Minggu , 22 April 2018

Home » Peristiwa » Urgent : Butuh Desakan Kita Bersama !

Urgent : Butuh Desakan Kita Bersama !

Januari 17, 2018 2:56 pm Category: Peristiwa Leave a comment A+ / A-

Hentikan teror, Kekerasan dan Kriminalisasi Masyarakat Adat Nagari di Salingka Gunung Talang, Solok Sumatera Barat.

Anak nagari di salingka Gunung Talang terutama di nagari Batu Bajanjang dan Nagari Kampuang Dalam Kabupaten Solok, Sumbar resah setelah mendengar isu bahwa Kepolisian Daerah Sumbar akan menurunkan puluhan kompi aparat kepolisian ke lapangan.

Anak nagari Kampung Batu Dalam, anak nagari Batu Bajanjang bersama anak-anak nagari di selingkar Gunung Talang saat ini sedang berjuang mempertahankan lahan dan kelestarian Gunung Talang dari rencana projek Geotermal.

Gunung Talang adalah gunung api aktif dan wilayah sekitar gunung talang adalah kawasan pertanian masyarakat. Penghasil sayuran terbesar yang memenuhi kebutuhan masyarakat Sumbar, Riau dan Jambi. Sawah-sawah masyarakat di belasan nagari yang menghasilkan BERAS SOLOK yang terkenal bergantung pada air dari Gunung Talang.

Kawasan ini juga ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Kawasan Hutan Lindung yang memiliki fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan memelihara kesuburan tanah. Di kawasan inilah Geotermal hendak dibangun.

Pada 2017 datang PT. Hitay Daya Energy akan membangun proyek Pembangkit Geothermal/panas bumi dengan izin dari BKPM seluas 27.000 Ha untuk jangka waktu 37 tahun. Saat ini Perusahaan sudah melakukan proses eksplorasi.

Geotermal selama ini selalu digadang-gadang sebagai clean energy, dibandingkan batubara mungkin benar Geotermal lebih clean, akan tetapi tidak berarti Geotermal tidak membawa dampak. Dengan berbagai argumentasi dan juga pertimbangan, serta studi banding ke wilayah lain masyarakat menolak Pembangunan Geotermal di Gunung Talang tersebut. Keberadaan Geotermal dikhawatirkan akan berdampak kepada pengurangan debet air Gunung Talang. Masyarakat atas inisiatif sendiri melakulan studi lapangan dan melihat langsung Geotermal yang ada di Solok Selatan. Berbicara langsung dengan masyarakat disekitar Geotermal dan melihat bagaimana air menyusut setelah proyek Geotermal di Solok Selatan. Jika ini terjadi di Gunung Talang maka nasib masyarakat yang bergantung dari pertanian akan terancam. Sawah-sawah masyarakat pun terancam kehilangan sumber air.

Apalagi masuknya perusahaan tanpa sungguh-sungguh dikomunikasikan kepada anak nagari secara layak. Memaksakan anak nagari (masyarakat) untuk menerima proyek adalah cara-cara tidak berbartabat dan merendahkan harkat dan martabat anak nagari di sekitar Gunung Talang sebagai manusia dan warga negara yang dijamin hak-haknya.

Walau mendapat penolakan yang sangat besar dari warga, perusahaan tetap berkeras masuk ke lahan. Pada 20 November 2017 pihak perusahaan datang diam-diam dan masuk dengan dikawal oleh 5 orang TNI Angkatan Laut bersenjata lengkap laras panjang serta 5 orang anggota Dandim Lembang Jaya. Warga pun kecewa dan marah, hingga ribuan orang spontan datang dan berkumpul serta mengepung rombongan tersebut. Saat itu dijanjikan Bupati akan datang ke lokasi, tapi ternyata tidak datang juga. Setelah masyarakat menunggu, tetapi tidak ada perkembangan juga, hingga situasi tidak terkendali dan terjadi pembakaran mobil perusahaan.

Kepolisian kemudian mengusut peristiwa pembakaran ini. Tapi proses-proses yang berjalan patut diduga tidak benar-benar objektif. Orang-orang yang disasar jelas bukan soal pembakaran mobil tetapi lebih tokoh masyarakat yang bergerak untuk melakukan penolakan. Satu orang ditangkap pukul 2 dini hari di tanggal 29 Desember 2017 oleh tim Kepolisian Daerah Sumatera Barat didampingi Wali Nagari. Malam itu juga langsung di BAP dan ditahan hingga sekarang, 6 orang DPO. Pemanggilan-pemanggilan masyarakat terus berlanjut.

