Rabu , 13 Desember 2017

Home » Sosok » Auguste Comte: Filsuf Patah Hati

Auguste Comte: Filsuf Patah Hati

Juni 13, 2014 11:26 am Category: Sosok Leave a comment A+ / A-

Feri Amsari

Peneliti PUSaKO (Dosen)  FHUA, Pelajar William and Mary Law School, VIrginia

Ahli hukum” yang akan diulas pada edisi khusus kali ini agak berbeda. Saya tertarik menulisnya karena tak banyak mahasiswa hukum mengetahui latar belakang salah satu pemikir besar ini. Mungkin karena kita terbiasa mengutip saja tanpa tau lebih dalam kenapa sebuah pemikiran dan pemikir itu “lahir”.

Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte, dikenal dengan Auguste Comte (baca: ogyst komt), lahir di Montpellier, Prancis, pada 19 Januari 1798. Keunikannya dalam pemikiran hukum disebabkan Comte bukanlah “orang” hukum. Bagi yang “tergila-gila” dengan matematika (sebagian mahasiswa hukum menakuti ilmu ini-termasuk saya), buku Comte merupakan acuan penting dalam memahami dasar ilmu matematika itu sendiri. Ia menulis buku penting yang berjudul, Cours de Philosophie Positive yang kemudian dimaknai sebagai the Philosophy of Mathematics (Dasar Pemikiran Matematika).

Namun banyak pula yang menyebut Comte sebagai pemikir/filsuf yang menekuni bidang sosiologi atau sederhananya disebut sosiolog dengan pendekatan ilmu pasti. Comte memang dibesarkan dalam pemikiran ilmu-ilmu pasti, seperti: Matematika dan Fisika. Sejak kecil kecerdasannya di atas rata-rata. Orang-orang bahkan membuat anekdot untuk menggambarkan kecerdasan Comte dengan mengatakan bahwa Ia mampu mengingat setiap kata dalam lembar buku yang telah dibacanya dan dapat mengeja kembali semuanya secara terbalik.

Karena amat cerdas, Ia kemudian di-didik khusus ilmu Matematika di bawah ampuan Daniel Encontre, guru khusus bagi anak-anak yang memiliki kepintaran di atas rata-rata. Menyelesaikan pendidikan itu pada umur 15 tahun dan kemudian menamatkan kuliahnya di Ecole Polytechnic setahun kemudian (kandidat satu-satunya di Prancis ketika itu). Pada 1814, Ia melanjutkan kuliah di Prancis. Disinilah pemikiran pemberontakannya atas kondisi sosiologis tumbuh. Ia mulai menjadi “pemberontak” terhadap kekuasaan tiran. Karena kenakalan cara berpikir itu, seorang gurunya menyerang cara pandang Comte. Pemikir muda itu melawan. Keluar dari kampus. Ia kemudian dikirim pulang untuk diawasi orang tua dan dalam pengawasan kepolisian.

Setelah “dicekal”, Comte kembali ke Prancis dan belajar sebentar tentang Biologi pada 1816. Disanalah Ia mengenal Hendry de Saint-Simon yang memperkenalkannya terhadap skema reorganisasi sosial. Namun karena ide Comte yang meletup-letup, segera pertentangan pun terhadap ajaran Saint-Simon menjadi besar. Di bawah bimbingan Simon, Comte menulis pamflet-pamflet yang berkaitan dengan penggabungan ilmu pasti dan ilmu sosial, salah satunya berjudul: Prospectus of the Scientific Worlds for the Reorganization of Society (Prospek penerapan ilmu pasti dalam mengorganisasi ulang masyarakat). Pamflet lain berjudul “Sistem Kebijakan Positivisme” dan “Politik Positivisme”.

Pemikiran Comte terhadap permasalahan sosial juga berkembang kepada pemikiran hukum. Comte berpendapat bahwa dalam gagasan positivisme yang hendak menertibkan masyarakat maka harus dibentuk sistem hukum yang memberikan kepastian. Tertib tanpa ada tendeng aling-aling nilai-nilai lainnya. Hukum memberikan kepastian dalam masyarakat. Seorang pencuri harus jelas dihukum berapa tahun karena perbuatannya.

Dugaan saya, pemikiran itu muncul karena pada masa itu Raja memutus perkara hukum (tentu juga sosial) berdasarkan nilai subjektifnya terhadap suatu masalah. Acapkali Raja membeda-bedakan hukuman bagi kaum bangsawan dan rakyat bawahan. Bangsawan yang mencuri akan dihukum lebih rendah dibandingkan rakyat yang terlantar melakukan pencurian karena lapar atau tidak ada kerja. Timbul ketidak-pastian. Comte kemudian merasa perlu diterapkan kepastian yang diosong ilmu pasti ke dalam ilmu hukum. Mudahnya, dalam ilmu pasti kita paham bahwa 1 + 1 = 2. Hasil penjumlahan itu sebuah kepastian; tidak ada satu sebab apapun yang menyebabkan penjumlahan itu dapat diubah.

