Rabu , 13 Desember 2017

Home » Seni Dan Sastra » Memori Batas Bau

Memori Batas Bau

April 17, 2016 2:48 pm Category: Seni Dan Sastra Leave a comment A+ / A-

Oleh: Mahda Zakiya Ahmad

Pimpinan Redaksi Gema Justisia

Sebuah sedan hitam melintas tepat di depanku, melewati genangan air dengan kecepatan sekitar 75 km/jam. Sial, percikan air itu mengotori bajuku. 15 menit lagi aku harus sudah sampai di sebuah kafe di salah satu pemukiman padat penduduk ini. Aku telah membuat janji dengan Glen untuk makan siang dengannya hari ini, tapi rasanya tidak mungkin dengan keadaan seperti ini. Gaun merahku sekarang terlihat kumal, persis seperti gadis kanibal di film serial pembunuhan berantai. Ini kali pertama aku bertemu dengan Glen, aku mengenalnya di jejaring media sosial, di foto dia terlihat tampan dan berusia sekitar 35 tahun. Awalnya aku ragu untuk memilihnya di awal musim ini, sebab kurasa aku tak terlalu membutuhkannya. Ah, tapi apa boleh buat, wangi tubuhnya selalu mengundangku untuk segera menemuinya.

Kulihat ia tengah sibuk memperhatikan jam tangannya dan sesekali menoleh ke belakang. Aku sudah sampai di depan kafe itu 10 menit yang lalu, tapi aku ragu untuk menemuinya. Gaunku masih terlihat basah dan kotor, rambutku juga jadi berantakan setelah terkena percikan air tadi. Akhirnya, aku memutuskan untuk menemuinya, berjalan perlahan ke meja nomor dua sambil melambai ke arahnya. Glen tersenyum kepadaku, sepertinya dia tak menyadari penampilanku yang berantakan hari ini. “Oh, jadi kamu yang namanya Nata?”, ucap Glen sembari menjabat tanganku. Sialnya, aku terlihat sangat gugup sekali di depan pria berambut pirang ini, “Hehe, aku boleh duduk?”, tanyaku pada Glen. “Oh yaa, tentu, silahkan Nata, kamu mau pesan apa?”, jawab Glen sembari menarwarkanku makan. “Tidak, aku sudah makan barusan, barangkali kopi panas saja”, jawabku.

Glen memanggil pelayan kafe tersebut dan meminta untuk segera dibuatkan pesanannya. Sebenarnya aku tidak terlalu tertantang dengan Glen, sebab dia terlihat seperti lelaki yang agak bodoh dan gampang dikibuli, stylenya juga agak aneh dan lucu. Hanya saja aku begitu tertarik dengan wangi tubuhnya. Aku pernah mencium bau yang seperti ini, aromanya sedikit menggiurkan. Sebetulnya aku memiliki beberapa memori dengan bau ini, aku terseret ke beberapa tahun silam dengan perlambatan waktu sepersekian detik. Daaaar! Aku terhempas pada lantai licin dan lembab, penuh dengan genangan, entah mengapa perasaanku mendadak emosi, kesal dan bahagia.

Sepertinya ruangan itu adalah sebuah labor biologi, aku tertarik ke masa SMA-ku tepatnya di kelas 2.10. Aku dan Nina adalah sepasang berlian cemerlang bagi guru-guru kami, mengikuti berbagai olimpiade nasional dan internasional. Bedah membedah sudah menjadi keahlian kami. Seluk beluk organ tubuh bermacam-macam binatang adalah hal yang paling kami sukai. Entah kenapa aku begitu menyukai mencari tahu isi dibalik kulit-kulit dan cangkang itu, terlebih dikala musim hujan dan mendung seperti sekarang.

Ah, lamunan ini sudah membuatku semakin jauh dengan Glen. “Nata”, sapa glen memastikan kalau aku masih mendengarkannya. Aku kembali pada percepatan sepersekian detik dan semua memori itu hilang, “Eh iya, maaf Glen”, jawabku. Pandanganku langsung beralih pada cangkir kopi di depanku. Ternyata sedari tadi kopi ini sudah ada di hadapanku. “Nata, hal apa yang paling kamu sukai di dunia ini?”, tanya Glen mulai mencairkan suasana. “Aku tidak begitu tertarik dengan apapun kecuali dengan bebauan”, “Maksudmu?”,

