Rabu , 13 Desember 2017

Home » Opini » BAKTI, (YANG) MEMANUSIAKAN MANUSIA

BAKTI, (YANG) MEMANUSIAKAN MANUSIA

Agustus 15, 2015 1:07 pm Category: Opini Leave a comment A+ / A-

 Aulia Rizal

Angkatan 2009, Ketua Panitia BAKTI FHUA 2013


“Awak kareh ospek-nyo dulu, kini adiak-adiak ko lamak bana masuak kampus. Indak di bae mental nyo do.”

“Kok ospek kini buliah mambaok kendaraan, ndak diharuskan botak atau pelontos, indak pakai atribut, sudah tu lunak bana, ndak pakai di ariak, di maki, ndak ado caruik, tambah pulo panitia maajak bakuliliang kampus. Iyo lasuah bana mahasiswa baru ko. Kalau mode iko ospek nyo, lalu se senior dek adiak-adiak tu mah. Ko ndak ospek namonyo ko doh”

 

Begitulah komentar yang terdengar dari beberapa mahasiswa yang menyaksikan BAKTI 2015 di Fakultas Hukum. Saya mendengarnya saat menghadiri hari pertama seremoni penyambutan mahasiswa baru tersebut.

Memang tak seluruhnya bernada protes, sebagian juga berkonten pujian atau ‘no comment’. Jika ditelisik lebih seksama, komentar di atas sulit untuk tidak disebut sebagai ‘kecemburuan’. Komentar yang bernada gelisah, seolah-olah dendam tak berbalas dan bukti kuatnya warisan logika otoriterian senior, berupa: “sambutan berupa pelonco dan sejenisnya adalah takdir mahasiswa baru yang tak dapat digugat dan dihindari. Dan, ‘uji nyali atau test mental’ didalamnya, merupakan ritual esensial dan absolut dalam pelaksanaan ospek.” Sehingga, bila tidak terlaksana maka, tidak pantas disebut orientasi pengenalan kampus.

Penulis tidak berniat membanding-bandingkannya dengan aktivitas orientasi proses belajar mengajar (OPBM) di negara-negara maju yang dianggap lebih manusiawi dan edukatif. Sebab, itu dengan mudah dapat teman-teman googling dan patahkan dengan argumentasi; “ini indonesia bung!”, atau “ini universitas andalas kawan!”. Maka itu, penulis akan mengangkat nilai partikular yang lokal dan dan “ke-indonesia-an” dalam tulisan ini.

Saya menyadari sepenuhnya, bahwa, kita hidup dalam karakter dan kultur masyarakat yang amat memandang penting senioritas dalam usia dan angkatan (dalam banyak jenjang pendidikan). Memang, itu ialah aspek yang tak dapat diabaikan. Namun tentu, kita tidak lantas melupakan bahwa hubungan atau pergaulan antar (man)usia bersifat resiprositas (timbal-balik).

Kita merasa bangga dan lebih menghormati orang tua, dosen-dosen maupun orang lain yang memperlakukan kita dengan baik dan layak. Beginilah “hukum interaksi” berlangsung. Hanya bermaksud mengingatkan, hal ini tentu berlaku dalam interaksi senior-junior; antara kita dan adik-adik angkatan baru. Sehingga, sama sekali tidak salah apabila kita selaku senior bersikap ramah terhadap angkatan baru. Hal yang juga berlaku sebaliknya bahwa, sudah semestinya sebagai angkatan muda menghadirkan sikap hormat dalam bentuk sapa, senyum dan sopan bagi uda-uni, bapak-ibuk dan seluruh sivitas di kampus kita.

Menjadi Mahasiswa Baru adalah Dosa?

            Penulis merenungkan, seolah-olah menjadi mahasiswa baru adalah sebuah kesalahan/dosa, yang hanya mampu dibereskan dan disucikan lewat makian, gertakan, bullying, ‘penganiayaan kecil’ fisik, ‘atribut pembodohan’, aktivitas usap ketiak dan menyikat gigi teman dengan telunjuk. ‘Tradisi’, begitulah ia sering disebut. Ia ialah inti, ospek yang sesungguhnya. Ia tak boleh diubah, bahkan jika bisa ditingkatkan. Sehingga menjadi ukuran keberhasilan dari waktu ke waktu. Keberadaan tradisi (ospek) dianggap dan diperlakukan seolah-olah sesuci melaksanakan kewajiban ibadah dalam agama-agama: yang dilarang ditinggalkan, diubah, maupun diganti wujud serta ritualnya.

            Dalam BAKTI saat ini, yang tidak diharapkan terjadi. Tradisi mulai berubah dan berganti. Atribut telah tiada, gertakan menurun drastis, ‘makian dan caruik’ ditinggalkan, ‘kekerasan/penganiayaan kecil’ fisik entah dimana kubur-nya. Entah pasca ospek yang 2 hari itu. Yang jelas, ide dan rencana yang sempat diceritakan senior dan panitia angkatan 2011 kepada saya, memang sesuai dengan yang dijanjikannya – relevan dengan tema ‘humanisme’nya. Peradaban penerimaan mahasiswa baru semakin bergeser ke-garis yang yang jauh lebih manusiawi.

