Putusan Sela dalam Perspektif KUHAP

Putusan sela memiliki peranan penting dalam tahap pemeriksaan perkara pidana. Untuk itu perlu pemahaman mendasar mengenai putusan sela.

Putusan sela adalah putusan yang dijatuhkan pada saat pemeriksaan perkara dan belum membahas mengenai pokok perkara yang disebutkan dalam surat dakwaan. Putusan sela ada karena nota keberatan yang disampaikan oleh Penasihat Hukum Terdakwa atas surat dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum.

Putusan sela ini tidak mengakhiri proses pemeriksaan perkara dan masih tetap berlaku sampai adanya putusan lain yang mengikat. Putusan sela dibuat secara tertulis, disampaikan pada sidang terbuka untuk umum. Putusan sela juga dibuatkan berita acara sidang putusan sela.

Ketentuan mengenai putusan sela dijelaskan dalam Pasal 156 ayat (1) dan ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) sebagai berikut:
(1) Dalam hal terdakwa atau penasihat hukum mengajukan keberatan bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili perkaranya atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan, maka setelah diberi kesempatan kepada penuntut umum untuk menyatakan pendapatnya, hakim mempertimbangkan keberatan tersebut untuk selanjutnya mengambil keputusan.
(2) Jika hakim menyatakan keberatan tersebut diterima, maka perkara itu tidak diperiksa lebih lanjut, sebaiknya dalam hal tidak diterima atau hakim berpendapat hal tersebut baru dapat diputus setelah selesai pemeriksaan, maka sidang dilanjutkan.

Berdasarkan pasal tersebut didapatkan bahwa, apabila hakim menyatakan putusan sela yang pada pokoknya menerima keberatan dari terdakwa, dengan alasan penolakan yaitu pengadilan negeri tersebut tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara, maka surat dakwaan tidak diterima atau dapat dibatalkan sehingga proses pemeriksaan perkara akan dihentikan.

Apabila isi dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap (obscuur libel), maka hakim akan mengeluarkan penetapan atau putusan yang menyatakan surat dakwaan batal demi hukum.

Berbeda halnya jika hakim menolak keberatan terdakwa, maka dakwaan tersebut diterima dan hakim memerintahkan proses pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan sidang pembuktian.

Terhadap putusan sela ini dapat dilakukan upaya hukum oleh Jaksa Penuntut Umum, apabila merasa keberatan yaitu dengan mengajukan perlawanan pada Pengadilan Tinggi melalui Pengadilan Negeri bersangkutan.

Penulis: NA
Editor: ZA

Semalam Bersama Studio Merah Wadah bagi Anggota Muda Untuk Berkarya

Jumat(3/5) telah diadakan acara Semalam Bersama Studio Merah di Museum Adityawarman. Semalam Bersama Studio Merah atau disebut SBSM 2019 mengusung tema “Manusia Tanpa Wajah” dengan konsep Kemanusiaan dan diangkat oleh anggota muda studio merah yakni peserta open recruitment yang telah melalui tahap seleksi.

SBSM 2019 menampilkan berbagai tampilan seperti tari tradisional, tari modern, tari kreasi, teater, drama komedi, pantomim, akustik, musik kontemporer, musikalisasi dan dramatisasi puisi serta pameran seni rupa dan galeri puisi. Acara yang terbuka untuk umum ini juga dihadiri oleh Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Andalas, Wakil Presiden BEM NM FHUA, Ketua DLM FHUA, serta para alumni Studio Merah.

“Semalam bersama studio merah merupakan proses bersama antara anggota aktif, anggota kehormatan maupun anggota istimewa dari studio merah dengan calon anggota aktif dari studio merah. Proses ini melalui beberapa waktu sebelumnya dan telah terlaksana hari ini, semoga penonton dapat menikmati acara semalam bersama studio merah” tutur Abdul Malik Zaky Repdemen, Koordinator Umum Studio Merah pada pembukaan Jumat (3/5) lalu.

Bagi Muhammad Raihan G selaku Ketua pelaksana SBSM 2019, “anggota muda diberi kebebasan untuk berkarya, jadi garapan-garapan tidak hanya diberikan kepada anggota tim tetapi kami juga diberi kebebasan untuk berkesenian” selanjutnya ia menuturkan, “persiapan acara ini terbilang singkat, hanya 3 minggu sebelumnya”.