“Aku ini mirip seperti penderita alzheimer, aku kesulitan mengingat kenangan-kenangan masa lalu”, “Berarti kau sama sekali tidak ingat dengan masa kecilmu?”, “Tergantung”, “Maksudmu?”, “Jika pada saat itu ada bau khas melekat dengan kejadian itu, maka aku akan ingat setiap detailnya” “Aneh, aku masih belum mengerti dan aku belum pernah mendengar yang seperti itu”, “Kau tau, aku sudah menghabiskan ribuan botol parfum untuk bisa menyimpan kenangan-kenanganku di masa lalu”, “Apa hanya bau parfum saja? “,

“Tidak, bau busuk, bau anyir, bau keringat, bau bangkai, dan bau-bau aneh lainnya, ketika aku mencium sesuatu dan bau itu persis seperti bau yang melekat pada kejadian masa laluku, maka syaraf-syaraf memori otakku akan bekerja dan langsung memicu perasaan sedih, gembira, kecewa, benci, dendam, takut, tergantung pada peristiwa apa yang aku alami pada saat itu”, “Lalu, apa kau ingat setiap detailnya?”,

“Awalnya ingatan itu hanya seperti bayangan hitam saja, kadang seperti melintas, seperti halusinasi, aku tau kalau ada beberapa orang dalam peristiwa itu, namun aku tidak bisa merangkai garis-garis wajahnya, ketika aku mencium untuk yang ketiga kali dan keempat kalinya, aku akan ingat setiap incinya, baju apa yang aku kenakan saat itu, siapa saja yang kutemui hari itu, tulisan-tulisan apa saja yang aku lihat di tempat itu, bahkan aku ingat warnanya dan bentuknya”,”Apa itu tidak bisa disembuhkan?”,

“Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, hanya saja untuk membuat syaraf-syaraf ingatan itu berfungsi kembali aku harus mencium bau yang persis dengan bau yang ada pada kejadian itu”, “Jadi, kau selalu punya cadangan botol parfum yang kau gunakan sejak kecil di rumahmu?”, “Tepat sekali, aku masih menyimpan Carolina Herrera keluaran 1998 yang pernah aku pakai saat aku pergi ke acara ulang tahun temanku semasa SD dulu, hari yang sangat menyebalkan, sayangnya aku kehilangan beberapa memori karena wangi parfum tersebut sudah berbeda”, “Apa kau hanya terpicu dengan bebauan seperti bau dari parfum-parfum yang kau miliki?”,

“Tidak, ketika aku berjumpa, bersenggolan, bertatap muka, berjabat tangan, berpelukan dengan seseorang yang memakai parfum yang identik dengan yang pernah aku gunakan dulu, maka syaraf-syaraf ingatanku akan berfungsi kembali, ketika itu aku akan terhenti dan mengendus-endus beberapa kali seperti anjing pelacak untuk memastikan bahwa aku telah memberi label tersendiri untuk bau itu di memoriku”, “Jadi, itu sebabnya kau tadi terdiam, sampai-sampai kau tidak sadar kalau kopi panasmu sudah diantar?”, “Hehe, sepertinya begitu, sudahlah lebih baik kita minum saja”.

Aku pun mulai mengalihkan pembicaraan, “Kelihatannya kau pria yang cerdas, apa kau dulu pernah ikut olimpiade internasional?”, “Tentu belum bisa dikatakan cerdas, karena aku masih merasa belum puas dengan pencapaian ku saat ini, tapi tunggu dulu, dari mana kau tau aku pernah mengikuti olimpiade?”, “Haha, jangan terlalu serius, aku hanya melihat di jejaring sosialmu”, “Loh, aku kira kamu juga bisa melihat ingatan orang lain”,

“Sebetulnya batas antara kita dan orang lain itu hanyalah diri kita sendiri, meskipun kamu tidak pernah menyampaikan sepatah katapun, jika kamu menekan ingatanmu ke alam bawah sadar dan secara batiniah mentransformasikan data-data tentang kejadian yang kau alami pada orang yg ada di hadapanmu, maka hal itu bukanlah sesuatu yang sulit, “Jadi, maksudmu, aku baru saja mentransformasikan data-dataku padamu? “,

