Selasa , 11 Desember 2018

Home » Sosok » Hans Kelsen dan Pemurnian Hukum

Hans Kelsen dan Pemurnian Hukum

Juni 4, 2014 1:25 pm Category: Sosok 1 Comment A+ / A-

Feri Amsari

Peneliti PUSaKO (Dosen)  FHUA, Pelajar William and Mary Law School, VIrginia

 

Hans Kelsen dilahirkan di Paraguai, 11 October 1881. Pada usianya yang ketiga tahun, Ibu-Bapak Kelsen yang Yahudi-Jerman pindah untuk menetap di Wina, Austria. Di negara baru inilah Kelsen kemudian menyelesaikan studinya. 1906, Ia meraih gelar doktor dalam bidang ilmu hukum, meskipun menurut Nicoletta Bersier Ladavac ketertarikan Kelsen lebih kepada kajian humanistik dan kajian klasik, seperti: filsafat; sejarah; logika; matematika; dan ilmu pasti.

Sebagai pembelajar tangguh, hasratnya untuk mengajar di universitas tidak tertahankan. Namun sebagai seorang Yahudi, Ia tidak mau hasrat itu menjadi penyebab bahaya bagi keluarga Yahudinya. Bahkan, demi membiaskan asal-usulnya Kelsen rela berpindah agama dari penganut agnostik (paham yang menolak logika agama dan mistis-agak berbeda dengan atheis) menjadi seorang Kristen Katolik. 1918, setelah mengabdi sebagai penasehat militer dan administrasi kehakiman, Kelsen berhasil menjadi assosiate professor di Universitas Wina (Vienna University). Satu tahun setelah itu, Ia berhasil meraih gelar sebagai full professor dalam kajian hukum administrasi.

Meski merupakan pemikir netral dalam pandangan politik, Kelsen memiliki kedekatan “emosional” dengan pemimpin tertinggi partai mayoritas, Social Democrats. Itu pula mungkin yang memberi ruang kepada Kelsen untuk menyusun Konstitusi Austria 1920 (lahirnya ide Mahkamah Konstitusi. Kelsen dipengaruhi oleh pemikiran John Marshall, seorang Hakim Agung, alumni William and Mary Law School).

Sebagai perancang konstitusi yang dianggap tau tentang konstitusi itu sendiri, pada 1921, Kelsen diangkat sebagai salah seorang Hakim Konstitusi Austria. Dominasi pemikiran Kelsen sangat kentara dalam pelbagai kasus dalam Mahkamah Konstitusi tersebut. Namun setelah kemenangan Partai Sosialis Kristen, isu anti-Yahudi kembali merebak. Kelsen dipaksa meninggalkan jabatannya.

Penyingkiran Kelsen itu ternyata tidak membuat universitas lain takut untuk memanfaatkan kemampuan akademiknya. University of Cologne memintanya mengajar dalam kajian Hukum Internasional. Catatan Ladavac menjelaskan bahwa pengalaman di Cologne itu membuatnya sangat cemerlang kemudian dalam kajian hukum. Ia bahkan menemukan keterkaitan penting antara Hukum Tata Negara dan Hukum Internasional.

Kenyamanan akademik itu tak bertahan lama. Aroma petualangan akademiknya merebak ketika musin gugur 1933 Nazi Jerman berhasil menguasai hampir seluruh daratan Eropa. Ia mengungsi dan mengajar di lnstitut Vniversitaire des Hautes Etudes Internationales, Switzerland. Meski mengalami kesulitan bahasa, Kelsen beruntung bertemu para pakar kenamaan Hukum Internasional di sana. Ia bahkan menulis sebuah makalah penting tentang peralihan Hukum Internasional menjadi Hukum Tata Negara. Kemapanannya dalam menganalisa hukum itu membuatnya juga diminati memberikan perkuliahan di Universitas Paraguai. Sayang, paham anti-Yahudi yang merebak dalam pemikiran mahasiswa kala itu membuatnya tak bertahan lama sebagai seorang dosen di sana.