Reporter : Zhilvia Assura

Sejarah Gema Justisia

Berawal dari kegiatan diskusi dan tulis menulis, angkatan tahun 90-an yang terdiri dari FITRA YOGA SAMBAS, RINALDO, FITHRIADI DAN ZENWEN PADAR mengawali perjalanan Pers Kampus FHUA dengan menerbitkan Buletin Gema Justisia untuk pertama kalinya pada tahun 1993.

Ternyata perjalanan Pers Kampus ini tidak berjalan mulus. Setahun sejak terbitan pertama, Gema Justisia mengadakan Wawancara ekslusif dengan ADNAN BUYUNG NASUTION yang mengkritisi secara tajam kebijakan orde baru. Alhasil Pemimpin Redaksi Gema Justisia saat itu, FITHRIADI, dipanggil untuk diinterogasi pihak KODIM PADANG. Meskipun penerbitan buletin pada saat itu terbatas untuk kalangan internal FHUA saja, namun Gema Justisia tetap mendapat kecaman keras dari pihak Fakultas yang berada dalam posisi serba salah menghadapi kelakuan mahasiswa.

Kejadian tersebut justru semakin menumbuhkan jiwa kritis Wartawan Gema. Walaupun sempat vakum selama 2 tahun (2001-2003), Gema kembali bangkit dengan mengadakan DIKLAT Jurnalistik I se-Kota Padang yang melahirkan jurnalis-jurnalis baru. Disinilah babak baru dari perjalanan Pers Kampus FHUA dimulai.

Saat kepemimpinan Reni Sunarti (Pemimpin Umum Tahun 2003) Gema ikut serta dalam peliputan berita demo-demo akbar, salah satunya Demo tolak pesangon DPRD Sumbar dan bahkan berhasil mewawancarai Ketua Anggaran DPRD Sumbar secara Ekslusif. Selain itu beberapa wartawan Gema pernah magang di Harian Lokal Padang Ekspress dan diserahi tanggung jawab untuk mengisi satu kolom penuh.

Eksistensi Gema tidak sampai disitu, pada kepemimpinan Risfa Neltasia (Pemimpin Umum 2005-2006), Gema semakin disorot. Bahkan pada demo kenaikan BBM, wartawan Gema dapat masuk kedalam Kantor Gubernur yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Hal ini membuktikan bahwa wartawan Gema dapat disejajarkan dengan wartawan lainnya. Dan saat kepemimpinan Netha pula, wartawan Gema berhasil melakukan Wawancara Ekslusif dengan Bagir Manan dan Dubes RI untuk Ethiopia.

Namun dalam 2 tahun belakangan ini semenjak tahun 2008 gema sempat fakum dan hanya menerbitkan buletin beberapa kali. Dan pada saat sekarang ini dibawah pimpinan Eko Kurniawan (Pemimpin Umum 2010-2011) Gema Justisia perlahan mulai bangkit kembali melakukan liputan-liputan berita, melakukan kunjungan-kunjungan keberbagai media cetak dipadang serta organisasi-organisasi pers kampus lainnya yang ada di Universitas Andalas dan universitas lainnya dikota Padang. Selain itu Gema Justisia juga aktif dalam berbagai kegiatan, seperti Diklat Jurnalistik tingkat Universitas. Semenjak maraknya bergulir jurnalisme online pada zaman sekarang ini, alhamdulilah Gema Justicia telah mencoba ikut hijrah ke sistim online dengan menyajikan kabar yang aktual-cepat sampai ke pembaca.

Mungkin ini hanyalah sekelebat kata-kata yang terdengar klise. Tiada maksud lain, kami hanya ingin memperkenalkan diri kami. Dan jika teman-teman ingin turut merasakan apa yang kami rasakan berada di Gema Justisia, bergelut di bidang jurnalistik. Inilah saat yang tepat bagi teman-teman 2009 dan 2010 untuk unjuk gigi dan bergabung dengan kami dalam keluarga besar Lembaga Pers Mahasiswa Gema Jusitisia. Karena kita MEDIA ASPIRASI MAHASISWA CERDAS, KRITIS, DAN DINAMIS.

Membincangkan Masa Depan Bahasa

Gema Justisia – Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, masih belum jadi tuan rumah di negeri sendiri. Salah satu penyebabnya, kurangnya minat kaum muda untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Padahal, dalam UU No 24 Tahun 2009 telah dijelaskan bahwa bahasa, bendera, lagu kebangsaan diatur untuk jadi amanat konstitusi.Tantangannya memang cukup berat. UU telah disahkan, tapi pelaksanaan masih belum optimal. Untuk lebih mengenal UU No 24 Tahun 2009, maka lembaga pers mahasiswa Gema Justisia Fakultas Hukum Universitas Andalas mengadakan seminar membahas ”krisis berbahasa nasional” dikalangan generasi muda saat ini.

