Rabu , 13 Desember 2017

Home » Sosok » Si Jenius Habibie dengan Kisah Cinta Sepanjang Masa

Si Jenius Habibie dengan Kisah Cinta Sepanjang Masa

April 19, 2016 4:57 pm Category: Sosok Leave a comment A+ / A-

Berbicara tentang sosok Prof.Dr.-Ing.H.Bacharuddin Jusuf Habibie (Lahir di Parepare, 25 Juni 1936), tentunya tidak akan lepas dari indahnya kisah cinta dan kehidupan yang penuh dengan prestasi. Kisah cintanya yang begitu romantis pernah diangkat ke dalam sebuah novel dan film yang begitu fenomenal. Presiden ketiga Republik Indonesia ini adalah salah satu tokoh panutan dan kebanggaan banyak orang.

Di masa kecil, Habibie sangat gemar menunggang kuda dan membaca. Ketika masih menduduki bangku Sekolah Dasar (SD), ia sudah dikenal sebagai murid yang sangat cerdas. Namun sayang, pada tanggal 3 September 1950 ia harus kehilangan ayahnya yang meninggal dunia karena serangan jantung. Kemauannya untuk belajar, membuat Habibie bisa mencapai mimpinya untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Memasuki masa SMA, beliau mulai menonjolkan prestasinya dalam pelajaran-pelajaran eksakta, khususnya di bidang fisika.

Habibie pun beranjak dewasa. Setelah ia tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1954, Habibie melanjutkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik mesin. Tidak sampai tujuh bulan lamanya ia berkuliah, kemudian ia berhenti dan melanjutkan studinya di Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule–Jerman pada tahun 1955 dengan biaya dari ibunya R.A. Tuti Marini Puspowardoyo. Di sana ia memilih jurusan teknik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat terbang dengan alasan ingin merealisasikan amanat dari Bung Karno tentang pentingnya dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia.

Habibie muda menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 nya di Aachen-Jerman berkat beasiswa yang ia dapatkan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pada musim libur kuliah, Habibie tidak bermalas-malasan melainkan memanfaatkan liburannya untuk mengikuti ujian dan mencari uang. Beliau mendapat gelar Diploma Ing dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5 dan mendapat gelar insinyur. Kemudian beliau mendaftarkan diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman.

Pada saat itu, Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.

Mantan Presiden Republik Indonesia ini melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Habibie lalu menciptakan sebuah rumus yang dinamai “Faktor Habibie” karena bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia di juluki sebagai “Mr. Crack”. Pada tahun 1967 beliau menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.

Setelah puas berkelana, si tampan putra kebanggaan Indonesia ini akhirnya kembali ke Indonesia. Selama di NKRI, Habibie pernah menduduki berbagai jabatan diantaranya, 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, sampai pada puncaknya ia disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia ke 3. Ditengah perjalanannya menduduki kursi kepresidenan, ia dipaksa turun dari jabatannya akibat referendum Timor Timur yang memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Akhirnya beliau pun kembali menjadi warga negara biasa dan kembali ke jerman.

Sosok suami yang setia, idealis dan tidak gila kekuasaan melekat pada diri seorang Habibie. Mantan presiden Republik Indonesia ini menikahi seorang wanita bernama Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962. Selama lebih kurang 48 tahun membina rumah tangga dengan Ainun, tidak pernah terdengar kabar tentang keretakan rumah tangga mereka. Cinta, pengorbanan dan kasih sayang mampu membuat pasangan ini menjadi inspirasi berjuta pasang insan di bumi pertiwi ini. Memasuki tahun 2010, kondisi kesehatan Ainun mulai menurun dikarenakan penyakit kanker ovarium yang dideritanya. Pada tanggal 22 Mei 2010, Hasri Ainun Habibie, meninggal di Rumah Sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum, Muenchen, Jerman. Ia meninggal pada hari Sabtu pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB. Pada hari itu, Habibie telah kehilangan cinta sejatinya, meskipun jiwa dan raga Ainun telah hilang untuk selama-lamanya, namun cinta Habibie pada Ainun tetap hidup untuk selama-lamanya.

Sedikit kutipan puisi cinta Habibie,“Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini”

 

By: Indah Yolanda Fitri

Si Jenius Habibie dengan Kisah Cinta Sepanjang Masa Reviewed by on . Berbicara tentang sosok Prof.Dr.-Ing.H.Bacharuddin Jusuf Habibie (Lahir di Parepare, 25 Juni 1936), tentunya tidak akan lepas dari indahnya kisah cinta dan kehi Berbicara tentang sosok Prof.Dr.-Ing.H.Bacharuddin Jusuf Habibie (Lahir di Parepare, 25 Juni 1936), tentunya tidak akan lepas dari indahnya kisah cinta dan kehi Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top