Rabu , 13 Desember 2017

Home » Sosok » Sepenggal Kisah Pahlawan Emansipasi

Sepenggal Kisah Pahlawan Emansipasi

April 21, 2016 2:12 pm Category: Sosok Leave a comment A+ / A-

Ibu kita Kartini, putri sejati
putri Indonesia, harum namanya

ibu kita Kartini, pendekar bangsa
pendekar kaumnya untuk merdeka”

…..

Sepenggal lirik lagu di atas selalu mengingatkan kita akan sosok pahlawan emansipasi wanita negara ini, Raden Ajeng Kartini. Siapa yang tidak kenal dengan Kartini, wanita keturunan ningrat kelahiran JeparaJawa Tengah21 April 1879 yang lebih dikenal dengan nama R.A Kartini. Beliau adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Wanita tangguh ini adalah anak ke-5 dari 11 saudara kandung dan tiri. Ia merupakan keturunan ningrat, ayahnya yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan seorang bupati Jepara. Kartini adalah putri dari istri pertama ayahnya, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwono VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Sejak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Pada masa kecilnya Kartini dipanggil ayah/ibunya dengan nama “TRINIL” yaitu seekor burung yang lincah dan cekatan di daerah kediaman mereka pada masa itu, jadi nama panggilan itu sesuai dengan sikap dan perilakunya yang lincah, rajin, cekatan dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pada masa mudanya Kartini termasuk anak yang pandai, suka belajar dan bergaul dengan teman sebayanya, bahkan pada masa itu Kartini mendapat kesempatan dan diperbolehkan sekolah di Europese Lagere School (ELS) sampai usia 12 tahun. Setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah (dipingit). Keluarganya yang memegang teguh adat lama, tidak menyetujui keinginan Kartini yang menghendaki perubahan. Kartini hanya bisa mencurahkan cita-cita perjuangannya dalam bentuk surat. Ia rajin menulis surat kepada teman-temannya di Belanda. Isi surat tersebut mengandung cita-cita yang luhur, terutama untuk mengangkat derajat wanita Indonesia. Wanita yang pandai berbahasa belanda ini juga melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berasal dari Belanda tersebut ,satu diantaranya adalah Rosa Abendanon, yang banyak mendukungnya dan memberinya berbagai saran dan masukan, pengetahuan dan ide-ide. Kartini juga banyak membaca berbagai macam buku-buku, koran, majalah dan bacaan lainnya yang kesemuanya berbahasa belanda dan buku-buku itulah yang mempengaruhi hati dan pikirannya untuk memberontak kepada kekejaman Belanda terhadap masyarakat jawa dan kekejaman adat dan tradisi jawa kepada anak perempuan.

Buku yang paling mempengaruhi dan menggugah hati Kartini masa itu adalah Minnebrieven Dan Max Havelaar karya Multatuli yang berisi tentang:  Orang Jawa Dianiaya, Aku akan Menghentikannya, Tugas Manusia ialah Menjadi Manusia.

Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paketan majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil juga sering menulis beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Melalui surat-surat yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil, dan tak jarang juga dalam suratnya Kartini menyebut judul sebuah karangan atau hanya mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca. Kartini sempat mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda karena tulisan-tulisan hebatnya, namun ayahnya saat itu memutuskan Kartini harus menikah. Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dipaksa menikah dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sebelumnya sudah memiliki istri. Namun ternyata suaminya itu sangat mengerti cita-cita Kartini dan memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Hanya empat tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya empat hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun, tepatnya tanggal 17 September 1904.

Wafatnya Kartini tidak serta-merta mengakhiri perjuangan R.A. Kartini semasa hidupnya karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” yang diterbitkan pada tahun 1911 atau yang lebih dikenal Indonesia dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Hidup itu akan indah dan berbahagia apabila dalam kegelapan kita melihat cahaya terang”

Sepenggal kalimat yang diambil dari buku tersebut mampu memberikan arti dan spirit tersendiri dalam perjuangan bagi generasi penerus bangsa khususnya kaum perempuan untuk meraih mimpi-mimpi dan cita-cita.

*jar

Sepenggal Kisah Pahlawan Emansipasi Reviewed by on . “Ibu kita Kartini, putri sejati putri Indonesia, harum namanya ibu kita Kartini, pendekar bangsa pendekar kaumnya untuk merdeka” ..... Sepenggal lirik lagu di a “Ibu kita Kartini, putri sejati putri Indonesia, harum namanya ibu kita Kartini, pendekar bangsa pendekar kaumnya untuk merdeka” ..... Sepenggal lirik lagu di a Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top