ratusan mahasiswa FHUA lainnya. Kemudian dua belas orang terpilih tersebut dibagi kedalam dua tim. Yang pertama¸untuk Debat Konstitusi yang diadakan MK. Dan yang kedua, untuk PLF. Masing-masing tim terdiri dari enam orang, kemudian enam orang tersebut dibagi lagi menjadi dua: tim inti dan tim supporting. “Tapi kita udah enggak pakai istilah supporting lagi, yang ada itu tim 1 dan tim 2. Tim 1 yang berdebat dan tim 2 yang me-manage jalannya pertandingan.” Kata Agil menjelaskan.

Untuk tim yang mewakili FHUA di MK adalah Agil, Adeline Syahda (2012), Baruga Ermond (2011) sebagai tim 1 dan Ika (2012), Yosua (2012), dan Purnama (2013) sebagai tim 2. Untuk PLF, ada Diga (2011), Ami (2012), dan Yasto (2012) sebagai tim 1, dan Emilia, Fitri (2012), dan Eva sebagai tim 2. Kemudian mereka menjalani karantina selama tiga minggu di mess Unand untuk persiapan menghadapi debat.

Pada 22-24 maret 2014 lalu, Agil, Adeline, Baruga, Ika, Yosua, dan Purnama bertanding di Palembang untuk debat Konstitusi MK regional 1. Dari 24 universitas yang ada di regional 1 Indonesia, tim Agil berhasil membawa nama FHUA kembali menjadi kekhawatiran bagi universitas-universitas lain di regional 2dan 3. Ya! Mereka lolos ke kancah nasional. Tim Agil memperoleh skor 3-0 ketika melawanUniversitas Riau dengan tema “Kewenangan MK dalam Menguji Ketetapan MPR”. skor 3-0 saat melawan Institut Pertanian Bogor dengan tema “Larangan Presiden dalam Merangkap Jabatan sebagai Ketua Partai Politik”. Dan skor 3-0 kembali mereka peroleh ketika melawan Universitas Sriwijaya dan satu universitas lainya. FHUA mewakili regional 1 untuk kembali bertanding di Cisarua, Bogor bersama Universitas Sriwijaya, Universitas Padjajaran, Unoiversitas Syah Koala, dan Universitas Bengkulu.

Tim Agil pulang dan kembali menjalani karantina selama empat belas hari sebelum pertandingan di Cisarua. “Tapi kami hanya punya waktu efektif sepuluh hari untuk mempersiapkan diri, karena empat harinya kami gunakan untuk mensupport tim yang akan ke PLF. Kan mereka duluan berangkatnya.” Kata pemuda kelahiran 20 tahun silam itu.

Pada 11-13 april 2014, Diga, Ami, Yasto, Emilia, Fitri, dan Eva berjuang di Padjajaran Law Fair yang ketika itu bertemakan “Strenghtening Subtantive Democracy” atau “Penguatan Demokrasi Subtantif”. Tim Diga harus pulang dengan kekecewaan setelah kalah di perempat final melawan Universitas Hasanudin.

Kekalahan ini tidak menyurutkan semangat tim yang akan bertanding di MK pada 25-28 april. Tidak ada waktu untuk larut dalam kekecewaan. Yang tim Diga lakukan saat itu adalah balik mensupport tim Agil yang akan kembali bertanding.

Pada 25-28 april 2014, tim Agil mewakili FHUA berangkat menuju Cisarua, Bogor untuk kembali bertanding dalam Debat Konstitusi yang diadakan MK . mereka masuk ke dalam grup yang sama dengan Universitas jendral Soedirman (unsoed) dan Universitas Negeri Surabaya (UNS). Kemenangan telak kembali mengangkat nama FHUA dengan skor 5-0 melawan Unsoed.

Kemudian, yang membuat tim Agil beserta pembimbingnya Bapak Ilhamdi Taufik, S.H, M.H, Ibu Edita Elda, S.H, M.H, dan Bapak Charles Simabura, S.H, M.H tercengang adalah skor 2-3 untuk FHUA ketika melawan UNS. “Kami sudah berusaha sebaik mungkin, kami menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka lemparkan dengan tepat, dan kami juga menggunakan waktu semaksimal mungkin.

Sedangkan mereka, selain menjawab pertanyaan dengan terburu-buru yang membuat ucapan mereka jadi kurang jelas didengar, mereka juga tidak menggunakan waktu yang diberikan semaksimal mungkin. Misal, jika waktu yang diberikan lima menit, mereka hanya menggunakan empat menit. Dan itu sudah merupakan pengurangan point bagi mereka.”ujar Agil mengungkap keheranannya mengenai kekalahan mereka. Keheranan tidak hanya dirasakan oleh tim FHUA saja, tapi juga dirasakan oleh seluruh tim juri yang ketika itu diketuai oleh Prof. DR. Saldi Isra, S.H, M.P.A dan penonton yang menyaksikan pertandingan saat itu.

Kekalahan di dua ajang debat bergengsi tingkat nasional ini tidak serta merta menyurutkan semangat tim debat FHUA. Kekecewaan jelas saja dirasakan, tapi mereka tak mau berlarut-larut dan mememilih untuk berbesar hati dalam menerima kekalahan ini.

“Memang tahun ini kami gagal membawa piala itu kembali pulang. Tapi seharusnya kekalahan ini tak menjadi alasan bagi kita untuk berlaru-larut dalam kekecewaan. Tanpa piala tahun ini pun, kita tetap pemenang di hati dewan juri dan penonton. Tanpa kemenangan pun, kita tetap ditakuti dan dihormati tim-tim dari universitas lain. Dan satu lagi, seorang pemenang itu harusnya ikhlas kan sesekali berbagi rasa kemenangan tersebut dengan mereka yang belum pernah merasakannya.” Gurau Agil.

One thought on “Tim Debat FHUA Baru Kalah di MK dan PLF Tahun ini”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *