Sejarah Gema Justisia

SURAT CINTA UNTUK SMOKER

Gema Justisia – Moment, misalnya minum kopi di pagi hari akan terasa lebih nikmat jika menghisap sebatang rokok, setelah makan akan terasa lebih lengkap jika ada rokok, dan masih banyak contoh lain yang dapat kita ambil dalam keseharian kita tentang rokok. Tanpa adanya rokok moment-moment tertentu akan terasa hambar dan kurang lengkap.

Bagi sebagian orang menganggap adalah penting dan teman dalam setiap kesempatan dan bagi sebahagian orang menganggap rokok dan merokok adalah suatu hal yang kurang baik dan tidakbaik untuk dilakukan (kebiasaan buruk)

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyuruh pembaca (perokok) untuk (berhenti) merokok atau untuk membatasi keinginan anda untuk merokok atau membeli rokok. Hanya saja tulisan singkat ini mencoba untuk memberikan sebuah pandangan lain tentang rokok dan bahaya rokok, karena telah sama-sama kita tahu bahwa rokok tersebut lebih banyak terdapat kerugian didalamnya dari pada untungnya.

  • Rokok merupakan pemicu stress

Perokok pada umumnya berasunmsi bahwa dengan merokok dapat membuat fikiran mereka terasa lebih lega dan rileks sehingga dan sangat baik untuk menghilangkan stress, begitu bunyinya. Tetapi ternyata adalah sebaliknya rokok merupakan pemicu stress. Sebagai contoh, ketika seorang perokok kehabisan uang pembeli rokok atau kehabisan rokok, maka ia akan berfikir bagaiman cara untuk bias mendapatkan rokok. Merupakan suatu keberuntungan ketika mereka bisa mendapatkan rokok, tetapi jika tidak berhasil tentunya akan menjadi sebuah beban/stress tersendiri.Sebenarnya rokok bukanlah suatu media yang dapat menghilangkan stress, tetapi didalam rokok tersebut terdapat sesuatu yang bernama nikotin yang menghasilkan senyawa didalam tubuh yang bernama dopamine yang memberikan ketergantungan terhadap rokok sehingga yang menyebabkan kita ingin untuk merokok.

  • Asap rokok lebih berbahaya bagi perokok pasif dibandingkan mereka yang merokok

bagi perokok pasif asap rokok bersifat karsinogen (pemicu kanker) disamping masih banyak ribuan bahan zat beracun yang terdapat didalam asap rokok yang berbahaya bagi perokok pasif terutama ibu-ibu dan anak-anak jika terhirup asap rokok dibandingkan perokok yang juga memiliki potensi besar untuk terkena kanker, serangan jantung, impotensi gangguan kehamilan serta janin.

  • Seorang perokok akan mebutuhkan biaya lebih dalam anggaran belanjanya tentunya untuk membeli rokok

biaya lebih dalam anggaran belanjanya tentunya untuk membeli rokok

Dan masih banyak lagi  hal lain mengenai bahaya rokok dan merokok bagi kehidupan manusia.

Jika dikaitkan antara bahaya merokok secara medis seperti yang telah dijelaskan diatas dihubungkan dengan nilai-nilai dan semangat pancasila yang pada saat sekarang masih dalam pembicaraan yang cukup hangat dan masih diperdebatkan maka akan terdapat hubungan bahwa rokok (nikotin) adalah penyebab terdegradasinya nilai-nilai dan semangat yang terdapat didalam pancasila. Seperti yang diuraikan sebutkan diatas bahwa nikotin adalah pemicu yang menjadikan perokok butuh untuk merokok, jadi bahaya nikotin tersebut adalah:

  • Menciptakan rasa butuh terhadap rokok

Dengan adanya rasa butuh terhadap rokok secara langsung telah menimbulkan budaya hidup boros karena  orang akan menghabiskan “membakar uang” hanya untuk membeli rokok. Padaha pancasila mengajarkan kepada kita dan manusia Indonesia umumnya untuk hidup secara sederhana dan tidak berlebihan. Ketika seorang perokok meniupkan asap rokok keluar dari mulutnya ketika berada ditempat umum secara langsung dan tidak sadar seorang perokok telah mencemari udara disekitarnya dan secara langsung dan tidak sadar telah meniadakan esensi kemanusiaan dari manusia-manusia yang ada disekitarnya. Karena asap rokok dapat mengganggu ketenangan dan ketentraman manusia lain untuk hidup dan menghirup udara segar. Dengan sedikit rsa pengabaian tersebut secara tidak langsung telah memutus tali cinta antar sesame manusia  yang pada hakikatnya menjadi pengikat kehidupan manusia dengan cara mengutamakan kebutuhan pribadi untuk merokok dan meniadakan hak-hak manusia lain yang juga berhak untuk menghirup udara bersih dan lingkungan yang bersih.

Beberapa hal diatas hanyalah beberapa point yang tampak nyata dalam keseharian kita. Sebagai manusia kita berhak memilih karena sudah menjadi suatu prerogatif bagi stiap kita tanpa adanya rasa untuk mendiskreditkan pembaca (perokok). Sebagai bangsa yang besar menuntut kita untuk cerdas dan mengamalkan nilia-nilai yang menjadi cirri khas yang membedakan kita dengan bangsa lain. Tergantung kepada masing-masing kita untuk menyikapinya. Dan pada hakikatnya manusia selalu ingin memperoleh keuntungan yang besar salah satu caranya adalah dengan meniinggalkan hal-hal yang bersifat merugikan.

KISAH TUKANG SOL SEPATU

GEMA JUSTISIA – Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, masih belum jadi tuan rumah di negeri sendiri. Salah satu penyebabnya, kurangnya minat kaum muda untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Padahal, dalam UU No 24 Tahun 2009 telah dijelaskan bahwa bahasa, bendera, lagu kebangsaan diatur untuk jadi amanat konstitusi.

Tantangannya memang cukup berat. UU telah disahkan, tapi pelaksanaan masih belum optimal. Untuk lebih mengenal UU No 24 Tahun 2009, maka lembaga pers mahasiswa Gema Justisia Fakultas Hukum Universitas Andalas mengadakan seminar membahas ”krisis berbahasa nasional” dikalangan generasi muda saat ini.

Seminar akan berlangsung di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unand Limau Manih Padang. Berlangsung Senin, 26 September 2011. Sebagai pemateri Gafar dari Badan Bahasa Nasional Jakarta akan membahas latar belakang lahirnya UU No 24 Tahun 2009. Sedangkan dari kalangan akademisi yaitu Feri Amsari mengenai peranan kampus untuk mengajak berbahasa Indonesia dengan baik.

“Seminar ini berkaitan untuk menyambut bulan bahasa. Sebagai lembaga pers kampus, maka peranan kita ingin memberikan yang terbaik buat bagaimana kawan-kawan mahasiswa tahu dengan UU NO 24 Tahun 2009,” ungkap Surya Purnama,ketua panitia pelaksana.

Ia juga menjelaskan bahwa pendaftaran peserta seminar terbuka untuk mahasiswa, guru, pelajar, masyarakat umum. Hanya dengan kontribusi Rp 15.000,- para peserta seminar akan mendapat fasilitas sertifikat, snack dan koran.Pendaftaran bisa dilakukan di sekretariat Gema Justisia di gedung mahasiswa di samping lapangan basket dekanat fakultas hukum Unand Limau Manih Padang. Bisa juga via sms ke nomor 085274986454. Atau daftar langsung pada hari H pas seminar.

PESTA DEMOKRASI YANG TERNODA

GEMA JUSTISIA – Beberapa waktu yang lalu fakultas hukum universitas andalas telah melakukan pesta demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden BEM FHUA. Dimana di ikuti oleh tiga pasang calon pemilihan.

Pesta demokrasi berlangsung hangat karena diikuti oleh tiga kandidat berpengaruh dan terkenal di lingkungan mahasiswa fakultas hukum universitas andalas dan sama-sama memiliki jumlah konstituen yang hampir sama banyak.

Banyak orang yang hadir pada saat penghitungan suara pemilihan presiden dan wakil presiden BEM FHUA, “ dag dig dug” mungkin itu bunyi jantung dari para pasangan calon. Dan yang keluar akhirnya sebagai pemenang adalah pasangan dari nomor urut satu, yaitu harju budiman dan rifki hermawan. Selamat!!!

Namun pada saat pelantikan presiden terpilih, yang mana dilakukan oleh anggota MPM yang baru. Para pasangan calon dari nomor 2 dan 3 datang menghadiri sidang MPM tersebut, mereka datang meminta keadilan yang menurut mereka terjadi kecurangan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden BEM.

Mereka seharusnya mengadukan masalah mereka pada lembaga yang mengatasi sengketa pemilu antara PPU dan pihak penggugat. Namun karena lembaga tersebut tidak ada di fakultas hukum kita tercinta mereka mengadu pada MPM sebagai wakil mereka untuk meminta keadilan.

Namun terjadi keributan, sebagian besar anggota MPM bersikeras untuk melanjutkan sidang sesuai agenda yang telah di tetapkan, karena usara mereka tidak di dengar maka pihak dari pasangan calon nomor urut dua dan tiga meminta sidang ditunda. Sehingga timbul keributan, yang akhirnya sidang diambil alih oleh pimpinan fakultas hukum universitas andalas yaitu PD III. Beliau menyarankan untuk sidang ditunda dan dicari solusi yang baik demi kebaikan semua.

“ kami menerima solusi yang diajukan oleh pimpinan, dan kami sangat menyayangkan pimpinan harus turun tangan untuk urusan mahasiswa seperti ini, hal ini seharusnya tidak terjadi jika MPM mendengarkan suara kami. kami tidak berusaha membatalkan hasil yang ditetapkan oleh PPU, kami sebelumnyameminta PPU memverifikasi tentang data kecurangan yang kami temui dilapangan, namun tidak dilakukan oleh PPU, jalan terkhir yang kami miliki hanyalah mengadu pada MPM sebagai wakil kami” kata calon presiden dari pasangan nomor urut 3 yang ditemui pada tanggal 19 mei 2011.

Karena tidak memiliki lembaga penyelesaian sengketa tentang hasil pemilu, kami menanyakan pada pihak pasangan nomor tiga apakah kita harus membentuk lembaga yudikatif? Beliau menjawab “itu wewenang DLM, sebenarnya tidak perlu jika MPM mau menjadi wakil rakyat yang benar-benar mewakili suara rakyat”

Dari kekacauan yang sempat muncul karena politik kampus, kita dapat melihat betapa sensitifnya masalah politik, baru ditingkat kampus saja sudah dapat menimbulkan ketegangan diantara konstituennya. Kekacauan yang terjadi tentu ada penyebabnya, penyebab ini seharusnya tidak perlu terjadi. Ketika kami menemui wakil dari pasangan nomor urut dua beliau mengatakan “ politik itu dahsyat sekali, dan seharusnya para pihak yang terlibat beriskap jujur dan menghindari sikap yang menimbulakan kecurigaan dari pihak tertentu. Kami sedih dengan apa yang terjadi, jika pada tingkat kampus saja sebagai tempat kita belajar sebelum terjun ke dunia luar telah terjadi perbuatan yang tidak mengenakkan dalam pesta demokrasi. Kami kasihan dengan nasib NKRI ini, karena kejujuran itu masih mahal”.

Sungguh hal yang menarik untuk kita simak tentang kekacauan ini, jika untuk jadi CAPRES dan WAPRES NKRI masih ada fasilitas yang diharapkan, dan ada gaji yang ditunggu. Sedangkan tidak ada yang di dapat secara materi, namun para calon begitu semangat menjadi pelayan rakyat Negara mahasiswa FHUA. Mungkin kita berpikir positif saja, mereka sangat ingin memberikan ide-ide yang ada dikepala mereka untuk membuat rakyat Negara mahsiswa FHUA dapat hidup tenang dan bahagia di FHUA.

Untuk pasangan yang terpilih kami menunggu ide-ide kreatifnya dalam menjalankan Negara mahasiswa ini. Perlu diketahui oleh pasangan terpilih bahwa jika pemerintahan mereka lebih buruk dari pemerintahan sebelumnya berarti mereka gagal, bahkan dalam islam itu neraka tantangannya. Sungguh begitu berat jadi pemimpin tersebut, namun kami percaya yang terpilih akan berusaha semaksimal mungkin dan membuat nama fakultas hukum menjadi lebih harum dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan leh BEM.