Seminar akan berlangsung di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unand Limau Manih Padang. Berlangsung Senin, 26 September 2011. Sebagai pemateri Gafar dari Badan Bahasa Nasional Jakarta akan membahas latar belakang lahirnya UU No 24 Tahun 2009. Sedangkan dari kalangan akademisi yaitu Feri Amsari mengenai peranan kampus untuk mengajak berbahasa Indonesia dengan baik.

“Seminar ini berkaitan untuk menyambut bulan bahasa. Sebagai lembaga pers kampus, maka peranan kita ingin memberikan yang terbaik buat bagaimana kawan-kawan mahasiswa tahu dengan UU NO 24 Tahun 2009,” ungkap Surya Purnama,ketua panitia pelaksana.

Ia juga menjelaskan bahwa pendaftaran peserta seminar terbuka untuk mahasiswa, guru, pelajar, masyarakat umum. Hanya dengan kontribusi Rp 15.000,- para peserta seminar akan mendapat fasilitas sertifikat, snack dan koran.Pendaftaran bisa dilakukan di sekretariat Gema Justisia di gedung mahasiswa di samping lapangan basket dekanat fakultas hukum Unand Limau Manih Padang. Bisa juga via sms ke nomor 085274986454. Atau daftar langsung pada hari H pas seminar.

PESTA DEMOKRASI YANG TERNODA

GEMA JUSTISIA – Beberapa waktu yang lalu fakultas hukum universitas andalas telah melakukan pesta demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden BEM FHUA. Dimana di ikuti oleh tiga pasang calon pemilihan.

Pesta demokrasi berlangsung hangat karena diikuti oleh tiga kandidat berpengaruh dan terkenal di lingkungan mahasiswa fakultas hukum universitas andalas dan sama-sama memiliki jumlah konstituen yang hampir sama banyak.

Banyak orang yang hadir pada saat penghitungan suara pemilihan presiden dan wakil presiden BEM FHUA, “ dag dig dug” mungkin itu bunyi jantung dari para pasangan calon. Dan yang keluar akhirnya sebagai pemenang adalah pasangan dari nomor urut satu, yaitu harju budiman dan rifki hermawan. Selamat!!!

Namun pada saat pelantikan presiden terpilih, yang mana dilakukan oleh anggota MPM yang baru. Para pasangan calon dari nomor 2 dan 3 datang menghadiri sidang MPM tersebut, mereka datang meminta keadilan yang menurut mereka terjadi kecurangan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden BEM.

Mereka seharusnya mengadukan masalah mereka pada lembaga yang mengatasi sengketa pemilu antara PPU dan pihak penggugat. Namun karena lembaga tersebut tidak ada di fakultas hukum kita tercinta mereka mengadu pada MPM sebagai wakil mereka untuk meminta keadilan.

Namun terjadi keributan, sebagian besar anggota MPM bersikeras untuk melanjutkan sidang sesuai agenda yang telah di tetapkan, karena usara mereka tidak di dengar maka pihak dari pasangan calon nomor urut dua dan tiga meminta sidang ditunda. Sehingga timbul keributan, yang akhirnya sidang diambil alih oleh pimpinan fakultas hukum universitas andalas yaitu PD III. Beliau menyarankan untuk sidang ditunda dan dicari solusi yang baik demi kebaikan semua.

“ kami menerima solusi yang diajukan oleh pimpinan, dan kami sangat menyayangkan pimpinan harus turun tangan untuk urusan mahasiswa seperti ini, hal ini seharusnya tidak terjadi jika MPM mendengarkan suara kami. kami tidak berusaha membatalkan hasil yang ditetapkan oleh PPU, kami sebelumnyameminta PPU memverifikasi tentang data kecurangan yang kami temui dilapangan, namun tidak dilakukan oleh PPU, jalan terkhir yang kami miliki hanyalah mengadu pada MPM sebagai wakil kami” kata calon presiden dari pasangan nomor urut 3 yang ditemui pada tanggal 19 mei 2011.