            Saya membayangkan, sikap interaksi senior-junior yang saling hormat dan menghargai terjadi – hubungan yang memungkinkan terbukanya ruang perbedaan pandangan dan pemikiran, dimana daya kritis yang muda tidak mati sebelum berkembang.

Saya membayangkan, interaksi antar senior dan angkatan (ter)muda yang masih dalam koridor hubungan uda-uni jo adiak yang hangat, yang melahirkan sikap hormat dari para junior tanpa adanya makian dan bully dari senior.

Ospek Berbasis HAM dan ‘Pelanggaran HAM Level Kampus’

            Dengan ini saya ‘terpaksa’ membawa-bawa konstitusi republik kita, menyelipkan wacana Hak Asasi Manusia (HAM) dalam paradigma ospek. Tentunya oleh sebab: sebagai mahasiswa yang menimba ilmu tentang hak asasi manusia, (mungkin) satu-satunya fakultas yang mendalami HAM, sehingga wajar saja jika menjadi pedoman/indikator bagi fakultas atau kampus-kampus lain dalam praktek kehidupan kampusnya masing-masing.

            Seandainya konstitusi ‘hidup dan mampu berbicara’, ‘ia’ akan membisik ke telinga masing-masing kita, bahwa: Setiap kita (orang) berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat manusia, berhak atas perlindungan kehormatan dan martabatnya. Implikasinya, para mahasiswa baru (maba) juga berhak bebas dari intimidasi, penindasan dan perlindungan atas martabatnya termasuk saat masa orientasinya. Dasar ini yang kiranya tepat digunakan untuk mengukur aktivitas ospek – terutama di internal fakultas. Apakah disadari atau tidak, – oleh para senior angkatan 2011 dan 2013 yang menjadi panitia – ide yang mereka terapkan atas BAKTI tahun ini dekat dengan paradigma HAM. Sedang perlakuan yang mereka terima saat di posisi maba, barangkali jauh berbeda (kontradiktif) dengan yang mereka suguhkan untuk juniornya – angkatan 2015. Sehingga semestinya, agenda tahun ini layak disematkan istilah sebagai: “Ospek yang berbasiskan HAM”.

            Konteks ini persis dengan ‘kredo’ yang kerap muncul dari para humanis: “tugas mulia manusia adalah memanusiakan manusia”. Entah mereka pernah mendengar kredo ini atau tidak. Namun yang pasti, mereka (panitia dan panitia kader BAKTI 2015 FHUA), dalam prakteknya telah meletakkan pondasi penting bagi ospek yang humanis. Sesuatu yang belum berhasil/mampu saya hasilkan sebelumnya.

Pesan Untuk Mahasiswa Baru

            Sebagai mantan ketua panitia, saya tahu persis bagaimana upaya yang dilalui para panitia, dimana tahapan perencanaan/persiapan hingga pelaksanaan (termasuk evaluasi-evaluasi) dilakukan, demi disajikan kepada angkatan termuda-nya. Hal yang sudah tentu tidak sedikit memakan pengorbanan – terlepas dari kurang dan lebihnya. Oleh karenanya, ia berisi harapan-harapan. Perihal harapan, ‘sudah barang tentu’ panitia angkatan 2011 yang lebih mampu menjelaskan detailnya. Namun yang pasti, dari zaman ke zaman, harapan yang terus hidup selalu nyaris sama – (sejauh yang saya tahu).

Pesan dan harapan agar, mahasiswa baru angkatan 2015 memulai kehidupan barunya di kampus dengan: Etis dan menghormati seluruh warga kampus (tanpa membedakan), cinta nuansa ilmiah, peduli kemanusiaan, bisa menjadi angkatan yang solid, bersemangat menuju intelektual pembawa perubahan (agent of change), dan bermanfaat bagi sebanyak-banyak umat. Pesan yang tidak banyak. Mudah-mudahan sungguh-sungguh direnungkan. Semoga!

Selamat bergabung warga muda, “kandidat pejuang keadilan” Fakultas Hukum Unand Angkatan 2015. Salut dan hormat untuk Panitia BAKTI FHUA Tahun 2015. Salam Kampus Merah, Viva Justitia !

 

BAKTI, (YANG) MEMANUSIAKAN MANUSIA Reviewed by on .  Aulia Rizal Angkatan 2009, Ketua Panitia BAKTI FHUA 2013 “Awak kareh ospek-nyo dulu, kini adiak-adiak ko lamak bana masuak kampus. Indak di bae mental nyo do.”  Aulia Rizal Angkatan 2009, Ketua Panitia BAKTI FHUA 2013 “Awak kareh ospek-nyo dulu, kini adiak-adiak ko lamak bana masuak kampus. Indak di bae mental nyo do.” Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top