KKN TAKKAN TERHENTI

KKN dapat dikatakan takkan terhenti selama kita menerapkan system pemberantasan korupsi yang ada. Dimana system yang ada terlalu focus pada upaya represif. System itu hanya akan sia-sia, karena ada hal yang penting yang dilupakan oleh bangsa ini. Yaitu upaya prevnetif.

Kebanyakan dari kita ketika mendengar upaya pencegahan preventif, maka itu berupa tindakan terstruktur untuk mencegah sesuatu terjadi. Namun ada upaya yang lebih tidak memerlukan structural tertentu, yaitu memperbaiki gaya hidup. Karena semua masalah rata-rata bersumber dari gaya hidup yang kacau.

Upaya preventif dengan mengubah gaya hidup itu lebih efektif disbanding upaya represif, hal itu karena upaya represif ibarat membendung sungai tanpa ada penyalurannya, lama-lama bendungan itu sendiri yang roboh atau air melebihinya dan keluar melebihi batas bendungan. Jika dikembalikan pada bentuk KKN, maka KKN semakin hario hanya akan semakin banyak, bahkan bisa mengajak orang yang menghalangi KKN itu untuk melakukan KKN juga. Atau modus KKN makin lama makin canggih melebihi kemampuan penegak hukum.

KKN hanya bisa dihilangkan jika kita mulai dengan tidak melakukan KKN pada tingkat terendah, yang mana pelakunya adalah masyarakat umum. Missal masyarakat dapat menghilangkan sifat KKN nya dalam urusan lalu lintas dengan aparat kepolisian jika mematuhi lalu lintas. Dan para orang kaya tidak perlu menyogok para penerima pegawai untuk dapat meloloskan anaknya bekerja pada instansi pemerintah, tapi cukup menjadikan anaknya seorang anak yang pintar.

Kita tidak dapat menyalahkan pemerintah akan kegagalan dalam memberantas korupsi, karena semua masyarakatnya sendiri korupsi, apa mungkin pemerintah menangkap semua masyarakatnya?

Bahkan para mahasiswa tidak dapat bersorak menghina pemerintah ketika mereka sendiri sebagai calon pemimpin Negara ini nantinya sendiri telah membudayakan salah satu sifat yang nantinya akan menjadi pendorong untuk melakukan korupsi setelah menjabat nantinya. Perbuatan curang disini dapat berupa ujian mencontek, perbuatan mencontek hanya untuk kesenangan dari pelakunya, tidak peduli pada upaya orang lain yang berusaha belajar keras.

Bagi teman-teman mahasiswa sebaiknya mereka menjadi sapu bersih untuk membersihkan sesuatu yang kotor, karena jika tidak mereka akan membuat suatu yang kotor dengan jenis terbaru atau bisa menambah kotor sesuatu yang sudah kotor.

Kenapa Soekarno berkata “ beri aku sepuluh pemuda yang jujur akan saya guncang dunia” padahal ada banyak sifat baik lainnya? Itu dikarenakan dengan kejujuran seseorang tidak mungkin melakukan korupsi, dan seseorang yang jujur memberikan efek sistemik pada orang disekitarnya. Karena dia ada orang jadi segan untuk berbuat korupsi, apalagi jika dia menjadi sang pemimpin yang diharapkan.

Jangankan sepuluh pemuda jujur, satu pemuda jujur saja dapat mengguncang dunia dengan semua kemulian yang dimilikinya dan semua kebaikan yang ditebarnya dimuka bumi, yaitu MUHAMMAD. Dia pemuda jujur yang berasal dari daratan yang gersang, namun saat ini dapat kita lihat dari hasil kejujurannya, dia menjadikan tanah gersang tersebut menjadi Tujuan dunia.

Kita tidak dapat membayangkan jika ada sepuluh pemuda jujur di Negara ini, entah seperti apa rupa dari Negara ini. Mungkin akan tercipta Negara surga  nyata di muka bumi ini.