Karena tidak memiliki lembaga penyelesaian sengketa tentang hasil pemilu, kami menanyakan pada pihak pasangan nomor tiga apakah kita harus membentuk lembaga yudikatif? Beliau menjawab “itu wewenang DLM, sebenarnya tidak perlu jika MPM mau menjadi wakil rakyat yang benar-benar mewakili suara rakyat”

Dari kekacauan yang sempat muncul karena politik kampus, kita dapat melihat betapa sensitifnya masalah politik, baru ditingkat kampus saja sudah dapat menimbulkan ketegangan diantara konstituennya. Kekacauan yang terjadi tentu ada penyebabnya, penyebab ini seharusnya tidak perlu terjadi. Ketika kami menemui wakil dari pasangan nomor urut dua beliau mengatakan “ politik itu dahsyat sekali, dan seharusnya para pihak yang terlibat beriskap jujur dan menghindari sikap yang menimbulakan kecurigaan dari pihak tertentu. Kami sedih dengan apa yang terjadi, jika pada tingkat kampus saja sebagai tempat kita belajar sebelum terjun ke dunia luar telah terjadi perbuatan yang tidak mengenakkan dalam pesta demokrasi. Kami kasihan dengan nasib NKRI ini, karena kejujuran itu masih mahal”.

Sungguh hal yang menarik untuk kita simak tentang kekacauan ini, jika untuk jadi CAPRES dan WAPRES NKRI masih ada fasilitas yang diharapkan, dan ada gaji yang ditunggu. Sedangkan tidak ada yang di dapat secara materi, namun para calon begitu semangat menjadi pelayan rakyat Negara mahasiswa FHUA. Mungkin kita berpikir positif saja, mereka sangat ingin memberikan ide-ide yang ada dikepala mereka untuk membuat rakyat Negara mahsiswa FHUA dapat hidup tenang dan bahagia di FHUA.

Untuk pasangan yang terpilih kami menunggu ide-ide kreatifnya dalam menjalankan Negara mahasiswa ini. Perlu diketahui oleh pasangan terpilih bahwa jika pemerintahan mereka lebih buruk dari pemerintahan sebelumnya berarti mereka gagal, bahkan dalam islam itu neraka tantangannya. Sungguh begitu berat jadi pemimpin tersebut, namun kami percaya yang terpilih akan berusaha semaksimal mungkin dan membuat nama fakultas hukum menjadi lebih harum dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan leh BEM.

Persma: Media Komunikasi Mahasiswa

                Pers Kampus adalah media yang diterbitkan oleh mahasiswa untuk mahasiswa di dalam kampus perguruan tinggi. Karenanya, Pers Kampus sering pula disebut “Pers Mahasiswa”.

Di Amerika Serikat dan Eropa Barat, Pers Kampus dinamakan Student Newspapers (Suratkabar atau Koran Mahasiswa) atau Student Publications (Penerbitan Mahasiswa), bukan Campus Press karena istilah Pers Kampus sebenarnya mencakup berbagai penerbitan yang ada di lingkungan kampus, seperti majalah ilmiah yang diterbitkan pihak universitas atau fakultas, buku-buku teks, dan diktat materi perkuliahan.

Di Indonesia, yang dimaksud Pers Kampus adalah media massa yang dikelola oleh mahasiswa di sebuah kampus perguruan tinggi, baik berupa majalah, jurnal, buletin, maupun suratkabar. Mangsa pasarnya atau target pembacanya adalah kalangan mahasiswa juga.

Untuk dapat mengelola sebuah Pers Kampus, mutlak diperlukan pemahaman tentang hakikat Pers Kampus itu sendiri yang berbeda dengan pers umum (non-kampus).

KARAKTERISTIK

Karena lahir dari mahasiswa, dikelola oleh mahasiswa, dan target utama pembacanya mahasiswa juga, maka karakteristik utama Pers Kampus adalah elitis. Tegasnya, Pers Kampus masuk kategori Elite Papers. Visi, misi, dan isinya ditujukan untuk kepentingan mahasiswa juga atau seluruh sivitas akademika, jangan diarahkan menjadi pers umum. Pers Kampus juga harus mampu mencerminkan sosok mahasiswa sebagai agent of change dan bebas dari vested interest pihak tertentu.

Pakar jurnalistik dari Universitas Stanford, William L. Rivers, sebagaimana dikutip Assegaf (1985:104), mengemukakan karakteristik ideal sebuah Pers Kampus sebagai berikut:

  1. Harus mengikuti pendekatan jurnalistik yang serius
  2. Harus berisikan kejadian-kejadian yang bernilai berita bagi lembaga dan kehidupannya.
  3. Harus menjadi wadah bagi penyaluran ekspresi mahasisw.
  4. Haruslah mampu menjadi pers yang diperlukan oleh komunitas kampusnya.
  5. Tidak boleh menjadi alat klik atau permainan yang memuaskan kelompok kecil di kampus. 6. Harus dapat memenuhi fungsinya sebagai media komunikasi.