“Hahaha, Glen, kan aku sudah bilang, jangan terlalu serius, aku hanya mencari tahu dari akun media sosialmu, yang aku katakan tadi hanya teori saja, “Apa kau pernah belajar filsafat?”, “Sejujurnya aku suka filsafat, aku punya beberapa koleksi buku tentang itu, aku juga selalu mencari tau tentang penyakitku ini yang tidak bisa dijelaskan secara ilmu kedokteran, namun entah kenapa setiap selesai membaca buku-buku itu kepalaku menjadi sangat pusing. “Apa kau punya binatang peliharaan?” “Tentu saja, anjing, aku sangat membutuhkan anjing, dia sangat membantuku ketika aku lupa dimana aku menaruh barang-barangku”,

“Kau orang yang begitu antusias Glen, jiwamu penuh ambisi”, “Benar, aku selalu ingin tahu dan aku tidak akan berhenti sebelum aku mengetahui hal itu, “Sebab itu kau menemuiku?”, “Yaa, aku akan mencari tau tentang penyakitmu ini”, “Aku pernah punya seorang teman sepertimu yang selalu punya mimpi besar, dia rajin, pintar, dan juga ambisius sepertimu”, “Maksudmu Nina?”, “Yaa, dia teman terdekatku semasa SMA, sayangnya dia sudah tidak di sini lagi”, “Maksudmu dia pindah keluar kota?”, “Tidak, dia sudah tidak di dunia ini lagi”,

“Oh, maaf Nata”, “Tidak apa-apa Glen, aku pernah bertengkar hebat dengannya, suatu hari kami ikut dalam olimpiade sains nasional, kami berdua jadi utusan, kami masuk pada babak final, sehari berikutnya namaku keluar sebagai pemenang, Nina yang mengetahui hal itu sangat marah dan kesal kepadaku, sejak itu dia tak pernah menyapaku lagi, beberapa minggu kemudian dia mendatangiku dan kami bertengkar hebat”, “Maaf Nata, apa kau menyesal dengan kejadian itu?”, “Tidak, aku tidak pernah menyesali sesuatu yang terjadi karena hal yang tidak ku inginkan”, “Tunggu, kenapa kau bisa ingat dengan kejadian itu, apa bau yang melekat pada kejadian itu juga ada pada saat ini?”, “Yaa, aku rasa begitu”

Aku semakin tidak karuan dengan bau tersebut. Baunya semakin menyengat dan semakin menekan memoriku untuk memutar ulang kejadian di labor biologi pada hari itu. Aku benci, aku benci sekali dengan bau ini, bau ini membuatku terbawa emosi. Nampaknya Glen masih kebingungan dengan penjelasan-penjelasan yang kuberi tadi. Ia memutar-mutar sendoknya dan menatap tajam ke arahku. “Mengapa kau melihatku seperti itu?”.

“Tidak apa-apa, aku terpikir untuk melakukan penelitian dengan kasusmu ini”. “Maaf Glen, aku rasa kita bertemu bukan untuk membahas soal itu”, “Betul Nata, tapi aku sangat penasaran dengan apa yang kau alami ini dan aku berharap aku bisa membantumu”, “Tak perlu Glen, sejauh ini, aku merasa baik-baik saja, aku tidak kehilangan ingatanku, aku juga bisa menceritakan kenangan-kenanganku seperti orang lain”, “Hhmm”. Glen bangkit dari kursinya dan tiba-tiba dia merintih, “Ah, sial!

“Kenapa Glen?”, “Aku tak sadar kalau dari tadi luka di perutku ini terbuka kembali, lihat, bajuku telah dipenuhi dengan darah”. Sontak aku kaget, ternyata bau ini yang kucari-cari dari tadi . “Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja?”, “Ya, sebaiknya begitu, aku takut lukanya semakin parah”, “Ngomong-ngomong darimana kau mendapatkan luka itu?”, “Sebaiknya kita ke rumah sakit dulu, nanti akan ku ceritakan”. “Baiklah”. Glen pun mengambil mobilnya dan kami melesat ke rumah sakit. “I got you Glen!”

Memori Batas Bau Reviewed by on . Oleh: Mahda Zakiya Ahmad Pimpinan Redaksi Gema Justisia Sebuah sedan hitam melintas tepat di depanku, melewati genangan air dengan kecepatan sekitar 75 km/jam. Oleh: Mahda Zakiya Ahmad Pimpinan Redaksi Gema Justisia Sebuah sedan hitam melintas tepat di depanku, melewati genangan air dengan kecepatan sekitar 75 km/jam. Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top