Keteraturan sebuah Negara tergantung pada gaya hidup masyarakatnya, jika hal itu tidak dapat terwujud maka dibutuhkan aturan untuk itu, namun di Negara ini aturan sudah berlimpah apalagi aturan tentang korupsi, bahkan lembaga yang mengurus masalah korupsi tidak hanya satu, hal ini menunjukkan betapa akutnya penyakit korupsi di Negara ini.

Karena aturan atau pedoman yang banyak, seharusnya korupsi tidak lepas dari jarring hukum, namun ketika hendak menjaring para pelaku korupsi ternyata ikan koruptor masih bisa lolos dengan bebas di lautan luas.

Sama-sama kita ketahui bahkan beberapa hari terakhir ini ada pengak hukum yang tertangkap karena urusan korupsi, mereka yang sering berurusan dengan masalah hukum malah terjebak oleh gelapnya dunia perbuatan melawan hukum.

Setelah kita ketahui hal tersebut, begitu bagus system yang kita punya, ternyata tidak menyelesaikan masalah, jawaban dari pemberantasan korupsi adalah manusianya. Mari kita berubah menjadi pemuda yang diharapkan Soekarno tersebut. Dengan begitu korupsi dapat di minimalisir.

Hindarilah perbuatan yang membuat terjadi peristiwa yang menuntut kita harus melakukan korupsi, seperti maslah lallu lintas, kita tidak perlu menyuap polisi jika kita mematuhi aturan lalu lintas dengan sebaiknya. Polisi selalu dalam kondisi dilematis, ketika ada masyarakat menyodorkan uang kepada mereka tentu mereka menerimanya, karena siapakah manusia yang tidak suka uang? Ibarat pepatah minang “ tatungkuik kuah ka dalam nasi”

KORUPSI OH KORUPSI

Sebelum kita membahas mengenai “Korupsi”, baiknya kita harus mengetahui tentang dasar atau pengertian dari kata “Korupsi” itu sendiri. Berasal dari bahasa Latin corruptio, dari kata kerja corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Transparency International mendefenisikan korupsi sebagai perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Sedangkan koruptor adalah orang yang melakukan kegiatan itu.

Cerita Tentang korupsi bukan hal yang biasa di negeri kita. Tapi korupsi yang melibatkan ‘orang-orang baik’ telah menjadi penyakit yang menggerogoti manusia dalam kehidupan sehari-hari. Korupsi sekali lagi mebutakan para pejabat, penguasa dan mereka yang berlabel orang baik. Bahkan di lingkup kampus (mahasiswa, birokrat) praktek haram ini biasa juga terjadi secara kecil-kecilan. Walau untuk mengungkapnya butuh investigasi yang sangat mendalam. Akibat prilaku para koruptor tersebut membuat negeri ini terpuruk dan berada pada posisis buntut sebagai negara terkorup. Di Asia, Negeri ini bersama Bangladesh adalah negara terkorup. Parahnya lagi, dari semua kasus korupsi, lembaga legislatif (parlemen) menjadi institusi paling korup. Slank pun merilis lagu untuk menyinggung para wakil rakyat di gedung dewan tersebut. ”Mau tau gak mafia di Senayan? Kerjanya tukang buat peraturan. Bikin UUD, ujung-ujungnya duit.” Begitulah slank mengilustrasikan kerja para anggota dewan. Ironisnya, sebagian wakil rakyat yang merasa tersinggung inign menuntu grup musik tersebut.

Prilaku korupsi telah merajalela dan terjadi secara sistematis. Suap menyuap demi kelancaran proyek menjadi sesuatu yang dianggap lumrah/lazim dan tak melanggar norma dan pranata sosial. Setelah anggarannya disetujui, maka tambahan fulus pun akan mangalir ke kantong-kantong para wakil rakyat tersebut. Aneh bin ajaib, mungkin ini yang disebut mencuri uang (rakyat) di rumah sendiri dan mereka (koruptor) dikenal sebagai tikus dalam karung. Kebudayaan kita memang tak seperti di Jepang, masyarakatnya melakukan Harakiri apabila telah berbuat malu demgan menjadi koruptor. Begitu juga di Cina yang mengharuskan hukuman mati buat para pencuri uang rakyat. Tapi masyarakat Bugis-Makassar memiliki nilai siri na pacce sebagai prinsip yang mengatur kehidupan. Apabila itu dilanggar, maka harga dirinya akan hilang. Ironisnya, koruptor mungkin telah melupakan nilai itu. Sebab mereka tak merasa malu atau berdosa jika mencuri uang rakyat.

