Rabu , 13 Desember 2017

Home » Opini » Mahasiswa Harusnya Seperti Semut di Kisah Nabi Ibrahim A.S

Mahasiswa Harusnya Seperti Semut di Kisah Nabi Ibrahim A.S

Agustus 24, 2017 6:25 am Category: Opini Leave a comment A+ / A-

Ditulis oleh :

Diki Rafiqi.

Mahasiswa dan Anggota LAM&PK FH-UA.

Saya teringat dengan sebuah dongeng seekor semut di masa nabi Ibrahim A.S. Dimana pada masa itu nabi Ibrahim A.S akan dihukum oleh raja Nambrud. Hukuman yang diberikan oleh raja Nambrud pada saat itu tidak tanggung-tanggung, yakni akan membakar hidup-hidup nabi Ibrahim.

Mendengar kabar demikian, seisi semesta menjadi ketakutan melihat kejamnya raja Nambrud. Dari manusia, burung, semut, hingga pepohonan ikut larut dalam ketakutan karena akan kehilangan pencerah dimuka bumi ini.

Hari ke hari terus berganti. Menandakan waktu eksekusi sudah semakin dekat. Dengan tingginya popularitas dari nabi Ibrahim serta raja Nambrud ini membuat seisi alam ini menjadi tahu. Padahal disaat itu belum adanya dengan namanya face-bo-ok atau in-stag-ram. Apalagi dengan penyedia followers untuk mempercepat viralnya suatu berita.

Apa daya jika kun fayakun oleh maha kuasa, viralnya Young Lex maupun Tsamara tak akan menjadi tandingannya. Oleh karena itu berbondong-bondonglah manusia, dan binatang untuk melihat terakhir kalinya utusan Tuhan ini untuk hidup.

Tapi dari rombongan yang bergabung terlihat ada sesuatu yang aneh. Karena dari sekian banyak makhluk yang berjalan menuju tempat panasbihan kehebatan Nimbrud untuk membuktikan Tuhan itu tidak ada, hanya seekor semut yang kecillah terlihat aneh.

Seekor semut ini membawa sebuah beban yang sangat berat dalam perjalannya. Disepanjang jalan semut ini selalu dilihat sinis oleh semua mahluk yang dijumpainya. Karena hanya dialah yang terlihat berbeda dari yang lain. Bahkan, pandangan seluruh mahluk yang melihat semut itu mengambarkan  bahwa semut itu telah berbuat kejahatan karena berbeda dari yang lain.

Sungguh banyak hinaan kepada semut ini disepanjang jalan. Tak terhitung ungkapan-ungkapan yang akan meruntuhkan semangatnya. Tapi semut ini terus berjalan, dan berkata dalam hatinya “aku memang beda dari kalian, tapi inilah yang aku percayai, dan semangatku tak seberapa dari ocehan-ocehan kalian”. Dengan semangat itulah semut ini terus berjalan tanpa henti, dan tanpa kata lelah.

Terus berjalannya semut ini, tak terasa semut ini hampir sampai ketempat pembuktian raja Nambrud yang paling kuasa di muka bumi ini. Pada sebuah persimpangan yang disana tempat pemberentian para rombongan. Terlihat disana ada sebuah pohon begitu menjulangnya mencakar langit, sedangkan daunanya terlihat melebihi kecantikan wanita Tsar Rusia yang tumbuh disekitaran batang yang begitu kokoh. Melihat hal tersebut semut tadi langsung terkesima. Bergegaslah semut itu pergi kesana untuk beristirahat sembari menunggu Ibrahim A.S akan dieksekusi.

Setibanya disana, si semut langsung di tertawakan oleh seluruh mahluk yang ada disana. Kecuali seekor burung yang langsung bertanya. “apa yang kau bawa semut?”

“aku membawa air” ucap semut dengan tegas.

“untuk apa kau bawa itu?” sebenarnya burung sudah menduga jawabannya, akan tetapi burung ini tidak mau terjebak dengan kebenaran pribadi, dan yang lain sebelum mendengar kepastian dari semut itu.

Tapi ular langsung menjawab, “air ini untuk memadamkan api yang membakar Ibrahim A.S”. Sontak seluruh mahluk yang ada disana langsung tertawa.

“Dengan air sedikit itu, mana mungkin akan memadamkan api yang begitu besar”. ujar burung.

“Walaupun tidak akan memadamkan api itu, setidaknya saya telah memilih untuk berdiri di pihak yang mana, sepahit apa keadilan itu, saya tetap berada disana”. Seluruh mahluk yang berada disana langsung terdiam oleh perkataan semut. Semuanya saling berbisik-bisik merenungkan perkataan semut tadi.

Mahasiswa Seharusnya. 

Dari penggalan kasus tersebut sehendaknya mahasiswa yang berada dimanapun dapat merefleksikan bersama. Kenapa harus mahasiwa? Pertanyaan itu mungkin mengawang di samudera pikiran kita. Mengapa diharuskan kepada ke mahasiswa, bukan kepada siswa SMA, atau yang lainnya.

Jawabannya terletak dimana posisi mahasiswa dalam masyarakat. Pertama, mahasiwa adalah seorang yang telah berfikir matang atau dewasa, dan memiliki ilmu pengetahuan. Kedua, mahasiwa sebagai pondasi perubahan di Indonesia. Dari sumpah pemuda, kemerdekaan, Orde lama, Orde baru, dan terakhir Reformasi.

Dari jawaban itu bisa kita korelasikan dengan cerita di atas. Mahasiswa seharusnya sebagai obat dari kerisauan yang terjadi dalam masyarakat. Berpikir mahasiswa seharusnya keadilan. Kedua kakinya telah menapakkan pada keadilan. Apapun yang telah terjadi setidaknya mahasiswa harus menunjukkan sikap dan bersuara dengan ketidak-adilan. Jangan berfikir kalau ketidak-adilan tersebut berubah secara cepat. Lihatlah kisah si semut itu, walaupun air itu tidak bisa memadamkan api yang membakar Ibrahim A.S. Tapi setidaknya dengan setetes air dari semut telah mengurangi besarnya api.

Oleh karena itu, karena ketidak-adilan tidak bisa dirobah secara cepat. Maka mahasiswa hendaknya selalu memukul secara terus menerus (memukul itu bisa dalam bentuk apapun, jangan hanya terfokus pada satu bentuk). Walaupun pukulan yang kita berikan masih belum terasa diawalnya. Tapi dengan pukulan secara terus menerus sebuah objek yang kita pukul, akan dapat menyakitkan dan akhirnya meruntuhkan sekuat apa itu pertahanan ketidak-adilan yang terjadi.

Mahasiswa Harusnya Seperti Semut di Kisah Nabi Ibrahim A.S Reviewed by on . Ditulis oleh : Diki Rafiqi. Mahasiswa dan Anggota LAM&PK FH-UA. Saya teringat dengan sebuah dongeng seekor semut di masa nabi Ibrahim A.S. Dimana pada masa Ditulis oleh : Diki Rafiqi. Mahasiswa dan Anggota LAM&PK FH-UA. Saya teringat dengan sebuah dongeng seekor semut di masa nabi Ibrahim A.S. Dimana pada masa Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top