1940, ketika pergerakan anti-Yahudi mulai meradang, Kelsen memutuskan untuk berimigrasi ke Amerika Serikat. Sebagai pemikir Hukum Internasional yang memiliki relasi, Kelsen dengan mudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi peneliti di Harvard Law School (HLS). Kedekatannya dengan pemikir hukum besar Amerika yang juga Dekan HLS Roscoe Pond bahkan membuatnya diberi kesempatan menyampaikan kuliah tentang pemikiran Oliver Wendel Holmes yang dipublikasikan dengan judul, Law and Peace in Internasional Relations. Sesungguhnya kekaguman Pond itu sudah merebak jauh hari sebelum Kelsen bermigrasi ke Amerika. Pada 1934, Pond telah menulis dan memuja-muji Kelsen sebagai pakar hukum terkemuka pada era itu.

Pond pula yang kemudian menjadi jembatan penting bagi Kelsen menjadi salah satu professor tetap di University California, Berkeley pada 1945-1952. Di tahun yang sama, Kelsen mendapatkan kewarganegaraan Amerikanya. Pada era itulah Kelsen berhasil berkarya dengan tenang sebagai seorang pakar filsafat hukum dan hukum internasional.

 Pemikiran The Pure Theory Of Law

Saya menduga, pengalaman hidup yang keras Kelsen yang memengaruhi cara berpikirnya. Ia adalah seorang agnostik sejati yang mengandalkan logika rasionalitas. Apalagi kepahitan hidup disingkirkan membuat Kelsen seolah memahami hukum sebagai suatu alat yang tidak boleh dijamaah kepentingan perasaan. Karakter seperti itu secara psikologis hanya dimiliki pekerja yang lekang dengan derita. Itu sebabnya Kelsen secara tegas menghendaki hukum dimurnikan dari pelbagai elemen dan hal-hal lainnya di luar ketentuan hukum itu sendiri.

Dalam tulisan ini, meskipun Kelsen banyak pula menulis pemikiran hukum lain selain pemurnian hukum, penulis tertarik menjadikannya fokus menerangkan gagasan filsafat Kelsen. Misalnya, Kelsen juga sangat terkenal dengan teorinya mengenai hubungan hukum dan negara dalam bukunya berjudul, General Theory of Law and State, Tetapi, sekali lagi, menurut penulis untuk membicarakan Kelsen maka sentral perbincangan akan selalu bertumpu kepada paham pemurnian hukum.

 Menurut Stanley L. Poulson dalam pengantar buku Kelsen, Introduction to the Problems of Legal Theory, teori pemurnian hukum itu dianggap sangat penting karena secara tegas menentang paham “tradisional” teori hukum alam. Kelsen menyatakan agar hukum dapat berjalan dengan baik dan berkeadilan, maka nilai-nilai lain di luar ketentuan normatif hukum harus dikesampingkan (hakim hanya dituntut menjadi corong undang-undang). Misalnya dalam memutus sebuah perkara, hakim cukup melihat ketentuan undang-undang saja. Perasaan yang menyertai hakim dalam sebuah perkara hanya akan melemahkan penegakan supremasi hukum. Menurut Kelsen, segala sesuatunya mengenai permasalahan hukum harus ditentukan dalam undang-undang.

Apabila permasalahan baru muncul dan belum diatur undang-undang, maka tindakan pelaku mesti dianggap bukan kejahatan sampai dengan terbentuknya aturan baru yang mengaturnya. Itu sebabnya adagium terkemuka yang sering dikemukakan ahli pidana, nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenalli (sebuah perbuatan tidak dapat dipidana sebelum ada aturannya, adagium hukum yang pertama kali dikemukakan oleh Anslem von Feurbach), memiliki kedekatan secara “emosional pemikiran” dengan paham pemurnian hukum.

Logika pemunian hukum (juga sering disebut positivisme hukum) itu bisa jadi berasal dari pemikiran Kelsen yang sangat logis sebagai seorang agnostik. Bahkan percampuran dengan nilai-nilai ilmu pasti dan matematika pun tergambar dalam pemikiran positivisme hukum tersebut. Misalnya, menurut Kelsen sebuah statemen ‘P’ adalah pernyataan yang benar. Kebenaran ‘P’ hanya akan benar apabila diikuti oleh pernyataan ‘Q’. Sehingga kebenaran sesungguhnya terletak pada pernyataan ‘Q’.

Penulis harus mengakui paham yang disebut Kelsen sebagai, stucture of the trancendental argument, itu sulit dipahami dengan baik. Sebab bagi penulis hal itu sangat jelimet. Penulis melihat logika seperti itu sangat dipengaruhi oleh paham-paham ilmu pasti yang meletakan rangkaian logika dalam simbol-simbol, termasuk angka-angka.