Fenomena terbaru dari koruptor kita baru-baru ini ialah kabur keluar negri setelah terjerat kasus manipulasi dan korupsi.Mereka beralasan mengaku berobat keluar negri karena menderita sakit. Sakit yang timbul pun aneh-aneh,ada yang sakit lupa berat,kanker,dan lain-lain. HaL tersebut terjadi akibat pemerintah lalai atau terlambat melakukan pencekalan. Ketika ada indikasi seorang pelaku kasus kriminal sudah melarikan diri ke luar negeri, masih seperti yang dulu, pihak Imigrasi selalu beralasan tidak melakukan pencekalan karena kami belum menerima perintah resmi dari Kepolisian. Sementara pihak Bareskrim berkelit, bahwa secara informal permintaan pencekalan itu sudah kami sampaikan. begitu sulitnya membangun kerja-sama antar lembaga atau intansi di pemerintahan ini. Begitu sulitnya membangun sistem pencekalan yang efektif. Lantas, sampai kapan sistem pencekalan yang buruk dan terlalu birokratis ini akan terus dipertahankan?

Mungkin itu sedikit gambaran mengenai “Korupsi” di Indonesia.Kita tidak akan pernah tau kapan fenomena ini akan berakhir,korupsi tidak hanya fenomena biasa tetapi telah menjadi budaya di masyarakat. Negri kita butuh restorasi atau perubahan yang seluas-luasnya,pendidikan moral dan agama merupakan sarana utama untuk mendukung perubahan tersebut. Singkat kata “mulailah dari diri sendiri”.

Sang Aktivis Dalam Jiwa Seorang Moh. Mahfud Md

Sekilas info mengenai sepak terjang Pak. Moh. Mahfud MD yang kerap dipanggil dengan Mahfud MD tentu telah banyak yang ditorehnya, dengan kedudukannya sebagai Ketua Mahkamah Konstiusi ini merupakan salah satu pencapaian yang luar biasa bagi Pak Mahfud MD.

Semua berawal ketika seorang pemuda kelahiran Omben, Sampang Madura pada tanggal 13 Mei 1957 yang berasal Desa Plakpak, Kecamatan Pangantenan ini kuliah S1 di Fakultas Hukum, Jurusan Hukum Tata Negara, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, dan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan (Sasdaya) Jurusan Sastra Arab, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Dengan dua kuliah di dua tempat yang berbeda pula, pasti tidak menutup kemungkinan untuk adanya kesulitan keuangan untuk biaya kuliah dan biaya hidupnya Pak Mahfud MD, tapi permasalahan ini teratasi dengan adanya beasiswa-beasiswa yang diterimanya sebagai penghargaan atas prestasinya yang mengagumkan. Prestasi dan beasiswa tak hanya berhenti di situ saja, ketika melanjutkan S2 di Program Pasca Sarjana S2, Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan S3 di Program Doktoral S3, Ilmu Hukum Tata Negara, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, beliaupun masih terus menerima beasiswa-beasiswa penunjang pendidikannya. Sungguh catatan perjalanan pendidikan yang luar biasa.

Namun selain dikaruniai otak yang encer, beliau juga memiliki minat yang tinggi terhadap organisasi. Hal ini berawal ketika seorang Mahfud MD remaja tertarik menyaksikan hingar bingarnya sebuah kampanye pemilu. Dan dari sinilah bibit-bibit kecintaannya pada politik dan organisasinya terlihat. Pada masa kuliah, kecintaannya terhadap politik dan organisasi semakin membuncah dan disalurkannya dengan malang melintang di berbagai organisasi kemahasiswaan intra universitaa, diantaranya adalah Senat Mahasiswa, Badan Perwakilan Mahasiswa, dan Pers Mahasiswa. Sebelumnya Pak Mahfud MD juga aktif di organisasi ekstra universitas diantaranya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pilihannya pada HMI didorong oleh pemahamannya terhadap medan politik di Universitas Islam Indonesia. Saat itu untuk bisa menjadi  pimpinan organisasi intra kampus harus ber-”title”  sebagai aktivis HMI.