Hal itulah yang kemudian menciptakan hukum positif dalam proses penegakan hukum. Itu sebabnya dalam ilmu hukum pidana positif, misalnya dalam kasus pencurian, jika ingin dirumuskan dapat menjadi seperti ini, 1 (barang siapa melakukan pencurian) + 1 (barang milik orang lain) = 2 (dihukum penjara 3 tahun). Tindakan dengan kondisi tertentu harus menghasilkan bentuk hukum yang hasilnya pasti. Disinilah letak pemahaman hukum positif itu. Pemikiran Comte ini memengaruhi luar biasa wajah pemikiran hukum. Hans Kelsen, pemikir positivisme hukum, mempercayai ide Comte tersebut. Bagi Kelsen hukum tak bisa dipengaruhi nilai-nilai apapun, baik moral maupun kepercayaan yang ada di masyarakat sosial. Hukum yang ada dalam aturan pasti (produk perundang-undangan) harus diterapkan apapun kondisinya.

Akan tetapi, asal tau saja pemikiran Comte itu ditulis dalam kegelisahannya yang mendalam. Begini ceritanya. Pada umur 23 tahun, Comte jatuh cinta kepada seorang gadis Prancis yang bernama Caroline Massin. Ia menikahi gadis itu. Disebabkan pelbagai sebab, kegelisahan Comte yang menjadi-jadi yang kadang disertai tindakan yang tidak terkontrol ditambah dengan ketidak-setiaan Massin, kehidupan filsuf besar ini jatuh ke dalam jurang kehancuran. Sebagai bentuk rasa tidak cinta kepada suaminya, Massin kemudian meninggalkan Comte berkali-kali hingga kabur meninggalkan rumah selamanya. Cinta Comte ditarik-ulur dan dipermaikan karena Comte menjunjung prinsip kesetiaan. Parahnya Massin bertindak sebaliknya. Comte menggambarkan hidupnya sebagai “one great error of his life”.

Hidup Comte hancur di tengah upayanya menyusun naskah-naskah buku pemikiran filsafatnya. Ia bertahan dengan belas-kasihan beberapa pemikir yang simpati dan berharap Comte dapat menyelesaikan sisa-sisa karya filosofinya. Ia mulai hidup di bawah kecanduan alkohol, kopi, dan rokok. Laiaknya orang patah hati, Ia enggan makan. Konsumsinya hanya roti dan susu. Seketika badannya menyusut. Meskipun begitu banyak pakar yang menyebut kehidupannya yang hancur itu sebagai bentuk kesetiaan terhadap dunia pemikiran filosofi, namun ada pula yang menyebutkan pada titik itu Comte sudah gila. Bahkan ada yang berpendapat Comte tak tertolong lagi. Hidupnya berantakan dan tak karuan. Mungkin gaya hidup yang tak karuan ini pula yang kemudian menginspirasi banyak mahasiswa yang ingin menjadi filsuf. Berpenampilan seperti orang gila dan tak karuan (padahal malas hehe saya bercanda).

John Morley menggambarkan bahwa tak banyak pemikir yang dapat bertahan dari kehancuran masalah hidup dengan banyak halangan sebagaimana Comte hadapi. Namun pada 1844 sebuah titik-balik menghampiri hidupnya, Comte bertemu Madame Clotilde de Vaux, seorang istri dari suami baik-baik. Cinta pun tumbuh di antara Comte dan de Vaux. Dengan sangat lihai, hubungan terlarang itu dapat disembunyikan oleh de Vaux dari publik.

Hubungan “terlarang” itu berjalan aneh. Comte berpendapat bahwa de Vaux adalah istri spiritualnya. Setahun menjalani hubungan tersebut, de Vaux meninggal. Kondisi itu digambarkan Comte sebagai kesedihan yang tidak dapat dihibur (inconsolable). Namun kematian dan ditinggal cinta itu membuat Comte hidup kembali. Bahasa kasarnya, tali syarafnya yang sempat putus karena ditinggal Istri menyambung kembali akibat ditinggal kekasih gelapnya. Comte seperti hidup untuk kedua kalinya.

Ia kembali memberikan kuliah dan menerbitkan tulisan-tulisan kenamaannya, seperti: Positive Polity (empat volume dari 1851-1854), the Cathechism (1852), the Appeal to Conservatives (1865), dan the Subjective Sythesis (1856). Namun lahirnya banyak karya itu bukan berarti Comte hidup bahagia. Ia hanya mengalirkan “energi patah hatinya” kepada produktivitas yang berbeda dibandingkan hanya mengurung diri, bersedih, dan berbicara sendiri. Banyak pula pakar yang memperdebatkan apakah karya-karya Comte lahir dari pemikiran yang normal.

Pada 5 Desember 1857, Comte “berpulang” disebabkan kanker. Lepas dari perdebatan terhadap hasil pemikirannya yang lahir dari kondisi “tidak normal”, setidaknya bagi mahasiswa hukum didapatkan pelajaran penting bahwa meskipun dalam keadaan patah hati dan kesendirian karena ditinggal cinta, energi berkarya dalam bentuk tulisan hukum itu tetap dijalani Comte. Sekarang sudah tak waktunya lagi berkata: “skripsi saya tertunda karena patah hati”. Wallahu a’lam.

Auguste Comte: Filsuf Patah Hati Reviewed by on . Feri Amsari Peneliti PUSaKO (Dosen)  FHUA, Pelajar William and Mary Law School, VIrginia Ahli hukum” yang akan diulas pada edisi khusus kali ini agak berbeda. S Feri Amsari Peneliti PUSaKO (Dosen)  FHUA, Pelajar William and Mary Law School, VIrginia Ahli hukum” yang akan diulas pada edisi khusus kali ini agak berbeda. S Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top