 Acapkali kepada kawan-kawan mahasiswa hukum, penulis mengandaikan teori pemurnian hukum itu sebagaimana ajaran matematika. Misalnya seperti ini, sederhananya, 1 + 1 = 2. Tidaklah mungkin secara logika normal, akumulasi bilangan 1 dengan bilangan 1 akan menghasilkan angka selain 2. Tidak mungkin. Itulah matematika, bukan?

 Maka paham pemurnian ilmu hukum juga menganut hal yang sama. Contoh sederhananya adalah penerapannya dalam Pasal 362 KUHP tentang pencurian. 1 (barang siapa) + 1 (mengambil suatu benda yang sebagian atau keseluruhannya milik orang lain) = 2 (diancam karena pencurian dengan pidana penjara paling lama 5 tahun). Jika kemudian kita menambahkan hal-hal di luar nilai-nilai 1 + 1 itu, bagi Kelsen itu merupakan pemikiran yang keluar dari logika cerdas. Begitulah pemikiran pemurnian itu dengan sederhana digambarkan (penjelasan mengenai ini saya landasi dari penjelasan alm. Prof. Soetandyo Wignyosoebroto. Meskipun penulis menguraikannya lebih jauh).

Secara tegas dalam logika berpikirnya, Kelsen menolak percampuran hukum dan moralitas. Apabila hukum sudah menentukan aturannya maka kemudian hari tidak satupun hal lain dari hukum itu sendiri yang patut dipertimbangkan. Misalnya, apabila seorang pencuri melakukan kejahatan karena faktor ingin memberikan anaknya makan karena kelaparan. Pencuri tersebut harus tetap menjalani hukuman meskipun dari segi moral pelaku dapat dimaafkan karena ada faktor menyelamatkan nyawa anaknya. Namun Kelsen sendiri menegaskan bahwa paham pemurnian itu harus mampu memisahkan dari pengaruh moral dan juga politik. Pada titik ini, penulis merasa Kelsen sangat tidak realistis sebagai penganut paham agnostik. Bagaimana mungkin menjauhi pengaruh politik dalam sebuah undang-undang. Tapi begitulah Kelsen dalam melihat hukum yang harus dimurnikan dari elemen-elemen lain.

Paham pemurnian itu kemudian hidup sangat kuat. Apalagi kemudian pemikiran Kelsen memengaruhi banyak pemikir besar hukum di daratan Eropa dan Amerika. Sejauh pengamatan penulis, paham ini juga memengaruhi dengan tegas para pengajar hukum Tanah Air. Itu sebabnya kadangkala jika mahasiswa ingin berpikir di luar dari pasal-pasal undang-undang, maka para pengajar merasa terkejut dan mungkin juga marah. Apalagi mahasiswa acapkali belum bisa merangkai gagasannya dengan baik. Dalam konteks berhukum kekinian, harus diakui paham pemurnian hukum merupakan paham penting dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Meskipun banyak pemikir kritis yang mempertanyakan cara berhukum dengan menggunakan logika tersebut. Padahal menurut mereka berhukum yang baik haruslah menggunakan hati nurani. Undang-undang hanyalah alat.

 Akhir Hayat

Sebagai pemikir tangguh dimasanya, Kelsen menghasilkan lebih dari 400 karya. Sebagian dari karya itu diterjemahkan lebih ke 24 bahasa. Karena prestasinya yang mengagumkan itu, Kelsen menerima 11 gelar doktor kehormatan dari Universitas Harvard, Uterecht, Chicago, Mexico, Berkeley, Salamanca, Berlin, Wina, New York, Paris, dan Salzburg.

Di usia 92 tahun, hidup tenang pemikir kenamaan ini berakhir. Ia menghembuskan nafas terakhir pada 19 April 1973. Hingga kini pemikiran Kelsen terus diperdebatkan baik oleh pengagumnya maupun kritikus pemurnian hukum.

Hans Kelsen dan Pemurnian Hukum Reviewed by on . Feri Amsari Peneliti PUSaKO (Dosen)  FHUA, Pelajar William and Mary Law School, VIrginia   Hans Kelsen dilahirkan di Paraguai, 11 October 1881. Pada usiany Feri Amsari Peneliti PUSaKO (Dosen)  FHUA, Pelajar William and Mary Law School, VIrginia   Hans Kelsen dilahirkan di Paraguai, 11 October 1881. Pada usiany Rating: 0

Comments (1)

Leave a Comment

scroll to top