Namun dari beberapa organisasi intra kampus yang pernah beliau ikuti, hanya Lembaga Pers Mahasiswa yang paling beliau tekuni. Sejarah mencatat beliau pernah menjadi pimpinan di majalah Mahasiswa Keadilan (Lembaga Pers Mahasiswa di tingkat fakultas hukum), ia juga memimpin Majalah Mahasiswa Muhibbah (Lembaga Pers Mahasiswa di tingkat universitas). Karena begitu kritis terhadap pemerintah Orde Baru, Majalah Muhibbah yang dipimpin oleh beliau pernah dibreidel sampai dua kali. Pertama dibreidel oleh Pangkopkamtib Soedomo (pada tahun 1978) dan terakhir dibreidel oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo pada tahun 1983.

Dalam jenjang kariernya, Pak Mahfud MD awalnya lebih dikenal sebagai staf pengajar dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sejak tahun 1984. Sebelum menjabat sebagai Hakim Konstitusi, beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI (2000-2001), Menteri Kehakiman dan HAM (2001), Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (2002-2005), Rektor Universitas Islam Kadiri (2003-2006), Anggota DPR-RI, duduk Komisi III (2004-2006), Anggota DPR-RI, duduk Komisi I (2006-2007), Anggota DPR-RI, duduk di Komisi III (2007-2008), Wakil Ketua Badan Legislatif DPR-RI (2007-2008), Anggota Tim Konsultan Ahli Pada Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum-HAM Republik Indonesia. Selain itu, beliau juga masih aktif mengajar di Universitas Islam Indonesia (UII), UGM, UNS, UI, Unsoed, dan lebih dari 10 Universitas lainnya. Selain itu juga pada program Pasca Sarjana S2 & S3.

Salah satu hal yang mendorong Pak Mahfud MD  ini untuk menjadi hakim konstitusi adalah panggilan hatinya sebagai ahli hukum tata negara. Selain itu juga karena beliau tertarik dengan perkembangan Mahkamah Konstitusi. Di luar faktor itu, Pak Mahfud MD  juga mengaku diajak oleh Jimly Asshiddiqie untuk berjuang di Makhamah Konstitusi dalam rangka membangun Indonesia dengan konstitusi yang benar. Keduanya sering bertemu karena posisinya yang sama-sama sebagai ketua asosiasi hukum tata Negara.

Dalam pandangan Pak Mahfud MD, sebagai lembaga Negara, Mahkamah Konstitusi tidak diragukan lagi kredibilitasnya. Bukan karena beliau sedang memimpin lembaga penafsir konstitusi tersebut, tetapi lebih disebabkan lembaga ini sama sekali belum pernah tersentuh alias steril dari sandungan kasus hukum. Beliau menyebut ada tiga lembaga Negara yang menurutnya bagus dan bersih yaitu, Mahkamah Konstitusi, KY, dan KPK. Tetapi sebagus-bagus KY dan KPK, Mahkamah Konstitusi-lah yang dinilai paling bersih dari noda, sebab KY dan KPK pernah kecolongan dengan tingkah pelanggaran hukum oleh oknumnya yang sedikit banyak mencederai kredibilitas dua lembaga negara tersebut.

Mengenai target Pak Mahfud MD sebagai hakim konstitusi, beliau justru menuturkan tidak punya target apa-apa. Beliau akan bekerja mengalir saja sesuai dengan kewenangan yang diberikan. Sebab bagi Pak Mahfud MD, jabatan hakim konstitusi berbeda dengan jabatan di birokrasi lain seperti menteri atau lainnya. Kalau posisi menteri memang harus kreatif dan mendinamisir banyak program, sementara hakim konstitusi sebaliknya, tidak boleh banyak program. Kalau hakim konstitusi banyak program justru akan berpotensi melanggar kewenangannya. Catatan masa muda dan perjalanan karier yang sangat patut dicontoh oleh kami yang muda-muda ya, Pak!