Jamilus Salah satu orang yang mengalami, meski tidak ada dilokasi pembakaran mobil, ia dipanggil dan diperiksa sebagai saksi pada 8 Januari 2018. Sejak pukul 13.00 diperiksa dan didampingi oleh Penasehat Hukum dari LBH Padang hingga pukul 21.00 WIB. Setelah pemeriksaan selesai, justru Penyidik dan Kasubdit I Direskrimum Polda Sumbar Alidison, SH., M.H. tidak mengizinkan Jamilus sebagai saksi untuk pulang, dan tanpa alasan hukum menahan saksi selama 1 x 24 jam, setelah diperingatkan oleh penasehat hukum bahwa ini melanggar KUHAP, penyidik kemudian mengeluarkan surat perintah penangkapan dan menetapkan Jamilus sebagai Tersangka. Bahkan kemudian penyidik memaksakan terus memeriksa tanpa pendampingan dari Penasehat Hukum. Jamilus diperiksa oleh Polisi, tidak untuk ditanyakan perihal pengrusakan dan pembakaran mobil tetapi lebih banyak mengarah kepada soal mengapa menolak geothermal, siapa yang ikut rapat-rapat, siapa yang menolak. Ia dipaksa untuk ditangkap dalam statusnya sebagai saksi hingga kemudian ditersangkakan. Keesokan harinya, ketika hendak dilepaskan Polisi meminta kembali surat penangkapan yang telah dikeluarkan.

Kamis, 11 Januari Ketua KAN Kampung Batu Dalam, Ketua BMN Nagari Kampung Batu Dalam bersama 3 orang lainnya mendatangi Polda Sumbar untuk mengupayakan agar Kacak tidak ditahan. Sepulang dari Polda, rombongan ini bertemu dengan Wali Nagari Kampung Batu Dalam. Kepada mereka Wali Nagari Kampung Batu Dalam menyampaikan informasi bahwa Polda akan menurunkan 10 Kompi Aparat Kepolisian ke nagari.

Informasi ini seketika meresahkan anak nagari. Apalagi sampai saat ini pemanggilan tokoh-tokoh pejuang masyarakat yang menolak Projek Geotermal terus berlanjut. Terakhir Dua orang pejuang lagi dipanggil dan diperiksa pada Kamis ini, 18 Januari 2018.

Masyarakat terutama perempuan, istri-istri, para ibu merasa tertekan dan terancam. Baik mereka, suami dan anak-anaknya setiap saat dapat saja dipanggil oleh kepolisian dituduh melakukan pembakaran ataupun penghasutan. Hingga saat ini intel-intel berseliweran di lokasi, rapat-rapat masyarakat diinteli, orang-orang yang ikut dalam rapat-rapat dipanggil dan dituduh melakukan penghasutaan. Jamilus mungkin hanya akan menjadi salah satunya.

Mohon bantuan rekan-rekan untuk bersama-sama menegur Polda Sumbar untuk menghentikan kriminalisasi ini. Agar Polda tidak melakukan langkah-langkah yang menyulut situasi kekerasan dan situasi tidak kondusif lainnya di Gunung Talang. Mereka hanyalah pejuang atas lahan, pejuang untuk masa depan Gunung Talang bagi anak cucu dimasa mendatang. Menyampaikan pendapat adalah hak mereka dan suara mereka layak untuk didengar !!!!!!!

*Kirimkan pesan dan protes ke* :

• Kapolda Sumatera Barat Inspektur Jenderal Polisi Drs. Fakhrizal, M.Hum. : 0811148586
• Kasubdit I Direskrimum Polda Sumbar Alidison, SH., M.H. : 081378901262

• Kapolri Jend Pol Tito Karnavian : 08114871964

*Tembusan ke*
• Direktur LBH Padang : Era Purnamasari : 0812-1032-2745

Urgent : Butuh Desakan Kita Bersama ! Reviewed by on . Hentikan teror, Kekerasan dan Kriminalisasi Masyarakat Adat Nagari di Salingka Gunung Talang, Solok Sumatera Barat. Anak nagari di salingka Gunung Talang teruta Hentikan teror, Kekerasan dan Kriminalisasi Masyarakat Adat Nagari di Salingka Gunung Talang, Solok Sumatera Barat. Anak nagari di salingka Gunung Talang teruta Rating: 0

Leave a Comment

scroll to top