FH Unand Peringati Bulan Bahasa

GEMA JUSTISIA – Dalam rangka memperingati bulan bahasa, Balai Bahasa Padang dan Gema Justisia Unand mengadakan seminar nasional pembahasan Undang-undang No.2 4 Tahun 2009 tentang  Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan  di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Universitas Andalas Padang, Senin (26/09) pukul 09.00-12.30 Wib.

Seminar dengan tema “Hilang Bahasa, Lenyaplah Bangsa” ini dijadwalkan akan dibuka oleh Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas, Prof. Dr. Yuliandri, SH, MH. Namun dengan kesibukannya menghadiri rapat senat pemilihan Rektor Unand, selanjutnya seminar ini dibuka oleh Pembantu Dekan Fakultas Hukum Universitas Andalas.

Hal ini dibenarkan oleh Pembantu Dekan Fakultas Hukum Unand saat memberikan sambutannya, “Hari ini saya mewakili bapak Prof. Dr. Yuliandri, SH, MH untuk membuka seminar ini karena beliau sedang menghadiri rapat senat pemilihan Rektor kita (Unand.red),” katanya.

Seminar yang dimoderatori oleh Darman Munir ini berlangsung hangat dan lancar. Disamping itu, dengan hadirnya Feri Amsari, SH, MH, Dosen tata Negara Fakultas Hukum Unand dan Drs. Abdul Gafar Ruskan, M.Hum,  Peneliti  senior di Pusat Bahasa, semakin menghangatkan seminar.

Membincangkan Masa Depan Bahasa

Gema Justisia – Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, masih belum jadi tuan rumah di negeri sendiri. Salah satu penyebabnya, kurangnya minat kaum muda untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Padahal, dalam UU No 24 Tahun 2009 telah dijelaskan bahwa bahasa, bendera, lagu kebangsaan diatur untuk jadi amanat konstitusi.Tantangannya memang cukup berat. UU telah disahkan, tapi pelaksanaan masih belum optimal. Untuk lebih mengenal UU No 24 Tahun 2009, maka lembaga pers mahasiswa Gema Justisia Fakultas Hukum Universitas Andalas mengadakan seminar membahas ”krisis berbahasa nasional” dikalangan generasi muda saat ini.

Seminar akan berlangsung di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unand Limau Manih Padang. Berlangsung Senin, 26 September 2011. Sebagai pemateri Gafar dari Badan Bahasa Nasional Jakarta akan membahas latar belakang lahirnya UU No 24 Tahun 2009. Sedangkan dari kalangan akademisi yaitu Feri Amsari mengenai peranan kampus untuk mengajak berbahasa Indonesia dengan baik.

“Seminar ini berkaitan untuk menyambut bulan bahasa. Sebagai lembaga pers kampus, maka peranan kita ingin memberikan yang terbaik buat bagaimana kawan-kawan mahasiswa tahu dengan UU NO 24 Tahun 2009,” ungkap Surya Purnama,ketua panitia pelaksana.

Ia juga menjelaskan bahwa pendaftaran peserta seminar terbuka untuk mahasiswa, guru, pelajar, masyarakat umum. Hanya dengan kontribusi Rp 15.000,- para peserta seminar akan mendapat fasilitas sertifikat, snack dan koran.Pendaftaran bisa dilakukan di sekretariat Gema Justisia di gedung mahasiswa di samping lapangan basket dekanat fakultas hukum Unand Limau Manih Padang. Bisa juga via sms ke nomor 085274986454. Atau daftar langsung pada hari H pas seminar.

PESTA DEMOKRASI YANG TERNODA

GEMA JUSTISIA – Beberapa waktu yang lalu fakultas hukum universitas andalas telah melakukan pesta demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden BEM FHUA. Dimana di ikuti oleh tiga pasang calon pemilihan.

Pesta demokrasi berlangsung hangat karena diikuti oleh tiga kandidat berpengaruh dan terkenal di lingkungan mahasiswa fakultas hukum universitas andalas dan sama-sama memiliki jumlah konstituen yang hampir sama banyak.

Banyak orang yang hadir pada saat penghitungan suara pemilihan presiden dan wakil presiden BEM FHUA, “ dag dig dug” mungkin itu bunyi jantung dari para pasangan calon. Dan yang keluar akhirnya sebagai pemenang adalah pasangan dari nomor urut satu, yaitu harju budiman dan rifki hermawan. Selamat!!!

Namun pada saat pelantikan presiden terpilih, yang mana dilakukan oleh anggota MPM yang baru. Para pasangan calon dari nomor 2 dan 3 datang menghadiri sidang MPM tersebut, mereka datang meminta keadilan yang menurut mereka terjadi kecurangan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden BEM.

Mereka seharusnya mengadukan masalah mereka pada lembaga yang mengatasi sengketa pemilu antara PPU dan pihak penggugat. Namun karena lembaga tersebut tidak ada di fakultas hukum kita tercinta mereka mengadu pada MPM sebagai wakil mereka untuk meminta keadilan.