Pemindahan Perkuliahan Kampus Merah (Ekstensi) Akhirnya di Tunda Lagi

Buletin Perdana GEMA JUSTISIA
Oleh : Tasriyal (Pimpinan Umum Pers Mahasiswa GEMA JUSTISIA Fakultas Hukum Universitas Andalas)

Sejak tahun 2007 hingga saat ini di Fakultas Hukum Universitas Andalas khususnya di Fakultas Hukum Reguler Mandiri (ekstensi) yang berada di Jl. PANCASILA, dihebohkan dengan keberadaan sebuah informasi yang tidak jelas sumbernya yang hanya berupa isu belaka. Sekarang sepertinya informasi itu akan mencapai titik klimaks yang menjadi sebuah perbincangan yang menghebohkan.

Informasi itu isinya tentang kegiatan perkuliahan yang selama ini di JL.Pancasila akan dipindahkan ke UNAND LIMAU MANIS, itulah yang dikatakan oleh beberapa mahasiswa yang sedang berbincang-bincang di warung ibu yang berada depan Hotel New Castel JL.Pancasila. Banyaknya mahasiswa yang membicarakan tentang kepindahan kampus tersebut akhirnya menjadi topik yang memunculkan banyak pertanyaan. hal itu disebabkan karena ada beberapa mahasiswa yang setuju dengan kepindahan perkuliahan di kampus namun ada juga mahasiswa yang tidak setuju.

Continue reading “Pemindahan Perkuliahan Kampus Merah (Ekstensi) Akhirnya di Tunda Lagi”

Persma: Media Komunikasi Mahasiswa

                Pers Kampus adalah media yang diterbitkan oleh mahasiswa untuk mahasiswa di dalam kampus perguruan tinggi. Karenanya, Pers Kampus sering pula disebut “Pers Mahasiswa”.

Di Amerika Serikat dan Eropa Barat, Pers Kampus dinamakan Student Newspapers (Suratkabar atau Koran Mahasiswa) atau Student Publications (Penerbitan Mahasiswa), bukan Campus Press karena istilah Pers Kampus sebenarnya mencakup berbagai penerbitan yang ada di lingkungan kampus, seperti majalah ilmiah yang diterbitkan pihak universitas atau fakultas, buku-buku teks, dan diktat materi perkuliahan.

Di Indonesia, yang dimaksud Pers Kampus adalah media massa yang dikelola oleh mahasiswa di sebuah kampus perguruan tinggi, baik berupa majalah, jurnal, buletin, maupun suratkabar. Mangsa pasarnya atau target pembacanya adalah kalangan mahasiswa juga.

Untuk dapat mengelola sebuah Pers Kampus, mutlak diperlukan pemahaman tentang hakikat Pers Kampus itu sendiri yang berbeda dengan pers umum (non-kampus).

KARAKTERISTIK

Karena lahir dari mahasiswa, dikelola oleh mahasiswa, dan target utama pembacanya mahasiswa juga, maka karakteristik utama Pers Kampus adalah elitis. Tegasnya, Pers Kampus masuk kategori Elite Papers. Visi, misi, dan isinya ditujukan untuk kepentingan mahasiswa juga atau seluruh sivitas akademika, jangan diarahkan menjadi pers umum. Pers Kampus juga harus mampu mencerminkan sosok mahasiswa sebagai agent of change dan bebas dari vested interest pihak tertentu.

Pakar jurnalistik dari Universitas Stanford, William L. Rivers, sebagaimana dikutip Assegaf (1985:104), mengemukakan karakteristik ideal sebuah Pers Kampus sebagai berikut:

  1. Harus mengikuti pendekatan jurnalistik yang serius
  2. Harus berisikan kejadian-kejadian yang bernilai berita bagi lembaga dan kehidupannya.
  3. Harus menjadi wadah bagi penyaluran ekspresi mahasisw.
  4. Haruslah mampu menjadi pers yang diperlukan oleh komunitas kampusnya.
  5. Tidak boleh menjadi alat klik atau permainan yang memuaskan kelompok kecil di kampus. 6. Harus dapat memenuhi fungsinya sebagai media komunikasi.