Namun terjadi keributan, sebagian besar anggota MPM bersikeras untuk melanjutkan sidang sesuai agenda yang telah di tetapkan, karena usara mereka tidak di dengar maka pihak dari pasangan calon nomor urut dua dan tiga meminta sidang ditunda. Sehingga timbul keributan, yang akhirnya sidang diambil alih oleh pimpinan fakultas hukum universitas andalas yaitu PD III. Beliau menyarankan untuk sidang ditunda dan dicari solusi yang baik demi kebaikan semua.

“ kami menerima solusi yang diajukan oleh pimpinan, dan kami sangat menyayangkan pimpinan harus turun tangan untuk urusan mahasiswa seperti ini, hal ini seharusnya tidak terjadi jika MPM mendengarkan suara kami. kami tidak berusaha membatalkan hasil yang ditetapkan oleh PPU, kami sebelumnyameminta PPU memverifikasi tentang data kecurangan yang kami temui dilapangan, namun tidak dilakukan oleh PPU, jalan terkhir yang kami miliki hanyalah mengadu pada MPM sebagai wakil kami” kata calon presiden dari pasangan nomor urut 3 yang ditemui pada tanggal 19 mei 2011.

Karena tidak memiliki lembaga penyelesaian sengketa tentang hasil pemilu, kami menanyakan pada pihak pasangan nomor tiga apakah kita harus membentuk lembaga yudikatif? Beliau menjawab “itu wewenang DLM, sebenarnya tidak perlu jika MPM mau menjadi wakil rakyat yang benar-benar mewakili suara rakyat”

Dari kekacauan yang sempat muncul karena politik kampus, kita dapat melihat betapa sensitifnya masalah politik, baru ditingkat kampus saja sudah dapat menimbulkan ketegangan diantara konstituennya. Kekacauan yang terjadi tentu ada penyebabnya, penyebab ini seharusnya tidak perlu terjadi. Ketika kami menemui wakil dari pasangan nomor urut dua beliau mengatakan “ politik itu dahsyat sekali, dan seharusnya para pihak yang terlibat beriskap jujur dan menghindari sikap yang menimbulakan kecurigaan dari pihak tertentu. Kami sedih dengan apa yang terjadi, jika pada tingkat kampus saja sebagai tempat kita belajar sebelum terjun ke dunia luar telah terjadi perbuatan yang tidak mengenakkan dalam pesta demokrasi. Kami kasihan dengan nasib NKRI ini, karena kejujuran itu masih mahal”.

Sungguh hal yang menarik untuk kita simak tentang kekacauan ini, jika untuk jadi CAPRES dan WAPRES NKRI masih ada fasilitas yang diharapkan, dan ada gaji yang ditunggu. Sedangkan tidak ada yang di dapat secara materi, namun para calon begitu semangat menjadi pelayan rakyat Negara mahasiswa FHUA. Mungkin kita berpikir positif saja, mereka sangat ingin memberikan ide-ide yang ada dikepala mereka untuk membuat rakyat Negara mahsiswa FHUA dapat hidup tenang dan bahagia di FHUA.

Untuk pasangan yang terpilih kami menunggu ide-ide kreatifnya dalam menjalankan Negara mahasiswa ini. Perlu diketahui oleh pasangan terpilih bahwa jika pemerintahan mereka lebih buruk dari pemerintahan sebelumnya berarti mereka gagal, bahkan dalam islam itu neraka tantangannya. Sungguh begitu berat jadi pemimpin tersebut, namun kami percaya yang terpilih akan berusaha semaksimal mungkin dan membuat nama fakultas hukum menjadi lebih harum dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan leh BEM.

Pemindahan Perkuliahan Kampus Merah (Ekstensi) Akhirnya di Tunda Lagi

Buletin Perdana GEMA JUSTISIA
Oleh : Tasriyal (Pimpinan Umum Pers Mahasiswa GEMA JUSTISIA Fakultas Hukum Universitas Andalas)

Sejak tahun 2007 hingga saat ini di Fakultas Hukum Universitas Andalas khususnya di Fakultas Hukum Reguler Mandiri (ekstensi) yang berada di Jl. PANCASILA, dihebohkan dengan keberadaan sebuah informasi yang tidak jelas sumbernya yang hanya berupa isu belaka. Sekarang sepertinya informasi itu akan mencapai titik klimaks yang menjadi sebuah perbincangan yang menghebohkan.

Informasi itu isinya tentang kegiatan perkuliahan yang selama ini di JL.Pancasila akan dipindahkan ke UNAND LIMAU MANIS, itulah yang dikatakan oleh beberapa mahasiswa yang sedang berbincang-bincang di warung ibu yang berada depan Hotel New Castel JL.Pancasila. Banyaknya mahasiswa yang membicarakan tentang kepindahan kampus tersebut akhirnya menjadi topik yang memunculkan banyak pertanyaan. hal itu disebabkan karena ada beberapa mahasiswa yang setuju dengan kepindahan perkuliahan di kampus namun ada juga mahasiswa yang tidak setuju.

Continue reading “Pemindahan Perkuliahan Kampus Merah (Ekstensi) Akhirnya di Tunda Lagi”